Sampai pada ganjil itu,
“hijriyah. . Hijriyah 47 kutitipkan masa lalu yg lalu”
Teriakku pada waktu,
yg menjelmakan ketidak pastian urusanku.
Namun aku yakin, pada prosesnya akan menuntunku menjadi manusia baru.


Di pelataran kejujuran jiwaku,
Ku haturkan dosa2 dan kemunafikanku untuk kuperlihatkan padaMu.
Meskipun aku tahu,
Engkau maha tahu.

Dalam rupa yang tiada rupa
Penuh gelap hina dan nistaku,
ku jejerkan pada altar kepasrahan,
Sebagai ikhtiar keikhlasan diri yang tak tau malu ini.

kubenamkan pada matahari genap kembali.

Sampai pada ganjil itu,
“hijriyah. . Hijriyah 47 kutitipkan masa lalu yg lalu”
Teriakku pada waktu,
yg menjelmakan ketidak pastian urusanku.
Namun aku yakin, pada prosesnya akan menuntunku menjadi manusia baru.

“Ini ritual sakralku”,
Bisik hatiku, pada entah yg olehnya menggerakkan kehendakku.
Dialah tuhan,
Kumohon dengan sangat, aku mau jadi wujud baru.
“ini ritualku”,

Dalam suasana hening,
Kukomat kamitkan mantra yg berlafadzkan dosaku.
Penyesalan mengebul menjelma awan gelap.

Hujanlah segala,
Sentuh hati bekuku.
Agar mencair, dan sabda2 itu meresap dalam kesadaranku.

Kuharap wujudku jadi lesap,
Dan lenyap,
Biar aku hilang bentuk lebur.
Nanti aku wujud kembali,
Dengan baik bentuk yg Kau ridhai.

Hancurlah,
Leburlah.

Bawalah aku hijriyah,
Dalam hijrahku.

( Sebuah puisi karya putra madura dari tanah Pamekasan #arighi )

 

Contributor
Do you like _arighi's articles? Follow on social!
Comments to: Hijriyah

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau