Orang Madura sudah tentu bisa berbahasa Madura. Yakinkah Kamu dengan pernyataan ini? Kalau kamu salah satu yang meragukannya, kamu tidak sendiri. Sebab ternyata cukup banyak orang Madura atau mereka yang memiliki darah Madura tidak terlalu mengenal bahasa ibunya. Tidak hanya bagi mereka yang jauh dari tanah Madura, pun mereka yang tinggal di pulau Madura.

Bahasa Madura memang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan beberapa bahasa ibu di Indonesia. Bahasa yang mempunyai kurang lebih 14 juta penutur ini, memiliki perbedaan baik dari pelafalan, dialek, kosakata dan tingkatan bahasa di setiap daerahnya. Bahkan cara penulisannya pun sangat berbeda. Maka tak heran jika penggunaan bahasa Madura, khususnya di kalangan generasi muda menemui cukup banyak kendala.

Hal inilah yang kemudian melatarbelakangi seorang perempuan asal Kabupaten Sumenep, Nurul Fadhilah membuat media belajar bahasa Madura bernama Bermadura (Berbahasa Madura) di Instagram.

“Berawal dari kebutuhan diri sendiri ketika harus berkomunikasi menggunakan bahasa Madura tetapi mengalami kesulitan yaitu tidak mengetahui beberapa kosakata, terlebih soal penggunaan bahasa halus kepada orang yang lebih tua. Ketika harus membuka buku atau kamus teks rasanya malas karena tebal dan kurang efisien. Selain itu, melihat lingkungan sekitar juga mulai kurang familiar dengan bahasa Madura terutama para generasi muda.” ungkap perempuan yang akrab disapa Dela ini.

Dela pun berpikir bagaimana cara agar bahasa Madura menjadi sesuatu yang menarik dan dapat menggaet target utama (anak muda). Akhirnya, berangkat dari sesuatu yang hampir 24 jam tidak bisa dilepaskan dari kehidupan anak muda, yaitu gadget dan media sosial (instagram).

Bermadura pun digagas dan hadir sebagai sarana untuk mempertahankan keberadaan bahasa Madura agar tetap terjaga eksistensinya dan digunakan secara benar dalam konsep berbahasa. Selain itu, keberadaan Bermadura bertujuan untuk mengajak anak muda khususnya di Madura sebagai generasi penerus untuk tidak berhenti mencintai budayanya sendiri.

Mengantisipasi Ancaman Kepunahan Bahasa Madura

bahasa madura

Semakin sedikitnya penutur bahasa Madura, ancaman kepunahan di depan mata. UNESCO menyebutkan bahwa setiap 15 hari sekali bahasa daerah di Indonesia akan punah. Hal ini dikarenakan  adanya perkawinan campur, di mana ibu dan bapaknya tidak mengajarkan lagi bahasa daerah. Kemudian penutur-penuturnya  sudah mulai tua dan anak mudanya enggan menggunakan bahasa daerah.

“Saya pernah melakukan penelitian mengenai pertahanan dan pergeseran bahasa Madura untuk tugas kuliah beberapa waktu lalu. Dari situ saya mengetahui jika bahasa Madura mulai mengalami penurunan eksistensi. Terbukti dari minimnya pengetahuan penggunaan bahasa Madura yang benar serta kurangnya minat anak muda dalam menggunakan bahasa Madura pada kehidupan sehari-hari.” ujar Dela yang kini menempuh pendidikan S2 Ilmu Linguistik Deskriptif, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

 Sebagian besar orang tua di perkotaan juga lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia ketika bertutur dengan anaknya daripada bahasa Madura. Padahal, menurut Dela, keluarga adalah madrasah pertama bagi anak-anak. Jika sedari lingkungan keluarga tidak dikenalkan dengan bahasa ibu sendiri, maka di masa yang akan datang eksistensi bahasa Madura akan semakin menurun. Dengan kata lain, pemilik bahasanya sendiri akan asing menggunakan bahasa tersebut.

“Melestarikan itu kan sebenarnya mempertahankan. Jadi, jika ditanya mengapa melestarikan bahasa Madura itu penting, sebab jika tidak dilestarikan tentu bahasa tersebut akan punah suatu saat nanti. Jangan karena bahasa Madura ini masuk salah satu bahasa daerah yang banyak penggunanya lalu kita sebagai generasi muda santai-santai saja tidak peduli.”

Dela beralasan melestarikan bahasa Madura wajib hukumnya untuk semua masyarakat Madura. Tidak hanya bagi peneliti atau akademisi yang sedang berkecimpung dengan bahasa Madura, melainkan semua lapisan, mau apapun profesinya, berapapun usianya, dimanapun tinggalnya, sebagai suku Madura harus punya rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap bahasa dan budayanya sendiri.

“Dimulai dari diri sendiri. Yang tadinya jarang menggunakan bahasa Madura dengan teman sesama perantau Madura, mulai sekarang pakai bahasa Madura. Kalau bertemu dengan orang tua coba disapa pakai bahasa halus Madura. Kalau merasa takut salah atau malu berarti kan kita sadar jika kemampuan berbahasa Madura kita ini perlu diasah, jadi harus banyak belajar, harus banyak dipraktikkan. Kalau malas atau tidak ada waktu baca buku-buku tentang bahasa Madura, bisa difollow akun-akun yang berbau Madura di IG, youtube, Facebook, atau bisa download kamus bahasa Madura gratis di playstore. Intinya, dimulai dari sendiri sebelum akhirnya bermanfaat untuk orang lain.” pungkasnya.