mudik

 Pulang Malu

Tak Pulang Rindu

Tulisan ini bukan ngebahas tentang lagu Armada yang dicintai sejuta umat, ya. Tulisan ini tentang pengalaman mudik, yang udah jadi tradisi perantau Madura. Punya duit banyak ataupun pas-pasan, mudik adalah suatu keharusan. Begitu pun saya.

Mudik menggunakan bus selalu jadi pilihan saya tiap tahunnya. Terhitung sejak pertama kali merantau di Kota Jakarta hingga saat ini. Namun saya perhatikan di setiap tahunnya, khususnya di moment mudik dan arus balik lebaran, tidak pernah ada peningkatan pelayanan bagi penumpang.

Padahal kami (penumpang) harus membayar mahal dan tak bisa ditawar pula demi tiket pulang kampung.

Berikut akan saya paparkan bagaimana pengalaman saya naik bus X (saya tak mau menyebut merek, dikarenakan banyak hal. Ingat kasus Komika Acho?) yang menjadi langgananan saya setiap mudik dan menurut saya sungguh mengabaikan kenyamanan penumpang. Bahkan tak ada perbaikan dan peningkatan pelayanan alias cetpancet.

‌Harga tiket yang terus naik

Setiap tahunnya, apalagi di momen hari besar satu tiket bus bisa dua kali lipat. Sebenarnya tak masalah jika sejalan dengan peningkatan pelayanan. Sayangnya yang saya rasakan tiap tahunnya tidak demikian. Di lebaran juli 2017 misalkan, satu tiket bus dari Terminal Pulogebang-Jakarta ke Kota Bangkalan-Madura menjelang H-3, dihargai Rp.600.000. Gak pake nawar. Ohya, beruntunglah kalau kenal orang dalem, dapetlah potongan harga meski tak seberapa.

Tetapi demi keluarga di Madura sana, gak ada pilihan lain selain naik bus. Tiket kereta habis, apalagi tiket pesawat yang harganya bikin ngelus dada.

Fasilitas tak memadai

Kursi rusak, tak ada bantal, toilet bau dan penuh sampah, adalah hal yang paling wajar saya temui saat naik bus ini. Memang tidak semua bus yang beroperasi baru. Tetapi hal-hal yang saya sebutkan barusan masih bisa diperbaiki bukan? Okelah jika rute yang ditempuh sedekat Jakarta-Bandung, tetapi dengan rute Jakarta-Madura itu sungguh menyiksa. Saya dan mungkin penumpang lain akan menikmati ketidaknyamanan itu lebih dari 16 jam! Itupun kalau jalan lancar jaya. Kalau macet, silakan bayangkan sendiri.
Apalagi yang kebagian kursi dekat toilet. Lebih menyiksa lagi karena harus mencium aroma pesing sepanjang perjalanan. Jadi, beruntunglah orang-orang yang dapat kursi di depan, dekat jendela pula.

Jatah makan dan minum

Saya berharap agak sedikit dimanja perihal yang satu ini. Selain keselamatan, urusan perut juga harus didahulukan. Harusnya ada jam pasti kapan bus akan berhenti di rest area untuk makan. Contohnya adalah saat bulan puasa. Penumpang harus menunggu sampai jam 8/9 malam untuk berbuka puasa dengan nasi. Tentu ini agak menyebalkan bagi penumpang yang tak mempersiapkan bekal. Pihak bus hanya memberikan air mineral. Padahal tahun sebelumnya masih ada jatah snack berupa roti yang dibagikan kepada penumpang. Tahun ini, ga ada!

Toilet

Bus memang menyediakan fasilitas toliet gratis di dalam bus. Tetapi tidak untuk toilet yang berada di rest area, sekalipun rest area tersebut rekanan bus. Penumpang tetap harus membayar 2 ribu untuk buang air dan 3 ribu untuk mandi. Bus biasanya berhenti 3 sampai 4 kali di rest area. Jika tiap bus berhenti dan penumpang buang air, maka ada 8 ribu yabg dihibahkan ke penjaga toilet. Kalikan saja dengan jumlah penumpang bus tersebut dan penumpang bus dengan merek yang sama. Hasilnya mungkin bisa membangun toilet khusus untuk penumpang bus tersebut.

Jam keberangkatan tak pasti

Tak ada yang pasti dengan jam keberangkatan bus. Katanya jam 1, tapi bisa molor sampai dua jam! Belom lagi harus transit di beberapa agen untuk menaikkan penumpang lain. Kalau pulang naik kendaraan ini memang harus punya banyak waktu luang ya!

Sopir sering seenaknya sendiri

Pernah dalam perjalanan mudik, sopir menepikan bus hanya untuk mengisi perut kosongnya. Eh, itu bukan di rest area ya melainkan warteg pinggir jalan. Sekali lagi, kalau tak punya waktu luang dan banyak uang, lebih baik naik pesawat. Sebab pilotnya gak mungkin berhenti dulu untuk makan. Belum lagi gaya ngebutnya yang bikin gak nyenyak tidur. Terpaksa begadang sampai tujuan.

Saya sungguh berharap, bus antar provinsi ada perbaikan demi kenyamanan penumpang. Toh, kalau penumpang nyaman, ia bakal langganan naik bus yang sama. Jadi nguntungin kan bagi si PO (Perusahaan Otobus).

Dan seharusnya, selain prosedur keselamatan dan kelengkapan kendaraan, pihak PO bus juga mulai memikirkan kenyamanan penumpang. Sebab konsumen juga berhak mendapatkan haknya dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menjamin hal itu. Apa saja hak konsumen? Kamu bisa cek HAK KONSUMEN YLKI 

Punya pengalaman yang sama? Yuk ceritakan! Oya, selamat mudik Lebaran Haji, para Perantau Madura! Buat yang gak mudik dan masih di tanah rantau, semangat ya!

Penulis: IfaIkah, Perempuan (mengaku Feminis) dari Kampung Bujur, Kwanyar, Bangkalan.