perempuan madura
Devi Kurnia Sari, Duta Praben 2018 memiliki motto "Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang." (Foto: Roman Fotograph)

Perempuan dalam kehidupan masyarakat di pulau Madura kerap dipandang sebagai korban patriarki karena sejak muda dihadapkan pada tradisi perjodohan. Akibatnya tidak hanya hak untuk menentukan pilihan atas hidupnya yang terbatas, stigma tentang perannya pun dipandang sebelah mata. Perempuan Madura dianggap hanya mampu melakukan 3A: adhândhân (berdandan), arèmbi (melahirkan), dan amassa’ (memasak).

Kepada Narantau Madura, Devi Kurnia Sari, Duta Praben 2018 berbagi cerita mengenai peran dan gagasan tentang perempuan Madura di masa ke kinian. Menurut perempuan berdarah Sampang-Madura ini, peran perempuan Madura lebih luas dari yang dipandang kebanyakan orang. Sayangnya hal ini belum banyak disadari oleh perempuan Madura itu sendiri.

Devi menyoroti pernikahan dini di kalangan perempuan Madura kerap dijadikan alasan sebagai bagian dari budaya bahkan solusi memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu kurangnya pemahaman terkait kesehatan tubuh saat menikah muda juga menjadi penyebabnya.

“Seharusnya umur 21 tahun minimal untuk menikah. Dampak dari menikah muda dikarenakan tidak cukup umur dan belum mengerti cara menjalankan rumah tangga sehingga banyak kasus perceraian dan kematian saat melahirkan.” ujar mahasiswi Institut Agama Islam Negeri Pontianak ini.

perempuan madura
Devi Sari bersama Muhammad Su’ud, Duta Lanceng Praben Kalbar 2018 (Foto: Roman Fotograph)

Lebih lanjut, di jaman saat ini sudah banyak orang tua yang berpikir lebih terbuka dan memberikan kesempatan bagi perempuan untuk mengeyam pendidikan yang setara dengan lelaki. Para orang tua menyadari pentingnya pendidikan meski nantinya perempuan akan memilih berkarir atau menjadi ibu rumah tangga. Sebab kelak, di tangan perempuanlah pendidikan anak-anak ditentukan.

“Mendidik pria adalah mendidik 1 orang. Tetapi mendidik perempuan adalah mendidik sebuah negara. Rusaknya sebuah negara itu ditentukan dari perempuan nya. Karena sumber awal pendidikan adalah perempuan. Pragmatisme (nilai suatu ajaran) diajarkan pertama kali oleh perempuan. Dan perjuangan pun diajarkan pertama kali oleh perempuan.”

Oleh karenanya Devi berharap dengan pendidikan dan kesempatan yang sama, perempuan Madura mampu bersaing di semua bidang dan berprestasi. Apalagi suku Madura dikenal pekerja keras baik laki-laki maupun perempuan nya, jadi bukanlah hal yang mustahil dilakukan. Dengan demikian julukan 3A akan terhapus dengan sendirinya.

“Dipuji karena cantik memang menyenangkan tapi dikagumi karena berprestasi jauh lebih membanggakan.” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.