tanah rantau
Nagian Imawan (Kiri), Besar bersama nilai-nilai Kemaduraan di tanah rantau

Sejak ratusan tahun yang lalu, Suku Madura memang dikenal sebagai suku perantau. Sebaran Perantau Madura tak hanya di daerah tapal kuda (Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi) tetapi hampir di seluruh daerah di Indonesia. Termasuk di antaranya Provinsi Kalimantan Barat.

Di provinsi “Seribu Sungai” ini, Perantau Madura tetaplah bagian dari Suku Madura meski telah beregenerasi selama puluhan tahun. Nagian Imawan, Ketua Harian Ikatan Keluarga Besar Madura di Kalimantan Barat (IKBM Kalbar) salah satunya. Lahir dan besar di Kalimantan Barat tak lantas membuatnya lupa dengan darah Madura yang diwarisinya dari sang bapak.

“Saya sebagai keturunan (suku) Madura cukup bangga dengan suku Madura yang mempunyai semangat gigih pekerja keras, setia kawan belum lagi adat istiadat yang religius, karenanya walaupun saya kelahiran Kalimantan, sejak mahasiswa saya bersama rekan seperjuangan terus mengembangkan, mengkaji dan membuat terobosan untuk kemajuan warga Madura di Kalbar (Kalimantan Barat).” papar alumnus Program Studi Administrasi Negara, Universitas Tanjungpura (Untan) ini.

Hal itu ia tunjukkan saat menempuh pendidikan di Untan, Pontianak. Pada tahun 1998 pasca lengsernya Orde Baru, bersama kawan dari Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Ilmu Syari’ah Syarif Abdurrahman (STIS) dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Nagian mendeklarasikan HIMMA (Himpunan Mahasiswa Madura) Kalbar.

Tujuannya saat itu ingin mendorong dan memotivasi agar anak muda Madura melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Hingga tahun 2018 ini HIMMA masih eksis dan sudah menggelar Musda/Mubes ke-11. Nagian dkk juga membentuk Yayasan Sosial Insan Khatulistiwa (YSIK). Di mana salah satu programnya menerbitkan buletin Segara Media yang memberikan opini seimbang tentang keberadaan warga Madura di Kalbar saat itu.

Aktivitas kemaduraan Nagian berlanjut saat bergabung dengan Ikatan Keluarga Besar Madura (IKBM Kalbar) pada tahun 2000. Lewat wadah ini ia lebih mempunyai ruang dan panggung untuk mengelaborasi tentang Madura di Kalimantan Barat dalam semua dimensi kehidupan sosial, politik, budaya dan ekonomi.

Di organisasi inilah kini Nagian didapuk sebagai Ketua Harian IKBM selain aktivitasnya sebagai ketua DPD sebuah partai politik dan pengusaha properti.

Gagasan Pulau Madura Menjadi Basis Kemajuan Pesantren di Indonesia

Nagian Imawan (kanan) bersama Ketua Umum IKBM, H. Sukiryanto dan Kiayi Madura. 

Menurut Nagian, potensi besar Pulau Madura untuk lebih maju tak lepas dari peran para perantaunya. Salah satu contohnya adalah jumlah santri yang mondok di pesantren Madura banyak dari perantau Madura atau anak-anak yang ikut orang tuanya merantau. Oleh karenanya, Pulau Madura harus dikembangkan menjadi basis kemajuan pesantren di Indonesia.

“Infrastruktur pesantren harus ditingkatkan sehingga peran dan eksistensinya terus meningkat. Anak-anak madura di rantau disamping memiliki hubungan historis dan sosiologis semakin termotivasi untuk menimba ilmu di Madura.” ujar Nagian.

Baginya, pesantren adalah salah satu pengikat dan perekat hubungan kekerabatan kebudayaan yang cukup penting dalam keberlangsungan kultural madura dimanapun berada.

“Suku dan budaya sudah menjadi sunnatullah oleh karenanya tidak dibatasi oleh jarak dan wilayah tempat tinggal. Setiap suku bangsa memiliki leluhur yang berbudi luhur sehingga diwariskan secara turun temurun seperti budaya dan adat istiadat.” pesan Nagian pada generasi muda Madura di tanah rantau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.