pelabuhan kamal

“Setiap perubahan, bahkan untuk yang lebih baik, selalu disertai dengan kekurangan dan ketidaknyamanan.” – Arnold Bennet

Loket kosong. Tak ada penjual tiket maupun calon penumpang yang mengantre. Pedagang kaki lima yang dulu menjamur di area pelabuhan, bahkan pedagang asongan yang hilir mudik menjajakan dagangan nyaris tak terlihat. Tidak ada hiruk-pikuk berarti kecuali segelintir petugas pelabuhan yang menunggu calon penumpang di bibir dermaga dengan tiket di tangan.

Kapal feri Joko Tole yang bersandar di dermaga pun nampak lengang, hanya beberapa kendaraan bermotor yang mengisi dek bawah kapal. Kursi-kursi penumpang di dek atas juga sama sepinya. Meski demikian, masih nampak pedagang asongan yang menawarkan dagangan dan cara berjualannya yang khas. Permen jahe, buku agama, dan kerupuk ikan dibagikan ke masing-masing penumpang untuk diambil kembali kecuali penumpang tertarik membeli. Di sisi kiri area dek atas, juga masih ada pedagang kupang lontong, gado-gado dan siomay.

Peluit ditiup, sauh dilepas. Video prosedur keselamatan penyebrangan versi jaman dulu diputar. Joko Tole siap berangkat, membawa penumpang menyebrang dari pelabuhan Kamal, Madura menuju Pelabuhan Ujung, Surabaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.