Akhir tahun, sepertinya akan menjadi pilihan setiap orang untuk memilih liburan. Apalagi bagi para perantau, akhir tahun juga bisa menjadi alternatif pilihan selain hari lebaran untuk kembali ke kampung halaman.

Seperti halnya saya, memilih untuk berlibur di kampung halaman. Sebenarnya sih mulai dari awal bulan desember masih ragu, antara memilih ingin pulang, atau memilih tetap di Jakarta sembari menyelesaikan kesibukan lainnnya. Akan tetapi, mendekati penghujung Desember, dapat kabar dari kakak perempuan yang ada di kota Malang, bahwa ibu sedang sakit.

Keesokan harinya saya telpon ibu. Alhamdulillah sakitnya sebenarnya tidak parah, akan tetapi ada dua kata dari ibu yang bikin “nyes” dihati. “Walaupun tidak parah, apa kamu menunggu untuk ibu sakit parah dulu baru kamu mau pulang?”, lalu beliau melanjutkan, “Pulang nak, kamu yang ibu tunggu.”

Duh, hati anak mana yang tak terenyuh mendengar pernyataan tersebut. Akhirnya, sore hari saya memutuskan untuk pulang, dan menyiapkan segala sesuatunya di siang hari.

Strawberry Generation, Kehabisan Tiket, dan Segera Tentukan Pilihan

Tepat sore hari, setelah shalat ashar, saya langsung meminta seorang teman untuk mengantar ke terminal keberangkatan menuju Pulau Madura. Singkat cerita, ketika bertanya tiket jurusan Jakarta-Madura, ternyata sudah habis, adanya nanti tanggal 27 Desember kata si penjaga loket.

Akhirnya cari opsi lain, “klo ke Surabaya apa masih ada mbak?” tanyaku. Ternyata kata penjaga loket sudah berangkat jam 2 tadi. Waduh, sebenarnya bisa besok. Cuma karakterku, tidak mau menunggu berlama-lama. Ya sudah akhirnya tetap cari opsi lain, yang intinya sore ini harus jalan.

Buku berjudul “Strawberry Generation” ada di tasku, yang kebaca mulai sejak tadi pagi. Sebab keracunan bukunya Prof. Rhenald Kasali tersebut, di fikiranku selalu tersugesti “A good driver, harus berani kesasar, harus berani mengambil keputusan, bla. . Bla. .”, itu yang selalu terngiang, dan membuatku tidak mau menyerah sore itu. Ditambah dalam beberapa pembahasan, beliau selalu menegaskan, “Jangan seperti orang gila, selalu memilih jalan yang sama, tapi mengharapkan sesuatu yang beda. Sekali-kali, pilihlah jalan yang berbeda dalam perjalanan pulang.”

Setelah berdiskusi dengan teman yang menganter tadi dan mengecek Google Maps, ada opsi paling memungkinkan. Yakni bus jurusan Solo. Yap, tanpa fikir panjang, aku langsung nanya, “Klo jurusan Solo ada gak mbak?”. Alhamdulillah, jawab mbaknya, “Ada Mas”. Meski dengan budget yang secara logika tidak mencukupi.

Namun perjalanan tidak juga akhirnya dimulai. Sebab, bus yang sudah dibooking tidak jua datang. Dari jam 17.54 aku menunggu sampai jam 22.47. Ahh, awalnya udh tidak beres ni. Tapi, always positif thinking lah. InsyaAllah baik-baik saja.

Awal Yang Lancar, Hingga Terjebak Di Bus Hampir 24 Jam

Bus tiba dan kabar buruknya, ternyata busnya tidak ada toilet nya. “Mampus kau”, umpat dalam fikiranku. “Gimana cara survive sepanjang jalan ni”, kembali aku bertanya. Sebab secara pribadi, aku memiliki masalah pencernaan untuk buang air kecil ini. Ahh, bodo amatlah fikirku.

Akhirnya bus berangkat, sepanjang jalan jakarta kami lalui. Bus yang aku tumpangi melaju kencang, sebab Jakarta sudah beranjak larut. Akhirnya aku tertidur, bangun-bangun sudah sampe Tol Cipali ketika aku cek di Google Maps. Turun sebentar untuk kencing, dan tidak seberapa waktu, bus kembali melaju dan aku melanjutkan tidurku.

Di pagi hari, tetap jam 07.05 bus berhenti di sebuah rest area. Ketika aku bertanya ke penumpang sebelah, ternyata kami baru sampai daerah Pekalongan, lebih tepatnya 1 jam lagi baru sampai Pekalongan. Di mulai dari sini, beberapa penumpang mulai menggerutu. Mengeluhkan keterlambatan perjalanan, ada yang bilang busnya lelet lah, ada yang bilang sopirnya tak punya nyali, ditambah sepertinya para penumpang memang sudah kesal, sebab keberangkatan mereka dari awal sudah terbilang sangat telat.

Awalnya aku masih berpikir positif terkait semua hal itu, masih menikmati perjalanan yang memang belum seberapa jauhnya dari titik awal. Namun lama kelamaan, sepertinya memang benar apa yang disampaikan oleh orang-orang di samping kiri dan kananku, bahwa busnya terbilang sangat santai. Beberapa kali berhenti di Rest Area, belum lagi jalanan sangat macet. Tentunya hal ini membuat perjalanan semakin lambat.

Dari siang hari hingga sore, bus masih berkutat di kota Semarang. Salah satu penyebabnya adalah kemacetan yang lumayan parah. Beberapa penumpang panik, sebab biasanya sore hari sudah sampai di Solo atau sekitarnya. Tapi kali ini masih saja berkutat di kota Semarang. Lebih kasihan lagi, seorang teman sekursi yang bercerita bahwa akan melakukan pendakian ke gunung Merbabu, dia merasa sangat dirugikan atas keterlambatan itu. Di mana seharusnya malam ini sudah berada di lokasi pendakian, akan tetapi sampai sore ini, rombongan tersebut masih berada di kota Semarang.

Belajar Mengambil Keputusan

Yap, awalnya aku masih tenang. Okey, mari kita tetap tenang. Namun hingga melewati kota Kendal, kemudian sampai Salatiga, bus masih melaju sangat lamban. Orang yg duduk di sampingku mulai mengumpat tidak jelas, yang kudengar “Ah, sopir si*lan. Ngapain pake acara muter lewat sini.” Kondisi saat itu macet parah, seperti di depan lampu merah, dan pas banget. Ini waktunya jam pulang kerja, ditambah ini minggu minggu libur panjang.

Aku yang awalnya tenang, mulai ikut panik. Mulai perut terasa tak nyaman, “Wah, payah. Pas moment kaya gini, kebelet kencing lagi,” seru dalam hati. Tapi, benar-benar kampret moment, saat macet-macet kaya gini. Ditambah bus gak ada toiletnya. Coba bayangin itu. “Kampreto. . Kampreto,” umpat dalam hati.

Pada saat itulah, kembali saya seperti di paksa segera mengambil keputusan. Kondisi macet, lampu lalu lintas terus berubah, kendaraan mulai melaju perlahan. Pilihan saya hanya dua, turun sebentar cari toilet dengan rasa takut ditinggal bus atau tetap di bus dengan menahan kencing.

Saya kembali ingat pesan Prof Renald dalam bukunya, bahwa belajar mengambil keputusan itu memang harus terus dilatih. Nah, seperti urusan sekecil ini ni, kita juga dituntut untuk memilih dan segera mengambil keputusan.

Ahh, bodo amatlah akhirnya. Setelah menimbang dengan keragu-raguan. Akhirnya saya memilih turun. Saya tidak mau tersiksa di atas bus dengan menahan kencing. Meski keputusan ini saya rasa sangat telat untuk diambil, tapi sebelumnya benar-benar telat, mari kita putuskan. Melihat angka 35 detik pada lampu merah, saya langsung turun, saya sampaikan pada Asisten Sopir, bahwa saya ingin kencing sebentar.

Dan benar, setelah selesai saya menyelesaikan hajat. Bus sudah tidak ada di tempat semula, tinggal ekor bus yang saya liat dari kejauhan. Tanpa berfikir panjang saya lari sekencang-kencangnya ke arah bus itu melaju. Untungnya tidak sampai ratusan meter, di depan ada lampu lalu lintas lagi dan menunjukkan warna merah. Pelan bus mulai melaju, dan dengan sigap saya langsung masuk kedalam bus.

Yap, hampir saya ditinggal bus. Hanya karena saya terlalu banyak berfikir ini itu, dan ragu untuk mengambil keputusan. Kembali hal ini menjadi pelajaran yang tidak boleh dilupakan, “Segera ambil keputusan apa yang kau yakini, dan berani lah pada resiko yang akan kau hadapi”, ini harus selalu di ingat.

*Penulis: Arighi – anak asli Pamekasan yang sedang nyasar di salah satu Universitas Swasta di Jakarta Timur.