Ikatan Keluarga Besar Madura

Orèng medhureh atau orang Madura tidak hanya mereka yang mendiami pulau Madura saja. Tetapi mereka yang merantau bahkan memilih tinggal di tempat rantau pun, selama ia mewarisi darah Madura, ia tetaplah orang Madura. Kebanggaan dan semangat melestarikan kebudayaan Madura juga mereka emban di tanah rantau. Tanah nenek moyang boleh terpisah jauh, ratusan kilometer, tetapi kecintaan mereka pada Madura tak pernah luntur sekalipun.

Itulah kiranya yang mengawali sekelompok perantau Madura di Kalimantan Barat menginisiasi sebuah forum. Pada tahun 1995, kelompok masyarakat Madura yang merantau di berbagai daerah di Kalimantan Barat mendirikan Ikatan Keluarga Besar Madura (IKBM). Tujuannnya, terwujudnya masyarakat yang aman, maju dan sejahtera dalam tatanan sosial budaya yang majemuk.

Ikatan Keluarga Besar Madura

Ketua Harian IKBM, Nagian Imawan mengatakan kepada Narantau Madura, IKBM memiliki misi untuk mewujudkan kesetaraan sosial, politik, ekonomi dan budaya. Mendorong peningkatan taraf hidup menuju masyarakat yang sejahtera.

“Menjaga dan mengembangkan nilai budaya tradisional yang relevan dengan budaya lokal dan sistem nilai budaya modern. Mendorong interaksi sosial budaya secara adaptif dan dinamis serta menegakkan supremasi hukum.” ujarnya.

Kepengurusan inti IKBM Kalbar terdiri dari Ketua Umum Drs. H.Sukiryanto, Ketua Harian Nagian Imawan, Sekretaris Umum Fauzi S.Sos dan Bendahara Umum H. Rudi. Hingga saat ini IKBM sudah memiliki Sembilan cabang yang tersebar di beberapa kabupaten.

Diplomasi Budaya Madura dan Lokal

Ikatan Keluarga Besar Madura

Sejak didirikan pada 1995 silam, IKBM tak hanya fokus pada pengembangan anggotanya. IKBM berupaya mengenalkan kebudayaan Madura pada masyarakat lokal melalui beberapa kegiatan seperti IKBM Expo,  fashion show Batik Madura, Pencak Silat, Remoh/Ronggeng, ajang Lanceng Prabhen dan Karapan sapi.

IKBM juga melakukan diplomasi antar budaya untuk lebih dekat dan menjaga harmonisasi antar masyarakat Madura dengan masyarakat lokal. Misalnya pada ajang Lanceng Prabhen, pada penyelenggaraan perdana di tahun 2010, kepesertaan dibuka untuk umum/tidak hanya putra putri Madura.

“Dasar pemikirannya agar suku lain dapat terlibat langsung sehingga ada interaksi dan komunikasi antar budaya di situ. Saya ingin kebudayaan Madura diketahui dan dikenal oleh suku lain di Kalbar sehingga terjadi interaksi dan komunikasi budaya bisa saling menghargai.” papar nagian, yang juga inisiator dari ajang Lanceng Prabhen.

Nagian sendiri lahir dan besar di Kabupaten Sambas. Ibunya sudah kelahiran Kalbar sedangkan bapaknya kelahiran Bangkalan. Meski demikian, darah Madura yang mewarisinya melekat di dirinya.

“Saya pribadi sebagai orang Madura di Kalbar tidak merasa di rantau. Saya lahir, besar, sekolah, makan, minum dari tanah dan air yang tumbuh di sini. Udara yang ku hirup bahkan mungkin saya dipanggil ke haribaan Ilahi di bumi Kalimantan Barat.”

Dibangunnya Rumah Budaya Madura “Tanean Lanjhang”

Selain mengenalkan identitas budaya Madura melalui beberapa kegiatan kebudayaan, IKBM Kalbar juga mendirikan Rumah Budaya Madura. Rumah Budaya Madura dibangun dengan kekhasan rumah di Madura pada umumnya yaitu Tanean Lanjhang. Rumah Budaya Tanean Lanjhang (halaman panjang) merupakan representatif dari masyarakat madura yang sangat menjunjung tinggi nilai persaudaraan.

“Rumah budaya sengaja dibangun dengan swadaya untuk dijadikan pusat kegiatan dan kebudayaan Madura. Di mana saat peletakan batu pertama ketum menunjuk saya sebagai ketua panitia dan alhamdulillah sekarang sudah rampung dan diresmikan.”

Rumah Budaya Madura kini berdiri gagah di Jalan Selat Panjang II, Kecamatan Pontianak Utara. Kelak di tempat inilah generasi muda Madura di Kalimantan Barat akan terus melestarikan kebudayaan Madura yang adiluhung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.