Abdul Hadi WM
Abdul Hadi WM, Sang pelopor Sastra Sufi Indonesia (Foto: Salihara.org)

Tuhan,

Kita begitu dekat

Sebagai api dengan panas

Aku panas dalam apimu 

Tuhan,

Kita begitu dekat

Seperti kain dengan kapas

Aku kapas dalam kainmu

Demikian penggalan sajak berjudul Tuhan, Kita Begitu Dekat milik Abdul Hadi WM, sastrawan Indonesia yang banyak melahirkan karya satra bernapaskan sufistik. Sajak di atas menggambarkan kedekatan Tuhan sang pencipta dan manusia sebagai ciptaannya melalui metafora realitas alam.

Dalam khazanah sastra nusantara, karya sastra Hadi dikenal kerap bercerita tentang kesepian, kematian, waktu dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Tema yang diangkat Hadi mengajak pembaca untuk menyelami pengalaman religius yang ia rasakan.

Pengalaman religius yang mewarnai karya-karya sang sastrawan memang banyak dipengaruhi oleh latar belakang kehidupannya. Hadi lahir di kabupaten Sumenep, Madura yang lekat dengan budaya religius. Ayahnya bernama K. Abu Muthar, seorang saudagar keturunan Tionghoa yang juga guru bahasa Jerman. Sementara ibunya, R. A. Martiya adalah putri keraton Solo.

Sejak kecil Hadi sudah mengenal tulisan para pemikir seperti Plato, Sokrates, Imam Ghazali, Rabindranath Tagore, dan Muhammad Iqbal. Kecintaannya pada dunia puisi dan tulis menulis berlanjut ketika kuliah di di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada dan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Selama masa kuliah, ia banyak menulis puisi, esai dan pernah menjadi redaktur majalah mahasiswa hingga Balai Pustaka.

Abdul Hadi WM
Karya sastra Abdul Hadi WM (Foto: Nusantara News)

Pada Tahun 1979-1990, ia mengasuh lembaran kebudayaan “Dialog” di harian Berita Buana dan mengenalkan istilah “sastra sufi” atau “sastra sufistik”. Menurut pandangannya, sastra sufistik merupakan sastra yang tampil untuk selalu mengingatkan manusia atau pembacanya kepada Sang Pencipta.

“Pada masa awal itu, sufisme memang merupakan gerakan moral, akhlak, tapi kemudian menjadi gerakan sosial,” ujarnya, seperti dilansir Gatra. Ia menilai sufi sebagai kekayaan khazanah sastra yang merupakan warisan dalam sastra melayu di zaman Islam. Baginya, sastra sufi memiliki peran sebagai jembatan antara tradisi dengan kehidupan masyarakat kosmopolitan.

Berkat kontribusinya pada dunia sastra, Hadi menerima penghargaan Satyalancana Kebudayaan 2010 dan sejumlah penghargaan di bidang sastra. Selain aktif menulis dan mengajar, penikmat musik Beethoven dan The Beatles ini juga mendirikan sebuah pesantren bernama Pesantren An-Naba” di Sumenep bersama temannya, Zawawi Imron dan Ahmad Fudholi Zaini.

Daftar Karya Abdul Hadi WM:

  • Laut Belum Pasang, Litera, 1971
  • Potret Panjang Pengunjung Pantai Sanur, Pustaka Jaya, 1975
  • Meditasi, Budaya Jaya, 1976 (mendapat hadiah Buku Puisi Terbaik DKJ)
  • Anak Laut Anak Angin, Harapan, 1983
  • Modin Karok, (Cerita Rakyat Madura), Balai Pustaka, 1983
  • Keluarga Tikus (cerita anak-anak), Balai Pustaka, 1984
  • Kembali ke Akar Kembali ke Sumber: Esai-esai Sastra Profetik dan Sufistik (Pustaka Firdaus, 1999)
  • Islam: Cakrawala Estetik dan Budaya (Pustaka Firdaus, 1999)
  • Tasawuf Yang Tertindas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.