Kembali pada kisah bus yang sangat lamban dan banyak membuat penumpang makin gelisah. Handphone penumpang di samping kiri dan kanan beberapa mulai berdering, ketika diangkat, jawabannya sama, “Masih sampai Salatiga, mana lagi macet banget ini.” Sepertinya hal tersebut menandakan keluarga yang mulai khawatir sebab waktunya memang sudah sangat telat dari biasanya.

Saya pun perlahan mulai ikut gelisah, sebab jika lewat jalur langsung jurusan Surabaya, bisanya jam segini sudah sampai di Surabaya. Saya coba cek Google Maps, dari lokasi saya berada, ternyata masih 3 jam lagi menuju terminal Tirtonadi Solo dan dari Terminal Tirtonadi, masih membutuhkan sekitar 9 jam lagi untuk sampai kota Surabaya.

“Waduh, bisa sampai kapan ni ke Maduranya?” pertanyaanku dalam kondisi gelisah. Padahal sekarang masih jam 18.54. Bayangkan, klo perjalanan normal sesuai Google Maps, bisa sekitar jam 03.00 aku baru sampai Madura, tapi bagaimana kalo macet lagi di jalan? Sepertinya bisa jam 5 atau jam 6 baru sampai Surabaya. Belum lagi perjalanan dari Surabaya ke Madura, membutuhkan waktu sekitar 2 jam.

Okey, Ini Masalah. Segera Cari Solusi, Lalu Segera Putuskan Solusi Terbaik!

Di tengah kebingungan, beberapa penumpang mulai bereaksi. Ada yang melampiaskan dengan menggerutu, ada yang menyerah dan memilih turun. Seperti para penumpang yang hendak mendaki gunung Merbabu ini, memilih melanjutkan perjalanan dengan memakai jasa transportasi online saja katanya. Okey, dan saya juga harus mencari jalan keluar dari kegelisahan ini.

Mulai mengecek Google Maps, enaknya turun dimana, mulai mengukur-ukur jarak tempuh. Coba ngecek jalur alternatif. Ah, tetap buntu. Hingga baru terpikirkan, untuk pindah moda transportasi. Padahal rencana awal sudah manteb, jika sampai terminal Solo ingin langsung melanjutkan dengan kembali memakai bus.

Sekarang kembali saya meyakinkan diri, apakah tetap naik bus setelah sampai Terminal Tirtonadi, atau pilih opsi lain. Dalam kondisi yang mulai tak tenang, tiba-tiba muncul pikiran, mencoba membuka salah satu website penyedia jasa booking online. Memilih mode kereta api, Melihat rute keberangkatan Solo-Surabaya, dan entah tiba-tiba seperti sebuah kejutan. Tersisa 2 tiket untuk keberangkatan kereta, dengan harga yang terbilang lumayan, Rp.140.000 harga tiket kereta tersebut. Langsung tanpa pikir panjang, aku langsung melakukan proses booking dari dalam bus.

Proses booking selesai. Permasalahannya sekarang adalah, aku dihadapkan pada halaman verifikasi pada website tersebut, halaman yang meminta verifikasi pembayaran. Ada waktu sekitar 15 menit hingga waktu verifikasi habis, dan jika dalam waktu 15 menit belum ada verifikasi pembayaran, maka booms! tiket hangus. Permasalahannya, aku sekarang berada dalam bus, yang sedang macet dan tidak tau sampai kapan bisa sampai di pemberhentian selanjutnya. Kalau menurut Google Maps, sekitar 3 sampai 4 jam lagi.

Kepanikan bertambah. Hendak pasrah, jika memang tiket kereta tidak bisa terbeli, ya sudah naik bus aja lagi. Padahal dalam hati udah khawatir, selain sudah bosan naik bus, tentunya perjalanan menuju Pamekasan akan semakin memakan waktu yang lama dan tentunya membosankan.

Istirahatkan Logikamu Jika Sudah Tidak Mampu, Biarkan Keajaiban Tuhan Yang Bekerja

“Bang, sudah sampai mana? ” terlihat sebuah pesan ketika ku baca dari notifikasi handphone-ku. Seorang teman menanyakan posisi perjalananku saat ini. Dengan malas sekali aku menjawab,” Masih Salatiga bang. jalan macet kagak jalan-jalan.” Awalnya hanya beberapa percakapan membosankan, hingga sampai temanku menanyakan, “Kenapa tidak booking kereta saja?” Ya tuhan, dari pertanyaan tersebut, seketika aku baru teringat bahwa sebentar lagi waktu verifikasi pembayaran tiket keretanya hampir habis, mampus lah.

Tersadar dari lamunan, langsung aku menjawab pertanyaan kawanku ini, “Iya, aku sudah pesan kereta.” Kemudian temanku ini mengirimkan screenshot daftar booking kereta api, dan kalian tau informasi apa yang muncul di gambar tersebut?, ternyata kereta jurusan Solo-Surabaya dengan harga 140.000 sudah habis, dan tinggal kisaran harga mulai dari 400.000 ke atas.

Namanya orang panik dan sedang tergesa-gesa, akan lupa dengan keputusan apa yang harus diambil. Bahkan hal sederhana pun bisa jadi sangat sulit untuk dilakukan. Akhirnya aku coba untuk tenang, tarik nafas sejenak dan mulai berpikir. Sebenarnya sejak kawanku menanyakan tentang kereta, lalu aku teringat perihal halaman verifikasi yang tinggal 5 menit lagi, aku sudah ingin mengatakan kepada temanku bahwa aku ingin meminta tolong untuk meminjam uang dia untuk di transfer ke rekening pembayaran tiket kereta tersebut, namun bukan aku namanya kalau orangnya bukan pemalu dan suka tidak enak kalau urusan pinjam meminjam uang.

