Desa Kolpo adalah sebuah desa yang sangat indah, tanahnya subur, sungai mengalir sepanjang tahun. Tanah yang subur dan ketersediaan air sepanjang tahun menjadikan tanaman para penduduk di ladang tumbuh dengan baik. Di desa ini, penduduknya hidup makmur dan penuh kerukunan. Hidup saling tolong menolong dan saling menghormati.

Suatu pagi, ketentraman desa Kolpo mulai terusik. Sapi-sapi milik penduduk mulai hilang satu persatu. Mereka saling bertanya siapakah yang telah mencuri sapi-sapi mereka.

“Apakah kalian menemukan jejak kaki yang sangat besar di dekat kandang sapi kalian?” Pak Rasid yang bertubuh kurus membuka pembicaraan.

Beberapa penduduk desa Kolpo yang sedang berunding dengan Pak Rasid saling memandang, lalu secara bersamaan mengangguk.

“Benar, saya melihat jejak itu di halaman rumahku,” Pak Satiman yang berambut ikal mengiyakan.

“Ya saya juga melihatnya,” jawab yang lain setuju.

“Kalau begitu, berarti yang mencuri sapi-sapi kita adalah raksasa. Bukankah di dalam hutan ada raksasa yang bernama Mak Teleng?” Pak Rasid berucap dengan begitu yakin.

“Mungkin di dalam hutan sudah tidak tersedia makanan lagi untuknya,” Pak Satiman mencoba mengira-ngira apa yang menyebabkan raksasa itu mencuri sapi.

“Wah ini berbahaya, jika sapi-sapi kita sudah habis di makannya, bisa jadi dia akan memakan anak-anak kita,” Pak Rasid mengusap-usap wajahnya penuh kekhawatiran.

“Kita harus segera menemui Pak Kepala Desa, dan melaporkan kejadian ini kepadanya,” lanjut Pak Rasid.

Pak Rasid dan Pak Satiman serta warga yang lain langsung menuju ke rumah Pak Kepala Desa. Sesampainya di sana, mereka disambut baik oleh Pak Kepala Desa. Pak Kepala Desa dan warga duduk melingkar di teras rumah Pak Kepala Desa yang luas. Dengan seksama Pak Kepala Desa mendengarkan pengaduan warganya.

“Baiklah, saya mengerti keresahan warga sekalian. Saya pun demikian, juga sangat resah,” Pak Kepala Desa menghela nafas, diam sebentar.

Setelah meneguk kopi yang disajikan istrinya ia berucap, “Bapak-bapak sekalian, untuk saat ini yang bisa kita lakukan adalah mencegah Mak Teleng untuk mencuri sapi-sapi kita.”

Pak Kepala Desa diam sebentar. “Bagaimana kalau begini saja, kita buat kesepakatan dengan Mak Teleng agar dia berhenti mencuri sapi-sapi dan berjanji tidak akan memakan anak-anak.”

“Bagaimana kesepakatannya Pak Kepala Desa?” tanya Pak Rasid.

“Apakah bapak-bapak masih menyimpan hasil panen musim kemarin?” Pak Kepala Desa balik bertanya.

“Masih Pak Kepala Desa,” jawab Pak Rasid mewakili warga yang lainnya.

“Berarti persediaan hasil panen untuk kalian makan masih ada?” tanya Pak Kepala Desa lagi.

Pak Rasid dan warga yang lain mengangguk.

“Baiklah, bagaimana kalau kita menyerahkan tanaman kita yang sedang tumbuh di ladang kepada Mak Teleng?” saran Pak Kepala Desa.

Pak Rasid dan warga yang lain saling berpandangan. Setelah saling berbisik Pak Rasid kemudian angkat bicara. “Jika itu dirasa baik, kami setuju Pak Kepala Desa.”

“Kalau begitu, Pak Rasid dan Pak Satiman, ikutlah dengan saya besok pagi untuk menemui Mak Teleng.”

Pak Rasid dan Pak Satiman bersedia dengan ajakan Pak Kepala Desa. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Pak Kepala Desa, Pak Rasid, dan Pak Satiman berangkat menuju hutan untuk menemui Mak Teleng.

“Mak Teleng, apakah kamu yang sudah mencuri sapi-sapi milik warga?” tanya Pak Kepala Desa setelah bertemu dengan Mak Teleng.

Mak Teleng yang baru bangun menguap berkali-kali. “Ya, kenapa? Habisnya saya lapar sekali. Di hutan ini sudah jarang sekali binatang. Tumbuh-tumbuhan di hutan ini juga belum ada yang berbuah.”

“Baiklah, kami mengerti. Kami akan memberikanmu makan, asal kamu mau berjanji dua hal,” Pak Kepala Desa memulai perundingan.

“Benarkah? Kalian akan memberiku makan?” Mak Teleng langsung sumringah.

Pak Kepala Desa mengangguk, mencoba meyakinkan Mak Teleng. “Silahkan kau ambil semua tanaman di ladang kami yang berada di dekat hutan. Tapi kamu tidak boleh mencuri sapi-sapi warga lagi dan tidak akan pernah memakan anak kecil.”

“Saya setuju,” Mak Teleng tersenyum senang, ia langsung menyetujui kesepakatan itu.

Sejak saat itu, tidak ada lagi sapi-sapi warga yang hilang. Warga desa Kolpo kembali hidup tentram, mereka sudah tenang dan tidak lagi khawatir.

Namun kesenangan ini tidak berlangsung lama. Warga kembali resah, sebab Mak Teleng makan begitu banyak dan begitu cepat. Belum ada sebulan, semua tanaman warga di ladang sudah hampir habis dimakannya.

Warga kembali menemui kepala desa. Mereka melaporkan apa yang terjadi.

“Pak Kepala Desa, bagaimana ini? Jika tanaman kita di ladang sudah habis, bagaimana kita akan memberi makan Mak Teleng lagi?” tanya Pak Rasid penuh kekhawatiran.

“Benar Pak Kepala Desa. Jika kita memberikan hasil panen musim kemarin, kita nanti akan makan apa?” tanya Pak Satiman tidak kalah khawatirnya.

Pak Kepala Desa kebingungan. Kali ini ia tidak memiliki jalan keluar lagi. Ia membuka peci hitamnya, dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Kami mohon Pak Pak Kepala Desa kembali membantu kami,” pinta Pak Rasyid.

Warga yang lain juga ikut mendesak Pak Kepala Desa untuk segera mengambil tindakan.

“Tenang…. tenang…. saya harap bapak-ibu sekalian tenang. Beri saya waktu sebentar untuk berpikir,” Pak Kepala Desa menenangkan warganya yang mulai gaduh.

Pak Kepala Desa kembali memakai peci hitamnya. Ia memijat-mijat keningnya, berpikir jalan keluar apa yang akan diberikan kepada warganya. Tiba-tiba Pak Kepala Desa teringat kepada seseorang.

“Bapak-ibu, sebaiknya kita menemui Kiyai Rahman saja, saya yakin beliau bisa membantu kita mencari jalan keluar,” dan warga menyetujui saran dari Pak Kepala Desa.

Kiyai Rahman adalah sesepuh desa Kolpo, ia adalah seorang Kiyai yang sangat disegani dan dihormati karena ilmu agama yang dimilikinya. Kiyai Rahman mengajari anak-anak desa Kolpo mengaji, menjadi imam di masjid desa, juga menjadi tempat bertanya warga perihal urusan agama.

Saat Pak Kepala Desa dan warga datang, Kiai Rahman sedang mengaji. Ia menutup Al-qur’annya dan segera menemui Pak Kepala Desa dan warga.

Di hadapan Kiai Rahman, Pak Kepala Desa langsung menceritakan kejadian yang beberapa hari ini terjadi di Desa Kolpo. Tentang sapi-sapi warga yang hilang karena di curi Mak Teleng. Tentang kesepakatan yang dibuat bersama Mak Teleng, dan tentang kekhawatiran mereka karena Mak Teleng hampir menghabiskan tanaman warga.

“Besok kita temui Mak Teleng bersama-sama, tolong bawakan sepiring nasi dilengkapi sayur dan ikan asin,” pinta Kiyai Rahman.

Pak Kepala  Desa dan warga kebingungan, tidak mengerti dengan maksud Kiyai Rahman. Untuk apa sepiring nasi yang dilengkapi sayur dan ikan asin? Namun Pak Kepala Desa dan Warga tidak berani bertanya lebih lanjut. Permintaan Kiyai Rahman adalah perintah bagi mereka.

Dipimpin oleh Kiyai Rahman, Pak Kepala Desa bersama warga bersama-sama menemui Mak Teleng yang sedang berada di ladang salah satu warga. Ia sedang memakan tanaman warga yang masih tersisa. Ia nampak lahap dan makan dengan rakus. Kedua tangannya bergantian memasukkan tanaman ke dalam mulutnya dengan begitu cepat.

“Assalamualaikum, Mak Teleng,” Kiyai Rahman mengucapkan salam.

Mak Teleng tidak menjawab, ia terus makan dengan lahap.

“Assalamualaikum, Mak Teleng,” Kiyai Rahman lebih mengeraskan suaranya.

Mak Teleng menoleh, namun tetap tidak menjawab salam Kiyai  Rahman.

“Ada apa? Jangan menggangguku, saya sedang makan,” jawab Mak Teleng.

“Saya tidak bermaksud mengganggumu, saya malah membawakan makanan untukmu,” tutur Kiyai Rahman.

“Oh ya?” Mak Teleng melebarkan matanya tanda senang.

Kiyai Rahman meminta Pak Rasid yang bertugas membawa sepiring nasi untuk maju ke depan.

Pak Rasid maju ke depan, menghampiri Kiyai Rahman. Ia menyerahkan sepiring nasi yang dibawanya. Lalu mundur kembali ke barisan warga yang berdiri di belakang Kiyai Rahman.

“Makanlah nasi yang kami bawakan ini!” Kiyai Rahman mengulurkan nasi di tangannya kepada Mak Teleng.

Mak Teleng tertawa terbahak-bahak. “Kamu meminta saya memakan nasi itu?”

Kiyai Rahman mengangguk.

“Kamu pikir makanku sedikit? Lihatlah, tanaman seladang saja belum mampu membuatku kenyang. Tapi kau malah meminta saya cuma memakan sepiring nasi?” cibir Mak Teleng.

“Kau makanlah dulu, saya pastikan kamu pasti kenyang meski hanya memakan sepiring nasi saja,” Kiyai Rahman tidak menyerah dengan penolakan Mak Teleng.

“Baiklah, bagimana jika perkataanmu tidak terbukti?” tantang Mak Teleng.

“Kau boleh memakan semua sapi warga,” jawab Kiyai Rahman memberikan jaminan.

Warga terkejut dengan jawaban Kiyai Rahman. Mereka tidak setuju, bagaimana jika perkataan Kiyai Rahman tidak terbukti. Melihat warganya mulai riuh, Pak Kepala Desa segera menenangkan mereka. Ia meyakinkan warganya jika Kiyai Rahman tidak mungkin bertindak ceroboh.

Mak Teleng sedikit membungkuk, ia mengambil piring yang diulurkan oleh Kiyai Rahman. Ia akan memakannya dalam satu kali lahapan saja.

“Tunggu Mak Teleng,” cegah Kiyai Rahman saat Mak Teleng membuka mulutnya dan hendak memakan nasi tersebut.

“Kau melupakan sesuatu,” lanjut Kiai Rahman. “Bacalah basmalah dan berdoalah sebelum makan.”

Mak Teleng mengernyitkan dahinya.

“Ikutilah saya!” Kiyai Rahman lalu menuntun Mak Teleng membaca basmala dan membaca do’a sebelum makan.

Mak Teleng langsung melahap sepiring nasi dari Kiyai Rahman. Ia mengunyahnya secara perlahan. Dan ia benar-benar merasakan sebuah keajaiban. Perutnya yang selalu merasa lapar tiba-tiba merasa kenyang.

“Wah, saya merasa kenyang,” Mak Teleng keheranan.

Kiyai Rahman tersenyum. Dan wargapun bernafas lega. Betul kata Pak Kepala Desa, Kiyai Rahman tidak mungkin berbuat ceroboh. Wargapun semakin mengakui kebijaksanaan dan kepintaran yang dimiliki oleh Kiyai Rahman.

“Terima kasih sudah membantuku,” ucap Mak Teleng. Ia merasa sangat senang, sebab sebenarnya ia juga sangat tersiksa dengan perutnya yang selalu lapar.

Mak Telengpun kembali ke dalam hutan. Ia tidak perlu lagi khawatir akan kelaparan dan kehabisan makanan. Sebab dengan membaca basmalah dan berdo’a sebelum makan, makan satu buah saja sudah membuatnya merasa kenyang.

Note:

  1. Cerita ini adalah salah satu dongeng yang sering ibu ceritakan sewaktu saya kecil. Saya menambahkan beberapa tokoh dan kejadian tanpa merubah alur cerita. Tujuannya agar cerita menjadi lebih utuh.
  2. Desa Kolpo sendiri merupakan salah satu desa di Kabupaten Sumenep, Madura.
  3. Kondisi masyarakat dalam cerita ini merupakan gambaran kondisi masyarakat Madura, dimana peran seorang kiai/ulama sangatlah penting dalam menyelesaikan sebuah permasalahan.

*Penulis: Luluk RA, Perantau Madura dari Desa Jangkar, Tanah Merah, Bangkalan.