Beberapa tahun silam, kata literasi terdengar awam di telinga masyarakat Madura. Padahal literasi telah tumbuh bersama kehidupan masyarakatnya. Jauh sebelum pengertian literasi itu ada dan kini marak didengungkan melalui berbagai kegiatan.

National Institut for Literacy menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Sedangkan Education Development Center (EDC) juga turut menjabarkan pengertian dari literasi, yaitu kemampuan individu untuk menggunakan potensi serta kemampuan yang dimilikinya, dan tidak sebatas hanya kemampuan baca tulis saja.

Dengan penjelasan dua lembaga di atas, sudahkah masyarakat Madura berliterasi? Ya, tentu saja masyarakat Madura sudah mengenal literasi atau berliterasi. Lalu bagaimana orang Madura berliterasi?

Menilik dari sejarahnya, sebagai pulau yang pernah menjadi pusat karesidenan dan berafiliasi dengan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa hingga pendudukan Belanda, kegiatan literasi di pulau ini sangat berkembang. Munculnya babad Madura adalah satu bukti bahwa di masa lampau pulau ini telah memulai kegiatan literasi. Bahkan kemudian dilanjutkan dengan kemunculan karya sastra lisan seperti dongeng, lok alok, syi’ir, dan paparèghân (puisi pendek)Kegiatan belajar-mengajar di sekolah, surau hingga pesantren pun merupakan wujud dari kegiatan literasi.

 

Tak jauh berbeda dengan masa sebelumnya, kegiatan literasi di pulau Madura saat ini tetap berjalan dan justru semakin berkembang. Hal ini ditandai dengan munculnya gerakan literasi dalam rupa rumah baca atau perpustakaan jalanan. Menurut data Pustaka bergerak Indonesia (PBI) yang diperbarui pada 01/02/2019, rumah baca mandiri/perpustakaan jalanan di empat kabupaten di pulau Madura berjumlah 51. Dengan rincian, Kabupaten Sumenep 29, Kabupaten Sampang 4, Kabupaten Pamekasan 14 dan Kabupaten Bangkalan 5. Jumlah ini belum termasuk perpustakaan yang belum terdaftar di data simpul PBI.

Masifnya pertumbuhan rumah baca mandiri atau perpustakaan jalanan ini tak lepas dari peran dan kepedulian masyarakat Madura terhadap dunia literasi, khususnya di daerah masing-masing. Seperti yang disampaikan oleh Nurmainnah, salah satu inisiator rumah baca Rumah Kubuku di kampung Bujur, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kwanyar, Bangkalan.

“Karena literasi memiliki ikatan kuat dengan kepentingan hidup manusia. Artinya membaca juga penting untuk kehidupan keseharian bukan semata di dunia akademik dan tradisi keilmuan. Karena membaca tidak berhenti pada hal-hal yang tekstual tapi lebih dari itu membaca juga termasuk pada demensi konseptual.” tuturnya. Bersama seorang kawan dan didukung para pemuda di desanya, Nurmainnah pun mendirikan rumah baca.

literasi
Kegiatan menggelar buku Rumah Kubuku

“Mereka antusias membaca apabila ada yang menggerakkan, ada fasilitas. Apalagi di sebuah kampung, mereka hanya bisa membaca buku pelajaran yang ada di sekolah.
Karena setelah kita fasilitasi mereka sangat antusias sekali memilih buku yang mereka suka dan membacanya,” ujarnya.

Di bagian lain pulau Madura, yakni Kabupaten Pamekasan, rumah baca Compok Literasi hadir menjadi alternatif bagi masyarakat di Desa Bangkes, Kecamatan Kadur. Arinal M Ghifari, pendiri rumah baca menuturkan, kegiatan literasi di desanya memang perlu didukung fasilitas seperti perpustakaan atau rumah baca.

“Kalau di desa itu begini, orang-orang itu tahu membaca itu bermanfaat tetapi hanya sebatas pengetahuan. Akan tetapi pada titik implementasinya, pembiasaan, pembudayaannya belum ada. Maka membuka Compok Literasi itu untuk tujuan itu. Yang kami sasar adalah pemudanya karena compok literasi itu dekat dengan sekolah dasar, jadi lebih mengenalkan ke generasi mudanya,” ungkap pemuda yang juga mendirikan Komunitas Literasi Berkaki ini.

literasi
Anak-anak sedang menikmati fasilitas rumah baca Compok Literasi

“Sementara untuk yang dewasa, akan dibuat program, lebih lanjut ketika aktif di sini, seperti diklat atau pelatihan di bidang literasi. Maksudnya kegiatan literasi tidak hanya pada baca tulis tetapi kreativitas, inovasi dan hal-hal lainnya.” tambahnya.

Sama halnya dengan Arinal, Nurmainnah pun mencoba membudayakan membaca sejak dini. Ia bersama tim Rumah Kubuku kerap berkreasi agar anak-anak atau masyarakat di kampungnya tetap bersemangat membaca buku.

“Membaca tidak hanya berhenti setelah mereka bisa membaca dan setelah itu mereka menjauh dari buku. Kita harus mengajari mereka membaca dengan teknik yang menyenangkan agar setelah bisa membaca mereka suka membaca.” pungkasnya.