Tapi, yang namanya orang kepepet, jadi bodo amat lah. Langsung aku sampaikan kepada temanku maksud dan tujuanku itu. Dan alhamdulillah, kurang dari 3 menit, proses verifikasi selesai. “Nah, gitu mulai tadi”, seruku dalam hati.

Alhamdulilah, akhirnya tiket terbeli dan sudah di tangan. Tinggal menukarnya nanti ketika sampai di stasiun.

Di setiap kesulitan, jangan khawatir, Tuhan akan selalu memberikanmu kemudahan. Bahkan saat otakmu sudah tak mampu mencari solusi, keajaiban Tuhan pasti akan bekerja melebihi dari apa yang logikamu pikirkan.

Melilih Jalan Yang Berbeda, Mendapatkan Sensasi Yang Berbeda

Akhirnya Bus sampai tepat jam 21.59 sampai di kota solo, Terminal Bus Tirtonadi. Cuaca kota Solo di malam tersebut cukup cerah. Terlihat lalu lalang kendaraan di depan stasiun, saat itu aku turun pas depan terminal. Sebab bus yang aku tumpangi akan kembali melanjutkan perjalanan.

Ini kali kedua aku menginjakan kaki di kota Solo ini. Akan tetapi kali pertama berada di daerah terminal ini. Tentunya saat itu aku bingung, hendak kemana setelah ini. Akhirnya aku memilih bertanya kepada salah satu tukang becak, “Pak, Stasiun Solo Balapan itu ke arah mana ya pak?” Orang tersebut langsung menjawab, “Masnya lurus aja, nanti lampu merah belok kiri saja.” Tanpa pikir panjang, aku mengikuti instruksi bapak tersebut.

Kereta akan berangkat jam 23.07. Aku harus segera bergegas untuk check-in di Stasiun Solo Balapan. Namun sebab perut terasa keroncongan parah, aku memutuskan untuk berhenti di salah satu angkringan untuk mengisi perut. Terasa sekali Solo-nya. Orang-orang berbahasa Jawa dan kulihat beberapa orang di sampingku sedang berbincang tentang isu-isu yang ada di ibu kota.

Berada di kursi angkringan, sejenak aku menikmati suasana itu. Memikirkan apa yang terjadi dalam setiap perjalanan yang memakan waktu 2 hari ini, melelahkan namun banyak cerita serta pelajaran yang aku dapatkan.

Bersama buku Prof Renald yang aku bawa, tak perlu ikut program “Mentee” beliau, seperti yang diharapkan oleh teman se-kos-ku, 2 hari ini aku merasa seperti sedang dimentori langsung oleh beliau untuk mempraktikkan dari setiap isi buku beliau. Dan pada titik ini, benar. Seperti pesan beliau yang ditulis dalam buku tersebut, “Coba cari jalan lain untuk kembali pulang ke rumahmu, kau akan menemukan hal-hal baru yang bisa dijadikan pelajaran”. Well, perjalananku saat ini, kurang lebih sudah membuktikan itu.

Waktu sudah menunjukkan 22.15, berarti aku sudah harus segera beranjak menuju Stasiun Solo Balapan, sebab jam 23.07 kereta akan berangkat. Untuk stasiun Solo Balapan tidak jauh dari Terminal Tirtonadi. Hanya mengikuti arah jembatan layang dari Terminal Tirtonadi, maka kau seperti dituntut menuju Stasiun Solo Balapan.

Tak sampai beberapa menit, aku sudah berada di halaman depan Stasiun Solo Balapan,  aku langsung menuju tempat penukaran tiket. Dan sesuatu yang biasa namun cukup membuat aku terkejut. Setelah tiket berhasil aku cetak, ternyata kereta yang aku naiki bukan kereta ekonomi melainkan kereta premium yang aku pesan. Dan kalian tau apa ini maksudnya? sepertinya malam ini saya benar-benar akan dimanja di atas kereta. Saya tidak menyangka, padahal hanya dengan harga segitu, kok bisa dapet kereta dengan fasilitas premium.

Tiba saatnya keberangkatan kereta yang ku tunggu, dan ternyata benar. Fasilitasnya sangat nyaman sekali. Beberapa wanita yang menyerupai pramugari dan lelaki berpakaian rapi lalu lalang, menawarkan makananan, minuman hingga selimut atau bantal. Seperti terbayar lelah selama hampir 2×24 jam. Fasilitas kereta memang saat ini hampir menyerupai pesawat, bahkan stasiun Balapan Solo sekalipun, designnya sudah menyerupai sebuah bandara.

Kereta melaju dengan cepat, diperkirakan jam 03.15 sampai di Stasiun Gubeng Surabaya. Dan setelah sampai di Stasiun Gubeng, aku harus melanjutkan perjalanan menuju Terminal Bus Purabaya, dan setelahnya aku akan melanjutkan perjalanan menuju Pamekasan, Madura, dengan menaiki Bus jurusan Surabaya-Madura.

*Penulis: Arighi – anak asli Pamekasan yang sedang nyasar di salah satu Universitas Swasta di Jakarta Timur.