Si Pulau Garam, begitulah orang-orang menjuluki pulau Madura. Bukan tanpa alasan, ada sejarah panjang yang membuat pulau ini tersohor dengan julukan itu. Kisah panjang garam di pulau ini menyiratkan ikatan erat manusia Madura dengan alam sekitarnya.

Sejak zaman Pemerintahan Belanda Pulau Madura dikenal sebagai wilayah penghasil garam. Hal ini ditandai dengan didirikannya pabrik garam di Kalianget, Sumenep pada tahun 1914. Perusahaan Belanda juga membangun sejumlah fasilitas, di antaranya gedung pembangkit tenaga listrik, gedung pendingin, gedung produksi garam, cerobong asap, dan perumahan bagi karyawannya.

Kondisi geografis pulau Madura memang sangat cocok untuk membudidayakan garam laut. Madura dikenal bermusim kering lebih panjang, sedikit curah hujan,  tak banyak sungai dan sumber air tawar. Suhu rata-rata 26,9 derajat celsius, dengan kemarau panjang antara 4 sampai 5 bulan. Daratan Madura relatif datar di sisi Selatan, dengan dataran tinggi di tengah, dan pantai Utara yang berbeda ketinggian. Kondisi geografis ini membuat daerah sepanjang pantai selatan Madura memiliki air laut berkadar garam tinggi dan menghasilkan garam.

Sebelum dikelola secara besar-besar oleh perusahaan Belanda, masyarakat Madura sudah lebih dulu swakelola. Proses pembuatan garam rakyat itu kerap disebut cara ‘Madurese’: cara orang Madura. Secara singkat, cara ‘Madurese’ adalah pembuatan garam dengan kristalisasi air laut secara total, garam diambil mulai dari lapisan terbawah hingga atas. Para petani garam secara tradisional memindahkan air laut antarmeja garam. (National Geographic)

Kristal Putih dari Samudera

Dalam bukunya Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura 1850 – 1940, Kuntowijoyo mencatat proses pembuatan garam yang berkembang di Madura. Menurutnya, cara produksi garam cukup sederhana. Plot-plot seperempat bau disiapkan dan air laut dialirkan melalui kanal-kanal. Jalan-jalan kecil dibuat di antara plot-plot untuk mengeluarkan garam saat siap diambil.

Pemerintah kolonial lantas mencatat tiap-tiap plot, membuat perkiraan produksi pada bulan April, lantas membayar uang muka pada Mei.

Periode penguapan untuk sekali panen antara 25 sampai 28 hari. Selama periode penguapan jumlah air berkurang, dan mengering bersamaan dengan itu pula kristal garam terbentuk. Waktu kristalisasi juga cukup pendek lantaran angin kemarau yang bertiup dari Jawa Timur—angin gending. Kedua faktor itu sangat penting dalam keberhasilan produksi. Setelah itu garam siap dikais dan dipindahkan ke tempat kering.

Untuk pengeringan, garam dijemur selama 4 sampai 10 hari di bawah terik Matahari dan diangin-anginkan. Pada malam hari, garam dilindungi dari air hujan dengan daun kajang atau dengan alang-alang. Setelah itu, garam dikirim oleh produsen garam ke depot-depot pemerintah. Garam ditimbang, dan harga jualnya ditentukan.

Pada saat yang bersamaan, setelah plot-plot dibersihkan dari sisa-sisa garam, dan produksi kedua pun dimulai. Pada akhir September, panen garam ketiga dan musim garam pun berlalu.

Tradisi pembuatan garam telah menjadi  bagian tak terpisahkan dari kehidupan petani garam di Madura. Dulu petani garam sempat mencicipi kejayaan industri ini hingga dijuluki Pulau Garam. Kini mereka justru harus bersaing dan bertahan dengan gempuran garam yang diimpor pemerintah.

NARANTAU MADURA