Sujiwo Tejo

Yang masih menganggap orang Madura itu keras, kasar dan kaku, anda kurang banyak main dan kurang luas pertemanannya dengan orang Madura. Yang masih sibuk membicarakan orang Madura itu penuh kekerasan, carok, dan suka mengincar besi tua, sesekali ikutlah nongkrong dan ngopi bareng mereka atau minimal baca bukunya mbah Sujiwo Tejo, Kelakar Madura Buat Gusdur.

Tak kenal maka tak sayang, itulah pepatah yang paling cocok menggambarkan ketidaktahuan masyakarat umum pada suku yang mendiami Pulau Madura ini. Buku ini menyajikan humor dengan latar belakang era kemimpinan Gusdur dan segala pernak-pernik budaya Madura di dalamnya. Budaya dan cara pandang orang Madura yang adiluhung dirajut dari perca-perca keseharian oleh sang penulis.

Maka keberadaan buku Mbah Tejo ini akan membantu anda mengenal dan punya pandangan berbeda tentang kampung halaman sang penulis. Sekaligus menjadi informasi politik era reformasi bagi kid zaman now dengan cara humor dan tak njelimet.

Sujiwo Tejo dan Madura

Buku Kelakar Madura Buat Gusdur ditulis Mbah Tejo berdasarkan pengalamannya sebagai orang Madura. Dalam pengantarnya, Mbah Tejo menulis “sebagai orang dalam yang laksana ikan dalam air, saya baru sadar bahwa kampung halaman termasuk pulau Madura menyimpan banyak potensi humor,”. “…potensi  lugunya tetapi cerdasnya. Potensi kesetiaan terhadap atasan tapi juga pelitnya. Potensi keberaniannya tapi juga ketakutan-ketakutannya.”

Sujiwo Tejo adalah keturunan Madura dari garis ayahnya, meski lahir di Jember dan besar di Bandung, dia cukup fasih menuliskan kelakar Madura yang sarat nilai budaya. Misalnya kelakar berjudul Carok. Mbah Tejo memaparkan secara gamblang budaya carok yang telah mengalami pergeseran pengertiannya.

Di dunia ilmiah, para aulia umumnya menyebut bahwa pada mulanya carok di Madura berarti perkelahian satu lawan satu. Salah satu atau dua-duanya sampai mati. Dan masing-masing pihak merasa sedang mempertahankan kehormatan diri serta kelompoknya. Pengertian ini kemudian bergeser. Setiap ada perkelahian massal atau tidak, sedang mempertahankan kehormatan atau tidak, semuanya mudah disebut carok.

Pak Juha, buruh pabrik garam di Kalianget, misalnya, sudah merasa tidak ada urusan lagi apakah dasar perkelahiannya belum lama ini cukup kuat untuk disebut carok. Selidik punya selidik alasan Pak Juha berkelahi adalah agar anaknya yang dengan susah payah dikuliahkan di Bangkalan cepat selesai skripsinya dengan tema carok.

“Kasihan kalau dia lama ndak dapat-dapat contoh carok. Kalau kacong (anak laki-lakinya) cepat selesai kuliah, saya dan ibunya anak-anak bisa lebih enak.”

Gusdur, Madura dan Kelakar

Bagi Mbah Tejo, Gus Dur digelari Bapak Pluralisme dan Bapak Demokrasi itu biasa dan remeh. Keceplas-ceplosan Gus Dur-lah hal paling vital yang menentukan kedudukannya di tengah kemunafikan Nusantara. Menurutnya agak kurang sedap dan kurang inspiratif mengenang Gus Dur hanya dalam hal ketokohannya di ranah pluralisme, demokrasi, dan pembaruan pemikiran Islam, tanpa mengenang keceplas-ceplosannya termasuk dalam melanggar tabu-tabu. Ibarat mengenang garam tanpa kita kenang asinnya.

Seperti kelakar berjudul Saya Ini Gembala Sapi, Dik : untung Akbar Tanjung bukan orang Madura, kalau orang Madura pasti marah luar biasa ketika Gus Dur mengatakan bahwa DPR mirip taman kanak-kanak. Karena di Madura adanya Taman Nak-Kanak, berarti Gus Dur bisa dianggap menyatakan DPR disamakan dengan sesuatu yang tak ada.

Inayah Wahid (putri ke-4 Gus Dur) dalam kata pengantar buku menyatakan: “Madura itu biang humor. Banyak malah orang yang sampai menambang banyak untung dari kelucuan-kelucuan orang Madura. Gusdur dan Sujiwo Tejo salah duanya,”

“…Bagaimana masyarakat Madura dengan pandangan-pandangan atas keluhuran diri mereka malah dianggap nyeleneh oleh orang luar Madura. Ini secara organik sudah cukup dianggap sebagai kelakar. Apalagi dikaitkan dengan Gusdur. Jadi dobel kelakar.” ujar Inayah.

“Gus Dur sesungguhnya adalah komedian yang punya profesi sampingan sebagai Presiden, Kiai, Budayawan, dan penggerak sosial. Salah satu buktinya, jauh sebelum lawakan tunggal ( stand up comedy ) menjadi tren di Indonesia seperti saat ini, Gus Dur sudah mendahului lewat pidato-pidatonya. Tak heran biro media kepresidenan saat itu mencatat pidato presiden menjadi salah satu ajang yang ditunggu pemirsa.”

Inayah juga menambahkan, situasi politik belakangan ini, di mana tensi begitu tinggi dan masyarakat seperti lupa bagaimana caranya tertawa, buku Kelakar Madura Buat Gusdur menjadi penting. Menjadi angin segar buat diskusi politik yang sekarang bikin panas luar dalam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.