Ciri masyarakat yang keras dan dekat dengan kekerasan tak bisa dipungkiri dari stigma masyarakat Madura di mata masyarakat luar. Bukan tanpa alasan, hal ini muncul karena carok dianggap sebagai bentuk cara masyarakat Madura menyelesaikan konflik, terutama konflik yang menyangkut harga diri.

Hary Soeskandi dalam bukunya “Carok: Suatu Studi Tentang Cara Penyelasain Konflik Di Masyarakat Madura” mengatakan, bagi orang Madura clurit tidak hanya merupakan senjata untuk berkelahi atau membela diri saja. Lebih dari itu, clurit bagi orang Madura merupakan simbol dari seorang laki-laki. Katakanlah semacam keris bagi orang Jawa, pedang bagi orang Cina di Zaman kerajaan dan pistol bagi koboi.

Dalam buku yang sama, Sastrawan D Zawawi Imron juga berkisah bahwa di desanya sana, juga di pedesaan Madura, lelaki datang ke suatu undangan dengan membawa clurit telanjang. Kalau duduk bersila, clurit yang diletakkan di bawah silang kaki adalah pemandangan yang biasa dan keadaan ini masih ditemui hingga akhir 70-an.

Untuk apa repot-repot bawa clurit kemana-mana? Jawaban mereka, “Tulang rusuk laki-laki barisan kiri itu kurang jumlahnya, tidak lengkap seperti jumlah tulang rusuk bagian kanan, karena sepotong tulang telah dijelmakan sebagai makhluk perempuan. Karena itu seorang lelaki akan utuh tulangnya rusuknya kalau kekurangan itu dilengkapi dengan besi bengkok yang mirip tulang rusuk,”

Tafsiran clurit dengan tulang rusuk ini, menurut Zawawi menyiratkan kesatuan yang merohani antara manusia dengan senjatanya, antara orang Madura dengan cluritnya. Di masyarakat Madura, umumnya setiap orang tua akan mewariskan senjata pada anaknya yang disebut sebagai “sengkolan” yang berarti warisan yang berharga dan tak bisa dijual.

Pandangan lain tentang melekatnya clurit dan orang Madura diungkapkan Elly Touwen Bouwsma dalam buku “Agama, Kebudayaan, & Ekonomi karya Dr. Huub de Jonge”. Ia menulis, “Orang Madura dan pisaunya adalah satu; tangannya selalu siap untuk merampas dan memotong. Dia sudah terlatih untuk menggunakan segala macam senjata, tetapi paling ahli menggunkaan arit (clurit). Tanpa arit ini ia tidak lengkap, hanya setengah laki-laki, orang liar yang sudah dijinakkan.”