Pagi masih gelap. Seorang wanita muda membuka pintu rumah dengan perlahan. Namanya Widya, seorang pewarta berita pada salah satu stasiun televisi swasta nasional. Widya tak mau grasak-grusuk sehingga dapat membangunkan anak balitanya yang masih terlelap. Sampai ia sudah berpakaian rapi, bayinya masih tidur dengan nyenyak. Sesekali bergerak karena raungan suara nyamuk. Sementara suaminya, ikut sibuk membantu membereskan perlengkapan istrinya untuk nanti dipakai di studio.

Widya hari ini mendapat bagian tugas membacakan berita pagi. Setidaknya, ia harus sudah stand by di kantor setengah tujuh pagi. Saat ini baru jam setengah lima. Lalu lintas ibu kota yang tak menentu membuatnya harus membuat estimasi yang banyak agar tak terjebak macet di jalan lalu telat sampai di kantor.

Sudah empat tahun lebih ia berkarir di dunia pertelevisian. Setiap hari, waktunya ia habiskan dengan membawakan informasi-informasi terkini tentang Indonesia dan dunia ke layar kaca agar dapat diketahui khalayak. Terkadang, pun di akhir pekan, ia juga masih berkutat dengan tumpukan naskah berita di meja siar. Suaminya sudah paham sekali dengan profesi isterinya sejak ia menjalin hubungan asmara 5 tahun silam, jauh sebelum menjadi suami-istri.

Ketika di kantor, Widya adalah seorang professional dalam bidangnya. Ia fokus pada tugasnya menyampaikan berita kepada publik. Namun ketika di rumah, Widya tetaplah ibu rumah tangga biasa yang mengurus suami dan anaknya. Membuatkan secangkir teh untuk suaminya, atau menyusui dan mengganti popok anaknya.

Memang begitulah peran ibu, yang pada hakikatnya adalah menjaga rumah dan harta suaminya. Jika pun ia harus beraktifitas di luar tugas utamanya, ia tetaplah wajib menjadikan keluarga sebagai prioritas utama. Karirnya, jangan sampai melupakan terhadap esensi asli dari seorang ibu dan seorang istri. Jika ia bisa menjalani keduanya secara bersamaan, sungguh adalah wanita yang luar biasa. Jikapun tidak, maka sekali lagi, keluarga haruslah menjadi pertimbangan nomor wahid.

Di dalam kitab suci Islam, dijelaskan secara jelas bahwa wanita punya tempat khusus dalam kehidupan. Wanita akan menjadi sangat mulia di mata Tuhan ketika ia berjalan pada koridor syar’iyahnya. Sebaliknya, wanita akan menjadi sangatlah buruk bahkan dikatakan menjadi bahan bakar api neraka ketika tugas-tugas mulianya ia tinggalkan. Di kaki wanita itu pula, ada surga bagi anak-anaknya. Rasul menyebut hingga 3 kali kalimat “ibu” sebelum ayah disebutnya satu kali saja. Sebegitu agungnya kedudukan wanita dalam Islam.

Pun demikian, wanita tak ubahnya 2 mata pisau yang keduanya sama-sama akan memberikan impact dalam ritme kehidupan. Lebih dari itu, seorang wanita juga adalah seorang ibu yang sekaligus teladan. Secara implisit menjadi panutan bagi anak-anaknya. Ibu menjadi inspirasi personal bagi anaknya, spirit bagi suaminya, bahkan jika ia berkarir, ia juga akan menjadi perspektif dan rujukan bagi rekan-rekannya di tempat ia bekerja.

Kemarin, 22 Desember adalah Hari Ibu Nasional. Sepatutnya, hari ibu bukan hanya menjadi momentum bagi seorang anak mengungkapkan rasa kasihya terhadap ibundanya. Namun juga, menjadi waktu yang tepat bagi ibu-ibu dimanapun untuk berintrospeksi. Sudahkah ia menjadi ibu yang terbaik untuk anak-anaknya. Sudahkah ia menjadi wanita yang sholehah dan taat pada suaminya. Tak hanya bahan renungan betapa besarnya kasih ibu pada beta. Tapi juga menjadi tabayyun kepada seluruh ibu untuk tetap menjadi ibu sebagaimana mestinya.

Selamat hari ibu untuk seluruh ibu luar biasa di muka bumi.

#Rockramdans

*Penulis: Ramdans Muhammad, Pengkhayal bebas, Berdarah Sumenep, Madura

Comments to: IBU DAN KARIR

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau