Jadi anak generasi zaman now itu sepertinya enak sekali ya ? Segala hal sudah disiapkan, segala hal sudah tersedia. Butuh apa-apa, tinggal ngomong bahkan tinggal nunjuk. Era sekarang segala hal serba ada dan teknologi makin canggih sehingga memberikan kemudahan-kemudahan bagi manusianya. Bayangkan, jika kita lapar dan malas masak atau pergi cari makan, kita tinggal gerakin jari-jari, klik dan langsung pesan via online. Butuh ojek, tinggal klik, ojeknya yang jemput kita. Pokoknya serba canggih, deh.

Namun dari semua kecanggihan yang memudahkan itu, kita musti menyadari suatu hal. Bahwa semakin canggihnya suatu teknologi, maka akan semakin sedikitnya gerak manusianya. Semakin sedikitnya gerak kita, berarti kita semakin terlatih untuk malas. Ya, meskipun akan ada yang menjawab, ” Ya, itu mah balik lagi sama diri kita masing-masing!”. Ya, saya mengerti juga tentang hal itu. Tapi begini, secara filosofis teknologi tercipta itu disebabkan sebuah alasan kemalasan. Maka tak heran, Bill Gates pernah berujar, “Aku akan selalu memilih orang malas untuk mengerjakan pekerjaan yang sulit, karena ia akan menemukan cara yang mudah untuk mengerjakannya”. Maka saya rasa, korelasi antara rasa malas dan teknologi ada kaitannya.

Saya ambil contoh sederhanya. Saya sering menemui orang tua yang mengambil langkah singkat ketika aktivitasnya tidak ingin diganggu anaknya maka solusinya memutar video di Youtube dan langsung disodorkan ke anaknya, diberi permainan di smartphone biar duduk anteng. Atau ketika anaknya rewel, nangis tak mau berhenti, solusinya hampir sama. Beberapa orang tua yang saya tanyakan alasannya kenapa melakukan hal tersebut, jawabannya kurang lebih “Sebab itu berhasil, cepat dan mudah”, ujar mereka.

Padahal beberapa penelitian mengungkapkan bahwa gawai (gadget) sendiri, tidak baik untuk masa pertumbuhan anak. Jika tidak percaya, silakan saja tulis di pencarian Google dengan kata kunci, “Dampak Gadget Pada Anak”. Dan saya rasa para orang tua sepakat dengan saya, bahwa gadget itu tentu tidak baik untuk masa tumbuh kembang anak. Tapi begitulah teknologi, bekerja sesuai fungsinya dan dampaknya pun terlihat. Ada nilai baiknya, tapi juga banyak nilai buruknya. Salah satunya ya itu !, bahkan orang tuapun mulai malas mencari cara-cara kreatif untuk sekedar menghibur anak, atau menenangkan anak ketika sedang rewel.

Berbeda dengan zaman dahulu, dimana ada saja cara kreatif orang tua untuk menghibur anak-anaknya. Bukan niat membanding-bandingkan, atau sekadar ingin membahas romantisme masa lalu yang membuat tidak bisa move-on. Akan tetapi, di sini ada suatu kaidah penting yang harus kita terus jaga dan dilestarikan tentunya. Atau barangkali generasi sekarang mulai lupa bahkan kehilangan cara-cara kreatif dalam menghibur anak, maka mungkin tulisan ini bakal menjadi pengingat. Salah satu contohnya adalah permainan sederhana bernama “Jen Anjhin”.

Permainan ini dimainkan oleh para orang tua saat hendak menghibur anak atau ingin menghentikan tangisan anaknya, atau saat mengajak anaknya bermain. Cara melakukannya cukup sederhana, orang tua hanya cukup mencari tempat duduk yang lebih tinggi posisinya dari sang anak. Kemudian sang anak diletakkan di kaki orang tua. Sembari memegangi sang anak, dan berulang kali mengayunkan kaki naik turun seperti permainan ayunan, lalu orang tua menyanyikan syair berikut berkali-kali :

“Jen Anjhin, langko ceplak langko ceblung.
nyelo’ aeng gen sa bagung.
Le ollena srabi potthon”.

Kurang lebih begitulah cara orang dulu menghibur anaknya. Sebenarnya masih banyak sekali permainan lainnya yang orang tua dulu ajarkan. Kapan-kapan dibahas lebih dalam, deh.

Nah untuk permaian “Jen Anjhin” ini, entah saat ini apakah permainan tersebut masih diingat atau tidak oleh generasi saat ini. Berbicara permainan ini, kira-kira diantara para pembaca tulisan ini, apakah ada yang pernah merasakan permainan ini ? Atau adakah orang tua yang masih memainkan permainan ini ?

Ditunggu jawabannya di kolom komentar ya :).

Contributor
Do you like _arighi's articles? Follow on social!
Comments to: “Jen Anjhin”, Bentuk Kreatifitas Orang Tua di Masa Lalu.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau