CINTA BERUJUNG CAROK[1]

Madura, 1989:

Tiba-tiba suasana menjadi hening setelah Suran menggebrak meja dengan sangat keras, “Tak usah takut pada si Parjo, dia tak ada apa-apanya dibanding keluarga kita,” Suran membangkitkan keberanian keluarganya dan mengatur strategi untuk mengalahkan keluarga Parjo, yang semula keluarga Suran ketakutan melawan Parjo kini keberanian mereka bertambah dua kali lipat. Belum selesai mereka mengatur strategi tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar rumah mereka.

 “Surannnnnnnnnnnnnnnnnn keluar kau!” suasana ruang menjadi hening kembali mendengar teriakan yang menurut mereka tidak sopan, lantas Suran mengambil celuritnya dan menuju ke pintu rumah bersama keluarganya. Ia memastikan dan menyambut tamu yang menurutnya tidak sopan, alangkah terkejut mereka, orang yang tak sopan itu adalah Parjo yang menjadi bahan pembicaraan keluarga Suran.

 “Berani sekali kau datang kesini, sekarang pilih keluar dari pekarangan rumah ini atau darahmu harus mengalir di pekarangan ini” pekik Suran kepada Parjo, tapi Parjo tenang-tenang saja berdiri sambil tertawa menyombongkan dirinya

“Ntahlah…….., apakah kau mampu? Atau darah kalian yang mengucur di pekarangan kalian sendiri”  kata-kata Parjo membuat seisi rumah geram, Anam adiknya Suran berteriak sambil lari menghampiri Parjo dengan celurit di tangan kanannya, tapi dengan mudahnya Parjo menepis serangan anam hingga Anam terjatuh. Hampir saja Parjo mengibaskan celuritnya kearah Anam, tapi dengan tangkas dan cepat Suran langsung menebaskan celuritnya ke punggung Parjo hingga Parjo tersungkur dan mengurungkan niatnya menebas Anam.

“Setetes pun tidak akan ku biarkan darahku mengalir di sini,” Parjo menyombongkan diri dengan kekebalannya sambil membalik badannya. Parjo memasang kuda-kuda untuk membacok Suran, tapi Anam buru-buru bangkit dan membacok punggung Parjo hingga urung lagi niatnya membacok Suran dan membalikkan badannya untuk membacok Anam. Saat badannya berbalik suran membacoknya dari belakang dan begitu seterusnya hingga Parjo terjatuh karena berkali-kali dipukuli meski tak ada luka dipunggungnya.

“Ini akibat orang sombong,” Suran berserapah, Anam tanpa sengaja mengambil kopyah nasional Parjo dan membacoknya. Alangkah terkejutnya Anam,  ternyata kekebalan Parjo ada di kopyahnya, darah Parjo pun mengalir,  tapi Anam dan Suran tidak membunuhnya, mereka membiarkan Parjo tergeletak dengan luka di tubuhnya.

Carok yang terjadi antara Suran dan Parjo langsung terdengar oleh keluarga Parjo. Suasana pun memanas,  keluarga Parjo mulai bersiap-siap untuk membantu Parjo dan mempertahankan nama keluarga mereka. “ Tembeng pote mata, pengoan pote tolang[2]” kata Sarnuji kakaknya Parjo yang paling besar dan kuat dikeluarga Parjo, berangkatlah Sarnuji bersama adik-adiknya yang lain. Suasana desa pun tambah mencekam, semua orang desa berhamburan menuju rumah Suran, mereka ingin melihat pertarungan antara keluarga Suran dan keluarga Parjo yang memang bermusuhan sejak lama.

Setelah sampai di rumah Suran, hati Sarnuji semakin panas melihat adiknya tergeletak tak berdaya. “Ini akibatnya jika tidak sopan bertamu ke rumah orang, dan ini akibatnya jika menyombongkan diri, apakah kalian mau bernasib sama dengan Parjo?” dengan nada keras Suran menggertak dan memperingati rombongan Sarnuji.

Wajah Sarnuji memerah geram,  Sarnuji pun menghampiri Suran, tanpa banyak omong sarnuji menebaskan cluritnya kearah Suran tapi dengan tangkas Suran mengelak. Pertarungan pun semakin memanas karena mereka sama-sama pintar dan ahli memainkan celurit. Berselang satu jam tetap tak ada yang terluka dan tak ada yang berani melerai karena akibatnya bisa fatal kepeda yang mencoba melerai.

“Berhenti, berhenti, berhenti!!” teriak seorang wanita dari kejauhan, tapi carok tetap tak berhenti, entah karena tak mendengar atau memang tak dihiraukan. “Berhenti, berhenti,” wanita ini tetap memaksa,  mata warga pun tertuju pada gadis yang tak lain adalah Fatimah wanita yang diperebutkan oleh Parjo dan Suran. Suran dan Sarnuji tetap tak menghiraukan pekikan Fatimah malah carok semakin memanas karena adik-adik Sarnuji ikut membantu Sarnuji begitupun keluarga Suran.

Entah apa yang ada dibenak Fatimah, Fatimah lari menuju arena carok saat Suran dan Sarnuji mengangkat clurit untuk saling menebaskan cluritnya. Alangkah naas, Fatimahlah yang mereka tebas dan carok pun berhenti. Celurit Suran lepas dari tangannya, air matanya mengalir seakan menghilangkan kehebatannya. Parjo berteriak keras dengan air mata yang tak dapat dibendungnya, wanita yang mereka rebut kini telah tiada, Parjo sangat menyesal begitupun Suran. Sarnuji pun ikut menangis, kehebatan mereka sekarang dikalahkan oleh kesedihan dan tangisan mereka.

“Ayo bunuh aku juga” dengan suara terbata-bata karena menangis orang tua Fatimah mendatangi mereka satu persatu sambil menjulurkan celurit, “Kenapa kalian tidak mau membunuhku, ayo selesaikan semua dengan kekerasan, bunuh aku juga” tak ada satupun dari mereka yang bergerak, mereka hanya bisa menangis menyesali perbuatan mereka.

[1] Bertengkar menggunakakan clurit dengan tujuan saling membunuh.

[2] Dari pada putih mata, lebih baek putih tulang (dari pada malu lebih baek mati)

Sumber : http://ie-jank.blogspot.com/, ditulis oleh Iejank Aktifis Waliyullah, Pemuda asli Pamekasan.

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote