Belakangan ini, media sosial ramai sekali membicarakan satu sosok yang sangat fenomenal. Bukan karena sepak terjangnya yang dibangun selama puluhan tahun tetapi karena skandal korupsinya. Ya, sosok itu tak lain adalah Setya Novanto, mantan ketua DPR yang kini menjadi tersangka dugaan korupsi E-KTP.

Bicara soal kasus korupsi, saya jadi teringat pada sosok lain yang menjadi teror menakutkan bagi para koruptor, Hakim Agung, Artidjo Alkotsar. Saking menakutkannya, dalam novel biografi yang ditulis Haidar Musyafa menyebut, “Sampai-sampai ada bisik-bisik penuh harap di kalangan para koruptor, asal bukan Artidjo hakimnya.”

Seperti apa sih sosok hakim yang berdarah Madura ini hingga sangat menakutkan bagi para koruptor di negeri ini? Berikut ulasannya, yang dikumpulkan dari berbagai sumber.

Calon Mahasiswa Pertanian yang nyemplung ke Mahasiswa Hukum

Ayah dan ibu Artidjo berasal dari Sumenep, namun Artidjo lahir dan besar di Situbondo, Jawa Timur. Berasal dari keluarga petani, ayah Artidjo berharap anaknya jadi insinyur pertanian untuk membantu pekerjaan orang tuanya mengurus sawah warisan nenek moyang. Sekaligus membangun desanya di Madura.

Saat SMA, Artidjo pun mengambil jurusan eksakta dan ingin masuk Fakultas Pertanian. Selepas lulus SMA, Artidjo menitip pun pendaftaran masuk di Fakultas Pertanian pada seorang kenalan. Rencananya pada saat tes, Artidjo akan datang ke Yogyakarta.

Sayangnya ternyata pendaftaran untuk fakultas pertanian sudah ditutup. Kenalan Artidjo yang mahasiwa Fakultas Hukum UII (Universitas Islam Indonesia) pun menyarankan Artidjo agar masuk ke FH UII, kemudian tahun berikutnya baru mendaftar lagi di Fakultas Pertanian.

Meski awalnya tidak disetujui oleh sang ayah, namun karena tidak ada pilihan lain, sang ayah pun mengizinkannya. Akhirnya, Artidjo mendaftar di FH UII yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Namun, ternyata Artidjo merasa betah di Fakultas Hukum dan tidak berminat lagi mendaftar di Fakultas Pertanian.

Pembela Kaum Pinggiran

Sejak mahasiswa, Artidjo aktif melakukan pendampingan advokasi hingga dijuluki advokat kaum pinggiran. Ia membela kasus tebu rakyat di Sumenep, Madura. Ia mengadvokasi petani yang diwajibkan menanam tebu oleh pemerintah kala itu.

Ia juga sering masuk keluar berbagai kota untuk menolong orang yang disangka sebagai penembak misterius (petrus). Kala itu, tahun 1985, banyak orang yang dituduh sebagai gali atau residivis yang langsung ditembak ditempat.

Terbiasa membantu kaum pinggiran, ia pun  terbiasa menghadapi ancaman dan teror. Salah satunya adalah saat ia menangani kasus Santa Cruz di Dili, Artidjo dikirimi ninja untuk menghabisi nyawanya. Namun, itu tak membuatnya surut.

”Senjata saya hanya kebenaran moral. Kalau saya benar secara moral, ya, kita jalan lurus saja. Allah pasti melindungi,” ungkap Artidjo.

Menjadi Hakim Setelah Berkonsultasi dengan Kiayi Madura

Saat pertama kali ditawari menjadi hakim agung oleh Menkum HAM saat itu, Yusril Ihza Mahendra, Artidjo menolak. Di matanya dunia peradilan itu hitam karena sering ada praktek suap-menyuap. Apalagi dalam agama Islam tugas hakim itu berat. Bahkan, Artidjo pernah mendengar, Imam Hanafi (salah satu mazhab dalam Islam) pernah dipaksa sampai digebuki agar mau menjadi hakim. Namun, Imam Hanafi bersikukuh tidak mau karena beratnya tugas itu.

Tapi, Yusril meyakinkan bahwa Artidjo dicalonkan oleh banyak orang  seperti Abdul Hakim Garuda Nusantara. Karena itu, sebelum memutuskan, Artidjo melakukan konsultasi dengan kyai dari Madura. Kyai Madura menyatakan bahwa amanat itu harus diterima. Akhirnya, Artidjo bersedia dan kemudian mengikuti fit and proper test sampai kemudian terpilih menjadi hakim agung.

Teror dan Ancaman Santet

Sepanjang kariernya menjadi hakim Mahkamah Agung, Artidjo Alkostar kerap memperberat hukuman koruptor. Karena itu, tersiar kabar bahwa foto Artidjo dikirim ke Banten untuk disantet oleh pihak lain. Dalam wawancaranya bersama Tempo, ia menjawab, “Kalau main foto itu tingkatannya masih taman kanak-kanak,” ujar dia sembari tertawa kecil.

Berdarah Madura dan tumbuh besar di Situbondo, Jawa Timur, daerah yang terkenal dengan ilmu kebatinannya, ia menyatakan tidak memiliki kekebalan. “Dulu saya memang tinggal di derah carok, tapi saya tidak punya ilmu kebal,” kata dia.

Menurut Artidjo, ilmu hitam itu adanya di tempat matahari terbit. Seperti di Sumenep, Madura; Banyuwangi dan Situbondo, Jawa Timur; serta di tempat matahari tenggelam, seperti Banten. “Jadi kalau melacak keluarga saya di Sumenep pun mereka tidak akan berani,” ujar dia, seperti dikutip dari Tempo.

Artidjo rencananya akan pensiun pada Mei 2018 nanti.

Comments to: Artidjo Alkostar: Hakim Agung Berdarah Madura yang Ditakuti Koruptor

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau