Anda boleh menyebut saya pemimpi besar atau pengkhayal besar ketika membaca tulisan di bawah ini. Anda pun bebas menganggap saya sedang membranding diri, beromong kosong atau sedang meracau. Anda bebas berpendapat sebagaimana saya membebaskan diri menulis catatan ini.

Namun sebelum saya memulainya, izinkan saya mengenalkan diri sebagai manusia Madura yang tinggal di tanah rantau, Jakarta. Saya Ifaikah Kalidin, lahir dan besar di Kabupaten Bangkalan, Madura. Selepas Sekolah Dasar (SD), saya menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Albar, Bangkalan. Lulus mondok, saya hanya mengantongi ijazah sekolah madrasah dan ijazah Paket B (setara SMP). Berbekal ijazah itu saya memutuskan merantau ke Jakarta. Pilihan yang berat namun harus saya lakukan demi sebuah cita-cita.

Sayangnya, mendapatkan pekerjaan di Ibu Kota tidaklah semudah yang dipikirkan. Standar pekerjaan untuk pemilik ijazah setara SMP berkisar di asisten rumah tangga, penjaga toko, baby sitter, dan OB. Beberapa bulan menjajal beberapa pekerjaan, akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Gagal? Pada awalnya saya berpikir demikian. Tapi saya menyadari satu hal, bekal ijazah yang saya miliki tidaklah cukup. Saya pun mengikuti program Paket C (Setara SMA), dan ikut kursus komputer. Lalu kembali lagi ke Jakarta, dan saya lebih beruntung dari sebelumnya. Saya mendapatkan standar pekerjaan yang sesuai dengan ijazah, kemampuan mengoperasikan komputer dan kerja keras. Pekerjaan (dan bantuan keluarga tentunya) inilah yang membawa saya kuliah dan akhirnya merantau sampai saat ini.

Pertanyaannya, mengapa saya yang lulusan pondok pesantren harus merantau? Kenapa tidak menjadi Ustadzah dengan bekal pendidikan agama? Atau mencoba pekerjaan lainnya?

Alasan pertama, saya ingin mengejar cita-cita sebagai wartawan. Ke dua, saya masih bermental pencari kerja bukan pencipta kerja. Ke tiga, sama halnya dengan guru honorer, gaji Ustazdah adalah sebuah keikhlasan. Keempat, minimnya lapangan pekerjaan. Ke lima, saya belum mau menjadi petani dan meneruskan trah petani yang diwariskan oleh keluarga (dulu berpikir, masih muda, nanti aja pas tua).

Saya berpikir dengan merantau saya bisa membantu perekonomian keluarga menjadi lebih baik. Barangkali, hal inilah yang juga dirasakan teman-teman perantau Madura lainnya. Merantau adalah jalan satu-satunya, bukan lagi menjadi pilihan. Tak percaya, jika anda orang Madura, coba tengok dalam satu keluarga ada berapa orang yang merantau? Dalam satu kampung ada berapa keluarga yang anggota keluarganya merantau? Dalam satu kecamatan hingga kabupaten, ada berapa kampung yang warganya merantau? Jika anda bukan orang Madura, coba tengok, di tempat tinggal anda, ada berapa orang Madura? Di kota anda, ada berapa banyak komunitas Madura?

Jawabannya, banyak. Sayangnya saat saya menulis catatan ini, saya tidak bisa menemukan data konkret berapa jumlah perantau Madura dan penyebarannya di berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri.

Besarnya jumlah perantau Madura setiap tahunnya, (bahkan ada teman yang meledek saya dengan bilang, “Balik ke Jakarta, jangan membawa saudara”) seolah menjadi penegas bahwa pulau ini sungguh ‘gersang’. Padahal jika ditelisik lebih jauh, pulau Madura memiliki potensi yang sangat besar. Mulai dari sumber daya manusia, pendidikan, wisata, kuliner, dan hasil buminya. Dan fakta ini sudah ada sejak jaman dulu, banyak literatur yang membahasnya. Dan bisa jadi, saya menulis catatan ini sudah basi karena kita sama-sama tahu bagaimana besarnya potensi pulau ini.

Sebuah Kabar Sedih di Tanah Rantau

19 Maret 2018, seorang Tenaga Kerja Indonesia asal Bangkalan di Saudi Arabia, Zaini Misrin dieksekusi hukuman mati karena dituduh membunuh majikannya. Menurut keterangan Migrant Care, proses peradilan Zaini melanggar Hak Asasi Manusia. Sebagai sesama perantau, sesama manusia kabar ini tentulah menyakitkan hati saya. Bagaimana jika hal itu terjadi pada saya, saudara saya, teman saya dan manusia lainnya yang juga merantau?  Zaini Misrin, dan perantau lainnya, mengorbankan dirinya jauh dari tanah lahir demi keluarga meski nyawa menjadi taruhannya.

Ah, belum lagi anggapan orang-orang jika merantau adalah sebuah kesuksesan yang ditandai dengan kemapanan materi, gelar dan gengsi. Stigma inilah yang membuat generasi perantau terus lahir. Anak mudanya berbondong-bondong merantau karena lebih menjanjikan. Saya termasuk di antaranya. Tetapi suatu ketika, kesadaran itu muncul. Bahwa saya tidak selamanya merantau, saya akan pulang. Saya mungkin bisa sukses di tempat rantau tetapi bagaimana ketika saya memutuskan untuk benar-benar pulang? Bisakah saya sukses juga? Bisakah saya mendapatkan pekerjaan?

Ketakutan seperti ini adalah bukti ketidakmampuan dan ketidakpercayaan saya pada tanah lahir sendiri. Berharap ada perubahan ketika saya pulang. Tapi siapa yang akan membuat perubahan? Menunggu orang lain yang melakukannya? Berpangku tangan dan menunggu?

Saya ingin pulau Madura tidak hanya menjadi tempat pulang, tetapi tempat hidup sampai akhirnya berpulang ke Sang Maha Pencipta. Saya ingin pulau Madura, menjadi rumah sekaligus tempat mencari nafkah bagi masyarakatnya. Tentu ini bukan perkara mudah tetapi tidak mustahil jika dilakukan.

Saya tidak ingin, masyarakat Madura hanya didengarkan kebutuhan dan harapan-harapannya saat pemilu saja. Mereka didengar lalu ditukar beberapa lembar uang atau sembako. Setelah itu, mereka dilupakan dan kembali berjuang sendiri. Saya rasa kita tak perlu menunggu momen pemilu dan momen-momen tententu untuk mengubah nasib kita. Tak perlu juga menunggu para wakil rakyat, dermawan atau orang lain. Yang kita perlukan hanya kesadaran diri, kemauan diri, mendermakan diri dan sebuah bekerjasama.

Saya memang bermimpi terlalu besar tetapi saya yakin sebuah harapan dan mimpi Madura menjadi lebih baik adalah mimpi anak-anak yang orang tuanya, saudara, temannya pergi merantau jauh. Harapan orang tua yang hatinya selalu dag dig dug kala menonton berita tentang tempat rantau anaknya.

Menggugah kembali kesadaran diri, saya dan teman-teman Madura membuat gerakan yang tergabung dalam komunitas Narantau Madura. Melalui Narantau Madura, kami ingin menciptakan semangat dan harapan baru tentang Madura yang lebih baik.

Gerakan ini tidak sendiri. Ini gerakan kolaborasi dan siapapun bisa berkontribusi.

* Penulis: Ifaikah Kalidin, Perantau Madura dari kabupaten Bangkalan yang saat ini tinggal di kota Jakarta.