TKW Madura

“Saya orang biasa, TKW tetapi bisa keliling dunia.”

Bagi orang Madura, khususnya perempuan, menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri sudah biasa. Minimnya lapangan pekerjaan, upah dan besarnya kebutuhan hidup menjadi alasan para perantau Madura memilih bekerja di luar negeri.

Negara-negara di benua Asia seperti Malaysia, Cina, Saudi Arabia menjadi negara favorite tujuan perantau Madura. Selain letaknya masih dalam lingkup Asia, kemiripan budaya, bahasa dan iklim adalah alasannya. Tetapi ada juga nih TKW Madura yang memutuskan mencari nafkah di negerinya para dewa, Yunani, Eropa.

Kebayangkan gimana berbedanya negara ini dibandingkan negara-negara di benua Asia?Kepada Narantau Madura, Nayla Alviana Shiela, perantau Madura dari Bangkalan, berbagi kisah perjuangannya menjadi TKW di negara beriklim dingin itu.

Pilihan hidup menjadi TKW Nayla, begitu ia disapa, berawal dari kesedihannya setelah sang ayah meninggal dunia. Apalagi saat itu statusnya sebagai orang tua tunggal dan tulang punggung keluarga. Tak mau berlarut dalam kesedihan panjang, Nayla pun berinisiatif untuk bekerja di Eropa. Melalui bantuan salah satu customer yang berlangganan produk kosmestiknya, Nayla pun berangkat menuju negerinya para dewa, Yunani.

Di sana, Nayla mendapatkan pekerjaan sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) dengan upah sebesar 750 euro atau sekitar Rp 11,9 juta. Upah tersebut harus ia sisihkan untuk ditabung dan membayar agensi yang memberangkatkannya. Sebulan sampai enam bulan, Nayla menjalani pekerjaan itu.

Kerja Lebih, Penghasilan Lebih

Tingginya biaya hidup di sana ternyata tak mencukupi Nayla dengan gaji yang didapatkan. Apalagi ia tipikal orang yang suka berbisnis, dimana perputaran uang lebih dinamis. Akhirnya untuk menambah penghasilan, saat libur di hari minggu ia manfaatkan untuk berjualan produk kosmetiknya.

Tak berhenti di situ saja, Ia juga mencoba mencari pekerjaan baru di pabrik. Di sana, ia bekerja sebagai asisten yang mencatat pengeluaran dan pemasukan keuangan.

“Aku juga ada pekerjaan tambahan membersihkan kantor pengiriman barang, kayak JNE. Jam 12 malam aku baru sampai di rumah. Akhirnya pendapatanku bertambah. Di sini, asal kau ringan tangan, mau bekerja keras, kita bisa mendapatkan uang dengan sangat mudah. Asal jangan malas saja.” kisah Nayla kepada Narantau Madura melalui WhatsApp.

Bekerja di Yunani, Serba Beradaptasi

Memiliki banyak perbedaan dengan negara-negara yang umumnya menjadi tujuan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), Nayla harus banyak beradaptasi. Mulai dari makanan, bahasa, hingga cuaca yang sangat ekstrem.

“Awalnya sangat berat. Di sana (Indonesia) biasa makan nasi, di sini makan roti, spaghetti, dan makanan khas sini. Apalagi tidak ada makanan pedas. Adanya keju, salad dan makanan mentah. Apalagi ketemu musim dingin, kedinginan, beku. Aku ditertawakan oleh orang Eropa. Tahu sendiri Madura kayak apa panasnya. Tetapi aku nikmati semua itu.” ungkap perempuan kelahiran Kampung Bujur, Pesanggrahan, Kwanyar, Bangkalan ini.

Satu hal lagi yang membuatnya lebih keras untuk beradaptasi adalah bahasa. Bahasa Inggris yang ia kuasai ternyata tak banyak membantu. Sebab Yunani memiliki bahasa sendiri yakni bahasa Greek.

“Aku merasa kayak orang bisu tetapi aku mengharuskan harus berbicara dengan mereka. Akhirnya aku belajar dengan tekun untuk menguasainya. Dalam waktu enam bulan aku bisa.”

Tiga tahun sudah Nayla menjejaki kaki di Yunani. Ia berharap segala perjuangannya bisa membahagiakan bude, adik-adik dan anak-anaknya yang berada di Madura. Ia pun berharap jika sudah tak merantau lagi, kelak bisa membangun bisnis di kampung halamannya.

“Aku ingin sukses dan ingin menujukkan sama orang-orang yang selama ini mencibir saya. Meski tidak sekolah tinggi, tapi bisa jadi orang sukses. Saya orang biasa, TKW tetapi bisa keliling dunia. Dan keliling dunia tidak harus jadi orang kaya.” pungkasnya.

Salam Anak Rantau Madura!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.