Tak bosan saya ceritakan begitu indah dan bangganya menjadi salah satu anak pulau ini, menyimpan banyak kenangan manis dan cerita yang harus diabadikan lewat tulisan singkat ini. Yaa walaupun harus maju mundur untuk memulainya.

Dahulu anak-anak yang masih berusia 10 tahunan sudah ramai di jalanan menuju pasar untuk ikut serta orang tua mereka menjual hasil bumi seperti kelapa, nangka, kenitu, kacang, pisang, mangga dll, untuk kami tukarkan dengan beras dan ikan.

Yang itu sudah cukup bahagia bagi mereka untuk bisa membeli ikan “pendeng” atau cukup populer dengan ikan keranjang di daerah Jawa dan beras jagung sebagai campuran. Bukan…bukan dari segi perekonomian yang akan saya angkat pada tulisan ini, tak cukup ilmu dan pengetahuan saya untuk berbicara soal itu.

Iya, dulu kami sangat patuh terhadap nilai-nilai adat dan budaya yang ada, ketika ba’da subuh sebelum kepasar kami akan mengaji Al qur’an di “langgar” setelah itu berangkat ke pasar dengan membawa hasil buah-buahan dari sekeliling rumah, sawah dan kebun yang kami punya, dengan kuatnya kami membawa beban dikepala dengan berat puluhan kilo.

Kalau kata guru saya dulu ketika SD “Awas anak-anak jangan terlalu berat bawanya, nanti kalian tidak cerdas karena otaknya tertekan” lah? Apa coba korelasinya? Baru sekarang saya sadar ternyata hal seperti itu yang bisa membuat kami cerdas secara emosional dan sosial, kami sejak kecil sudah diajari berinteraksi dengan orang lain bahkan yang lebih tua, belajar berhitung ketika melakukan transaksi jual-beli, belajar menghormati ketika orang tidak jadi membeli dagangan kita, belajar menghargai uang, belajar bersyukur, karena sesungguhnya untuk mendapatkan sepiring nasi hangat membutuhkan literan keringat.

Sejak kecil masyarakat Madura pada umumnya sudah diajarkan untuk mandiri, tidak suka mengeluh terhadap keadaan, karena pada realitanya kami pun bisa survive dengan segala kondisi dan keadaan.

Nilai-nilai yang tak ternilai

Sepulang sekolah pun orang tua kami menitipkan kami pada ustadz-ustadz, kyai-kyai yang ada di desa kami untuk belajar ilmu agama, belajar bab thaharah, dan tata cara shalat yang benar, jadi para calon mertua tidak usah ragu kalau mau mengambil menantu orang Madura meskipun tidak di pesantren, insyaAllah untuk dasar ilmu agama pasti bisa.

Selesai ngaji di madrasah yang rata-rata berada di rumah sang kyai, kami tidak segan untuk mengambil barokah dari sang guru dengan membantu pekerjaan rumah tangga, seperti menyapu halaman mencuci, mencari kayu bakar, kadang-kadang kami pun diajak bertani oleh sang kyai. Ini menjadi  hal yang menggembirakan bagi kami, dengan melakukan semua itu banyak nilai dan pembelajaran yang bisa kami ambil baik langsung maupun tidak langsung.

Wahh jika sekarang pasti sudah ada orang tua yang protes dengan dalih berbagai metode disiplin ilmu, sebagai senjata penolakan. Selepas mengaji di madrasah dan surau-surau maka kami mempunyai waktu untuk bermain hingga sore hari, seperti layangan, kelereng, gobak sodor, benteng dll. Namun jika sore hari menjelang maghrib tanpa aturan bakupun kami sudah sadar kami harus pulang kerumah masing-masing untuk bersiap-siap berangkat mengaji di masjid atau mushalla.

Semua anak laki-laki dengan rapi menggunakan baju koko, sarung dan peci, begitupun anak perempuan memakai busana muslim atau hanya sekedar kerudung cts sebagai penutup kepala, karena pada waktu itu belum marak hijab syar’i dan long dress syar’i yang harganya harus memotong setengah gaji bulanan saya yang tak berapa jika dibeli, yang akhirnya saya memilih membeli kerudung tanah abang dan baju yang setarus ribu mendapat tiga potong.

Kami pun beramai-ramai membacakan pujian-pujian dan doa-doa di masjid ataupun mushalla, sehingga desa terasa hidup dan bahagia dengan arti sebenarnya. Bahkan orang akan malu untuk keluar rumah di jam-jam krusial seperti pergantian siang ke malam kalau dia masih memakai celana, karena orang akan menganggap dia tidak menghormati budaya yang ada. Sehingga memakai sarung pada sore dan malam hari menjadi aturan baku yang tidak pernah tertulis.

Namun nilai-nilai itu sedikit tergeser, walau masih banyak juga yang masih mempertahankan adat budaya yang ada. Mirisnya sekarang jika pulang ke kampung halaman saya melihat adik-adik seusia saya dulu, sudah berani berpacaran dan boncengan cewek-cowok tanpa malu dan memasuki kawasan kampung pada sore hari ketika menjelang suara adzan maghrib tiba.

Merk Hp dan jenis sepeda motor menjadi ukuran kekerenan utama bagi mereka. Ke sawah dan menyunggih membawa dagangan ke pasar menjadi sangat langka bahkan punah untuk remaja.

Sejauh merantau, ibu menunggu anaknya pulang

Bertani merupakan pekerjaan bagi orang tua yang sudah renta, mereka lebih memilih menjadi kuli bangunan ke kota, dengan dalih pengalaman dan kebosanan hidup di kampung. Faktor geografis pun menjadi alasan utama mengapa banyak masyarakat Madura hijrah merantau.

Para orang tua kami dengan setia menunggu di rumah sambil sesekali melihat ke teras rumah menunggu anaknya kembali. Bukan..bukan materi yang mereka tunggu tapi kerinduan yang sudah membeku diseluruh penjuru kalbu.

Maka kami para perantau harus pulang…………. karena ada mereka yang selalu merindukan.

*Penulis: Muizzatil Khumairo, Perantau Madura dari Desa Jangkar, Tanah Merah, Bangkalan. Saat ini tinggal dan mengajar di Depok.

Salam Perantau Madura!

Comments to: Inilah Madura dan Kebanggaanku Menjadi Bagian darinya

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau