Musik daul
Hari bersama kelompok seni musik daul Pamekasan

Saban taon e madura latanto rame

Banya kelaban badana kerraban sape

Banya rang manca pada datang dari jau

Pade nenggu a kerraban sape madura

e eeee sape menggir duli menggir

e eeee sape menggir duli menggir

lagu berjudul Keraban Sape (Karapan Sapi) dinyanyikan serempak sementara tangan-tangan sibuk memainkan alat musik. Irama saronen (alat musik tradisional Madura), tabuhan gendang, dentingan gamelan berpadu dan menciptakan musik daul yang kuat dan khas.

Musik daul adalah merupakan khazanah seni dan budaya Madura yang akhir-akhir mulai menjadi sorotan, utamanya di kalangan anak muda Madura sendiri. Hal ini diakui oleh Haris, salah satu Ketua Kelompok Musik Daul Pamekasan. Menurut pria yang menekuni seni musik Madura sejak tahun 1998 ini, anak muda Madura, khususnya Pamekasan menaruh perhatian yang cukup besar pada musik daul.

Hal ini nampak pada komposisi pemain musik daul yang tidak lagi didominasi oleh kalangan pemusik senior. Ia menyebut, mayoritas kelompok musik daul di Pamekasan sudah beregenerasi. Anak-anak muda mulai mengisi dan turut ambil bagian dalam pertunjukan musik daul.

“Bahkan anggota yang memainkan alat musik itu ada yang dari SD (Sekolah Dasar), SMP, SMK sampai anak kuliah. Berangkat dari lingkungan, anak muda ini tertarik. Mereka berkumpul atas inisiatifnya sendiri, malah malam minggu itu mereka latihan musik dan membuat lagu,” tutur Haris.

Anak-anak muda ini tersebar di beberapa kelompok musik daul di Pamekasan, dari berbagai latar belakang pendidikan dan kemampuan bermusik yang mumpuni. Talenta muda inilah yang kemudian Haris pilih ketika Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pamekasan mengikut sertakan musik daul dalam kegiatan budaya di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta pada Juli lalu.

“Yang diikutsertakan di TMII adalah beberapa kelompok yang saya pilih dan diambil anggotanya berdasarkan skill mereka,” imbuhnya.

musik daul

Musik daul pada awalnya berasal dari musik patrol yang biasa digunakan untuk membangunkan sahur pada saat bulan Ramadhan. Kemudian berkembang dengan ditambahnya alat musik seperti saronen, gong, kenong, gendang, dan rebana. Lagu-lagu yang dibawakan juga semakin beragam, mulai dari lagu tradisional Madura, lagu dangdut, sampai syi’ir.

Musik tradisional yang bermula di Pamekasan ini pun sering ditampilkan di berbagai acara-acara besar seperti kegiatan kebudayaan, festival, hari-hari besar nasional maupun keagamaan, wisuda, pernikahan, dll. Bahkan semakin dikenal, ruang pentas musik daul semakin luas, tidak hanya lingkup pulau Madura, tetapi merambah ke pentas nasional hingga internasional. Apalagi dengan penambahan dekorasi kereta dorong yang artistik.

“Saya berharap ke depannya agar pemerintah lebih memperhatikan (musik daul) agar diberi pembinaan dan dukungan. Karena musik daul adalah kebudayaan Madura yang ingin kami lestarikan.” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.