zawawi imron
Zawawi Imron bersama Olivia Zalianty dalam peluncuruan buku antologi puisi di JCC
Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mata air air matamu ibu, yang tetap lancar mengalir

Tahu penggalan puisi berjudul Ibu di atas? Puisi karya sastrawan dan budayawan besar dari Madura, D Zawawi Imron ini tersohor tak hanya di tanah kelahirannya tetapi melanglang buana hingga mancanegara. Bahkan beberapa karyanya mendapatkan apresiasi di berbagai penghargaan bergengsi.

Dalam acara peluncuran Buku Antologi Puisi ‘Segugus Percakapan Cinta di Bawah Matahari’ (09/2017) di Jakarta Convention Center (JCC), sang penyair berbagi kisah bagaimana awalnya berkenalan dengan puisi. Zawawi mengatakan, puisi-puisinya berangkat dari ‘kebodohannya’.

Pada saat itu ia hanyalah anak lulusan SR (Sekolah Rakyat, setara SD) dan melanjutkan pendidikan atau mondok di pesantren tradisional. Tidak ada sekolah madrasah tetapi ada kegiatan membuat puisi-puisi keagamaan berupa Syi’ir yang kaidahnya sama dengan syair Arab.

“Tertarik, saya pun mulai menulis di pondok. Tetapi kata ustad yang ponakannya kyai, kalau orang tidak belajar ilmu Nahwu dan Shorrof, puisinya pasti jelek. Usia saya waktu itu 17 tahun, mendengar hal itu saya sempat sakit hati, tersinggung dan saya pun tidak ikut teman-teman menulis.”

Menarik diri dari kegiatan menulis syair, bukan berarti Zawawi kehilangan ketertarikannya pada puisi. Ia diam-diam menulis syair menggunakan bahasa Indonesia. Ia beranggapan, tidak ada yang bisa menyalahkan puisi berbahasa Indonesianya karena saat itu sang ustad masih belum lancar berbahasa Indonesia. “Setelah itu saya ketagihan menulis puisi.” lanjutnya.

Pidato Soekarno dan Puisi yang Bermuatan Listrik

Selepas mondok dan mengajar di Madrasah Ibtidaiyah, Zawawi terus menulis puisi dan memperbaiki puisi-puisi yang telah dibuatnya. Menurutnya, sebagai anak desa intelektualnya masih sangat rendah sehingga ia banyak membaca buku sejarah. Bahkan ia membaca pidato-pidato Soekarno.

Menariknya, ada salah satu pidato Soekarno yang sangat membekas di hati Zawawi hingga kini. Pidato itu adalah Vivere Periscoloso yang dibacakan Bung Karno saat 17 agustus 1964. Menurut Zawawi, ada alinea yang sangat menghargai sastra.

Alinea itu berbunyi “Saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Salah seorang penyair kita, Chairil Anwar namanya mengatakeun, Aku mau hidup seribu tahun lagi. Aku kagum pada kalimat ini. Soekarno juga ingin hidup seribu tahun, tapi mana mungkin, seratus tahun saja belum mungkin. Walaupun demikian, cita-cita kemerdekaan yang ku tanamkeun di hati bangsaku, hati rakyatku, haqqul yakin akan hidup sampai seribu tahun.”

Saking membekasnya, Zawawi kerap membawakan dan menirukan gaya Soekarno dalam acara pembacaan puisi.

“Saya memiliki keyakinan bahwa yang namanya puisi itu adalah kata-kata yang bermuatan listrik. Kalau didengar itu ada gemetarnya. Saat itu saya menjadi sangat fanatik, saya tidak akan menulis puisi kalau saya tidak bergetar duluan.” ungkapnya. Hal yang sama juga berlaku saat membaca puisi. Yang paling penting saat membaca puisi yang bisa menggetarkan para pendengar adalah hati pembacanya dulu yang bergetar.

Bagaimana membuat puisi yang beraliran listrik? Zawawi menitipkan pesan sederhana:

“Saya tidak punya tips apa-apa. Tetapi jika anak muda terus menulis dan rajin, terlebih puisi yang bertumpu pada hati nurani, akhlak mulia dan kerukunan di negeri ini, masih bisa dipelihara.” Tambahnya.

Salam Narantau Madura!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.