Orang-orang memiliki kenangan indah kala matahari mulai tenggelam dan meninggalkan bias kekuningan di langit. Senja, ya orang-orang menyebutnya senja. Tak hanya menjadi kenangan indah, bahkan senja merupa dalam kata-kata. Banyak penyair, penulis buku, pelukis, sinematografer, hingga fotografer menjadikan senja objek karya mereka.

Bahkan saat ini senja menjadi bagian dari tujuan wisata unggulan di berbagai daerah. Pemodal pun berduyun-duyun datang, melihat peluang, menitip uangnya untuk dilipatkangandakan melalui bisnis wisata. Pengembang wisata menciptakan tempat khusus untuk menikmati senja.Dan tugas pengelola wisata menciptakan narasi hebat tentang senja.

Orang-orang lalu berbondong-bondong datang, menghabiskan banyak uang demi membeli kenangan saat senja. Jutaan potret diambil dengan latar senja, disimpan dalam album gadget atau dibagikan kepada pengikutnya di media sosial, lengkap dengan caption yang puitis. Ada kesan yang ingin mereka tinggalkan melalui gambar-gambar itu.

Tetapi jika kau tak punya cukup banyak uang untuk membeli kenangan saat senja (tentunya dengan potret senja yang penuh estetika) kau pun bisa menemukan senja dengan mudah di jalan yang kau tapaki. Di antara gang-gang sempit tempat tinggalmu, di atas genteng rumahmu, di tanah lapang, di balik gedung pencakar langit dan di mana saja matahari melabuhkan petangnya.

Sekalipun kau tak bisa benar-benar menikmati senja dengan selayaknya, kau pun bisa ikut menikmatinya melalui karya seniman yang terobsesi dengan senja. Lalu kau akan merasakan kenangan yang sama indahnya dengan mereka dan voila! Kau pun bisa memproklamirkan diri sebagai gadis senja, lelaki senja, penikmat senja, pemburu senja dan embel-embel maha keren lainnya.

Senja adalah milik semua. Ia tak dimiliki para pemilik wisata, seniman, penulis, fotografer dan siapapun itu. Kepemilikannya tunggal di bawah aset Tuhan. Manusia hanya berhak menikmati dan mengambil yang menurut dirinya cukup sebagai cara menyukai senja.

Sayangnya, hal yang sama tak pernah berlaku padaku. Sehebat apapun seniman menginterpretasikan senja dalam diksinya, dalam alunan melodinya, dalam tangkapan gambarnya, dalam goresan kuasnya, bagiku senja tetaplah menakutkan.

Ingatanku tentang senja atau mega merah (orang di kampungku lebih familier dengan nama ini) seperti sekumpulan bab dalam buku cerita horor yang menebar teror, ketakukan dan menjadi mimpi buruk berkepanjangan.

Maukah kau mendengar kisah menjelang petangku yang tak pernah bisa ku lupakan itu? Barangkali, sebelum kematian benar-benar menjemputku, ada satu atau dua orang yang sudi mengingat nama seseorang yang menjadi tokoh utama dalam kisah ini. Agar ia tetap hidup dalam pikiran-pikiran orang selain diriku.

Mat Pi’i Sang Blater

Bab pertama tentang kisah horor ini dimulai pada pertengahan bulan Juni, 1998. Saat itu aku baru berusia sembilan tahun. Masa-masa ketika lèker (gundu/kelereng) yang kau punya bisa menentukan seberapa hebatnya dirimu. Masa-masa film Keluarga Cemara dan Jin dan Jun mengisi layar kaca, menjadi tontonan wajib setelah film kartun Doraemon dan Ninja Hatori.

Masa itu aku dikenal sebagai anak ingusan, ingusan dalam artian yang sebenarnya. Entah apa sebabnya ingusku tak pernah hilang. Padahal emak sudah membawaku berobat ke pak mantri dan aku pun rajin minum obat resepnya. Namun tetap saja ingus itu tetap ada dan membuatku dijauhi oleh teman-teman, kecuali satu orang. Mereka takut tertular, kecuali satu orang. Dan tak ada yang mengajakku main lèker, kecuali satu orang.

Satu orang itu bernama Mat Pi’i atau Ahmad Syafi’i. Mat pi’i adalah blater(jagoan) nya anak kecil di kampungku. Mat Pi’i dikenal cerdik, jago main lèker, bengalan (pemberani), ramah, dan punya codet di dahinya (sebelum JK Rowling memperkenalkan tokoh Harry Potternya yang bercodet, Mat Pi’i lebih dulu memiliki codet mirip petir). Bagaimana Mat Pi’i bisa punya codet sampai saat ini masih menjadi misteri. Tak hanya codetnya, segala hal yang berhubungan dengan dia pun cukup misterius. Salah satunya kenapa ia mau berteman denganku.Mat pi’i dua tahun lebih tua dari ku. Tetapi ia baru naik kelas ke kelas lima setelah tiga caturwulan (Kurikulum 1994: di mana dalam setiap tahun ajaran itu dibagi menjadi tiga sesi, catur wulan pertama, kedua, dan ketiga). Untuk yang satu ini aku juga heran sama Mat Pi’i. Ia tergolong anak cerdas, hafal beberapa surat Juz Amma, nama-nama benua dan negara, pahlawan Indonesia dan pandai menghitung. Tetapi kenapa ia tak naik kelas? Pernah kutanyakan hal ini pada emak. Emak terdiam cukup lama (padahal biasanya cukup cerewet), lalu bilang, “makanya kamu sekolah yang rajin selagi emak-bapakmu mampu membiayai”. Aku melongo, aku rasa itu bukan jawaban yang tepat atas pertanyaanku.

Mat Pi’i tinggal bersama mbahnya yang seorang tetua kampung dan guru ngaji. Bapaknya meninggal dalam sebuah insiden perebutan lahan antara warga dan aparat negara. Bapaknya ditengarai sebagai provokator penolakan alih fungsi lahan persawahan menjadi kawasan industri. Peluru yang ditembakkan aparat negara menembus dada bapak dan membuatnya tewas seketika. Sementara emak Mat Pi’i meninggal karena penyakit ayan atau epilepsi, sebulan setelah kematian bapaknya.

Setelah kematian kedua orang tuanya, Mat Pi’i yang berusia 7 tahun diasuh sepenuhnya oleh si mbah. Sejak saat itulah aku mengenal ia sebagai anak yang berbeda dengan kebanyakan anak di kampungku.  Ia anak yang aneh tetapi juga istimewa. Terutama kemampuannya dalam bermain lèker yang tak tertandingi.

Bersambung ke bagian 2 (segera)