hari ghulur
Foto: Witjak Widhi Cahya/IDF

Oktober 2017, akun Instagram resmi National Geographic Indonesia menampilkan foto seorang penari yang tengah pentas di Europalia, sebuah festival seni internasional di Eropa. Festival ini mengundang para seniman terpilih untuk menampilkan karya terbaiknya, termasuk Indonesia yang memboyong para senimannya.

Sosok penari tersebut adalah Moh Hariyanto atau populer dikenal dengan nama Hari Ghulur. Natgeo Indonesia menulis, Seniman tari asal Pulau Madura, Moh. Hariyanto, tampil memukau publik Belgia saat mementaskan karyanya: G.H.U.L.U.R. di Cultuurcentrum Strombeek. Ia menari di atas seng-seng yang digelar di atas panggung yang menimbulkan bunyi gaduh. Tariannya sebagai protes atas hilangnya lahan-lahan hijau dan mulai digantikan beton dan baja. Ia salah satu dari 400 pertunjukan seni yang ditampilkan dalam major festival Europalia 2017.

Tari G.H.U.L.U.R yang dipentaskan oleh Hari Ghulur merupakan sebuah karya yang terinspirasi dari kesenian Topeng Ghulur di Desa Larangan Barma, Sumenep, Madura.  Seperti dikutip dari Indonesia Dance Festival, “Ghulur” awalnya dimaknai sebagai “bergulung-gulung”, sebuah tradisi masyarakat Madura ketika dialog antara tubuh dan tanah mampu melahirkan kesuburan. Ketika zaman berubah dan tradisi mulai menghilang, Hari memilih untuk bergulung di atas seng sebagai kritik terhadap kondisi sosial dan zaman karena tubuh tidak lagi menemukan tanah. Seng sebagai simbol pembangunan, seng menghimpit dan mewakili kehidupan kaum urban, terutama di kalangan masyarakat bawah.

“Kita tidak lagi hidup di atas tanah, tanah yang bertani digantikan menjadi tanah yang dibisniskan” ungkapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.