Betapa ayah dan bunda menanti kelahiran setiap gantungan hatinya. Ketika mendengar suara tangis yang tak terbendung, ayah dan bunda juga tiada terkira meneteskan air mata. Yang bunda perjuangkan selama sembilan bulan, akhirnya kini bisa dipeluk dan dicium keningnya. Betapa senyum bunda, Aaah, barangkali para malaikat langsung jatuh cinta ketika melihatnya saat itu.

Akhirnya kita tumbuh, berproses dalam kasih sayangnya. Senyuman, keceriaan bahkan kemarahannya, ia dedikasikan seluruhnya untuk membesarkan anak-anaknya. Lihat, bukan hanya ketika sembilan bulan dalam kandungan saja perjuangan bunda. Hingga kita menginjak remaja, ia berjuang sepenuh kemampuannya untuk para anaknya. Dia berkata, “Bunda tak ingin, anak bunda tak mulia. Bunda tak ingin, hidup anak-anaknya dibeda bedakan,” dengan tegas beliau menyampaikan.

Lalu kita tumbuh, menjadi dewasa. Pergi ke beberapa tempat dengan banyak alasan. Ada yang berpindah sebab alasan berkeluarga, ada yang beralasan sebab karir dan kuliah, atau apa saja yang menjadi alasan kita berpisah dengan bunda.

Namun, bukan bunda namanya jika dia tak pernah berjuang untuk anak-anaknya. Dengan segala keterbatasannya, meski hanya do’a yang ia miliki. Sepenuh do’a itu, ia persembahkan untuk para anaknya. Dia teriakan pada Tuhan, dia ketuk pintu langit. Agar anak-anaknya menemui apa yang mereka cari dan apa yang mereka sebut sebuah kesuksesan.

Berjalannya waktu. Do’a bunda terkabulkan. Satu persatu anaknya mulai berjaya dengan kemuliaan di beberapa tempat. Mulai menemui jalan yang mereka sebut kesuksesan. Dan mereka mulai memiliki kehidupan masing-masing.

Seiring berjalan waktu pula, bunda mulai menua. Sembari masih setia merawat bundanya yang jua sudah begitu renta. Seperti sebuah isyarat sederhana darinya, agar anak-anaknya bisa mencontohnya. Atau sebuah permohonan sederhana yang tak berani ia ungkapkan kepada anak-anaknya, “Bahwa ia kelak, ingin diperlakukan seperti itu jua saat senjanya.”

Kemarin sore, bunda menelepon. Sebab mungkin jarangnya anaknya menelepon untuk sekadar menanyakan kabarnya. Beliau bertanya,” Bagaimana kabarmu? “, dan dilanjutkan dengan banyak ceritanya. Akhirnya sampai pada sebuah pesan yang cukup menyayat kesadaran,” Di rumah sepi. Bunda hanya berdua saja dengan ayah”.

Ya, di titik itulah. Aku mulai merenung. Saat anak-anaknya satu persatu mulai meninggalkan tanah kelahirannya dengan banyak alasan, lantas bagaimana kata berbakti kepada orang tua itu terwujud? Dengan mengirimkannya banyak harta? Atau hanya dengan sekadar do’a, yang kita pun terkadang masih sering lupa.

Maafkan bunda. Maafkan anak-anakmu yang masih belum tahu makna berbakti yang sesungguhnya seperti apa.

Maafkan.

(ghi/13/03)

*Penulis: Arighi, anak asli Pamekasan yang sedang menempuh pendidikan di salah satu Universitas Swasta di Jakarta Timur.

Contributor
Do you like _arighi's articles? Follow on social!
Comments to: Berbakti itu, begini atau begitu?

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau