Tulisan ini berjudul “5 Permainan Ini, Kala Itu Kami Mainkan”. Sebab ini sebenarnya pengalaman pribadi penulis semasa kecil, yang lahir dan besar di pulau Madura, tepatnya di Kabupaten Pamekasan. Di ruang kerja yang mulai membosankan, saya memikirikan apa sekiranya hari ini yang bisa saya tulis dan bagikan. Kemudian tetiba terlintas ingatan nostalgia masa kecil.

Memang ditengah kepenatan pikiran perihal tanggungjawab dan pekerjaan yang menumpuk serta menjemukan, merupakan sebuah terapi sendiri, yaitu lari pada ingatan masa kecil. Saat kita bebas bersenda gurau dengan teman sebaya, bertualang dari desa ke desa yang lainnya dan memainkan permainan tradisional yang mungkin saat ini sudah mulai ditinggalkan oleh anak-anak zaman sekarang.

Dari hasil mengingat permainan tersebut. Kurang lebih saya dapatkan beberapa permainan berikut, yang dirangkum dalam lima permainan yang kala itu pernah kami mainkan :

sumber Ilustrasi

Main Leker

Leker adalah bola kecil yang terbuat dari bahan kaca marmer. Sebenarnya Leker adalah sebutan kelereng bagi kami di Madura, sedangkan di daerah lain barangkali dikenal dengan nama-nama berbeda, semisal: gundu, guli, keneker, thes dan kelici. Selain ukurannya yang bermacam-macam, kelereng juga memiliki warna yang sangat variatif.

Barangkali untuk cara bermainnya juga bervariatif. Namun di daerah saya untuk main Leker ini, kita harus menyiapkan arenanya terlebih dahulu dengan cara menggambar segi tiga di tanah dengan ukuran seperlunya. Kemudian anak-anak yang bermain bergantian melempar kelereng dari garis lempar yang ditentukan, yang sebagai target adalah arena segitiga yang di gambar di awal.

Aturannya begini, bagi siapa yang lemparannya paling mendekati garis luar dari gambar segitiga yang dibuat, dia berkesempatan dapat giliran membidik lawan-lainnya dan bagi lawan yang terkena bidik, berarti dinyatakan kalah. Begitupun seterusnya. Sialnya, bagi siapa yang masuk kedalam garis bentuk segi tiga tadi, dia mendapatkan hukuman giliran membidik terakhir. Bahkan sialnya bisa menjadi target bidik pertama, sebab paling dekat dengan garis luar segi tiga.

Sumber Ilustarasi

Tok Seltoan

Barangkali nama dari permain ini terinspirasi dari bunyi yang tercipta dari permainnan ini, yaitu “Tok”. Kemudian dimainkan berulang kali sehingga terjadi pengulangan penyebutan menjadi Tok Seltoan. Itu hanya praduga ngawur saya sih 🙂

Permainan ini sendiri memanfaatkan cabang bambu yang dibentuk dan dibuat sedemikian rupa agar bisa menjadi bak senjata yang nantinya menghasilkan suara yang saya jelaskan di atas. Biasanya untuk amunisi atau pelurunya memakai kertas basah atau biji-bijian dari tumbuhan liar yang sesuai dengan lubang cabang bambu yang dibentuk tadi.

Sumber Ilustrasi

Thung Sapitung

Nama permainannya terdengar aneh jika dingat-ingat sekarang. Tapi ya itulah nama permainannya.

Sebelum permainan ini dimulai, sebenarnya juga ada kidung yang dinyanyikan. Setelah kidung selesai dinyanyikan, peserta permainan ini harus diam seperti patung. Bagi yang ketahuan tidak tahan diam atau bergerak, maka dia kena hukum mengejar yang lain. Pemain lainnya pun diwajibkan berlarian menggoda peserta yang kena sangsi.

Permainan Thung Sapitung ini adalah permainan kerjar-kejaran seperti pada umumnya. Dan bagi siapa yang terkena sentuh oleh yang bertugas mengejar, dia harus diam layaknya patung sampai ada pemain lain mendekati serta menyentuhnya. Dan jika semua sudah terkena sentuh oleh si pengejar, maka si pengejar bebas memilih siapa yang akan jadi pengejar selanjutnya.

Yang sangat saya sesali di sini adalah bahwa saya ternyata lupa kidung-kidung awal yang harus dinyanyikan dalam permainan ini, barangkali lirik yang saya ingat hanya begini :

“Thung sapitung (. .lupa . .)
. . . . cekak kabbi . .”

Oleh karena itu sepertinya, bagi para pembaca yang mungkin juga pernah memainkan dan juga ingat, saya tunggu sharingnya di kolom komentar. 🙂

Sumber Ilustrasi

Terjang

Terjang adalah permainan sejenis petak umpet. Namun uniknya dari permainan ini adalah cara awal memainkannya. Di mana sebelum memulia permainna ini, kita harus mengumpulkan potongan genteng atau keramik lantai sebanyak 10-12 pcs. Nah, dari potongan-potongan yang kita siapkan inilah nantinya disusun, sebagaimana menyusun menara.

Setelah susunan menara ini jadi, kemudian peserta permainan ini bergantian dari titik menara disusun melemparkan batu lempar yang harus disiapkan para peserta. Aturannya begini: peserta melempar ke arah depan dari posisi menara, lemparan bebas dan bagi lemparan siapa yang paling depan (mendekati menara), maka mendapat giliran terakhir mengempur menara. Dan tentunya yang pertama mengempur menara adalah batu lempar yang berada di urutan paling belakang.

Pemain yang dinyatakan kalah adalah pemain yang batunya ada di urutan paling depan dengan catatan, batu-batu lempar urutan sebelumnya berhasil menghancurkan susunan menara. Namun jika sampai lemparan terakhir ternyata yang bisa menggempur menara hingga hancur adalah pelempar terakhir (paling depan). Maka yang kalah dan menjaga menara adalah pelempar pertama (paling belakang).

Dan setelah menara berhasil dihancurkan, yang dinyatakan kalah harus segera menyusun menara dari potongan keramik atau genteng dan pemain lainnya harus mencari tempat bersembunyi dalam kurun waktu selama pemain yang kalah menyusun menara. Pun nantinya ada pemain yang ditemukan tempat persembunyiannya, pemain yang kalah harus tetap waspada terhadap pemain lainnya. karena pemain yang belum ditemukan persembunyiannya bisa menyelamatkan pemaian lain yang sudah ditemukan dengan cara menerjang menara yang telah disusun oleh si pemaian yang kalah tadi.

sumber Ilustrasi

(Lupa nama Permainannya)

Nah, untuk yang ini saya malah lupa nama permainnya di daerah saya. Tapi kalo di Jawa Timur secara umum, permainan ini dikenal dengan nama “Patil Lele”. Akan tetapi meskipun saya lupa, tetap ingin saya tulis, karena permainan ini tak kalah seru dari permainan-permainan sebelumnya.

Jadi permainan ini dimainkan dengan cara menyiapkan dua tongkat dari kayu dengan ukuran yang berbeda. Ukuran kayu pertama panjangnya sekitar 25cm dan ukuran kayu kedua sekitar 65cm. Selanjutnya menyiapkan lubang di tanah berbentuk oval dengan kedalam yang seukupnya (tidak dalam) sebagai tempat kayu yang berukuran kecil (25cm) diletakkan.

Nantinya ada berbagai tahapan atau level dari permainnya ini, mulai dari dicungkil, dipukul, dan dilempar. Mungkin jika penasaran, tretan satheje bisa baca cara bermain lengkap permainna ini. yang intinya permainna ini benar-benar melatih ketangkasan kita.

Nah, itu tadi beberapa permaian masa kecil yang dapat saya catat. Sebenarnya masih ada beberapa lainnya yang ingin saya tuliskan juga. Namun karena ada pekerjaan lain yang harus saya lanjutkan. jadi, kita lanjut sharing-sharingnya di lain waktu.

Ditulis : Ari Ghi, Perantau Madura yang sedang nyangsang di Jakarta.