Cantik itu ….banyak tafsirannya. Tetapi jika kamu melekatkan kata cantik pada seorang perempuan, maka tafsiran yang kerap dijumpai adalah bertubuh tinggi, langsing, kulit mulus, putih/kuning. Kita semua tahu itu tetapi seharusnya kita mulai memahaminya juga. Sebagai perempuan indonesia yang lahir dan besar di tanah penuh keberagaman ini, standar kecantikan yang dipahami banyak orang itu sebenarnya tidak tepat. Indonesia didiami ribuan suku dengan berbagai warna kulit, tinggi & berat badan yang berbeda.

Pertanyaannya, kenapa kita demen banget menggunakan standar cantik orang barat kepada kita yang orang timur agak tenggara, yang sudah tentu sangat berbeda jauh dengan perempuan pribumi. Jawabannya, karena yang bening-bening memang lebih menarik dan mudah dilirik. Eh, enggak deng, karena sejatinya cara kita melihat kecantikan masih menggunakan standar kolonial.

Superioritas kulit putih di atas warna kulit lain adalah warisan usang kolonialisme Barat yang hingga saat ini tetap memiliki tempat. Pada masa kolonial, perempuan yang memiliki ras Kaukasia atau berkulit terang dianggap sebagai simbol kecantikan dan statusnya lebih terhormat. Era pascakolonial, wacana cantik itu putih semakin jadi ketika muncul iklan kosmetik atau model majalah yang mencirikan cantik itu putih. Alhasil persepsi cantik inilah yang melekat di memori masyarakat sampai saat ini.

Apalagi kalau kamu perempuan Madura, yang sejak dulu sudah dikenal dengan warna kulit sawo matangnya yang khas. Karena kekhasan ini sampai ada istilah, celleng manès atau seddhâ’ (hitam manis/sedap).  Lalu tiba-tiba kamu maksa merubah kulitmu jadi putih, bisa-bisa embu’mu bingung, lahir dari rahim siapa kamu sebenarnya?

Sebagai perempuan Madura asli, tulen, ori dan mewarisi warna kulit sawo kelewat matang, saya sudah biasa disindir karena warna kulit. Mulai dari becandaan teman seperti, “lu habis pulang kampung ya, kelingnya makin kelihatan,” bernada simpati setengah mengejek dan setengah jualan “sayang banget kulitmu kalau hitam, mending beli produkku aja. Bikin kulit putih dan segar,” atau pujian menjurus mengejek, “kamu sekarang putihan ya, lebih enak dilihatnya,”

Beberapa tahun terakhir ini saja, akun facebook saya semakin rame oleh teman-teman yang berjualan kosmetik pemutih kulit. Lengkap dengan kalimat bombastis dan testimoninya. Sebetulnya tidak masalah, wajar saja. Toh mereka jualan sesuatu yang halal dan memang dibutuhkan. Namun persepsi yang dijual bersamanyalah yang saya kurang setuju. Persepsi cantik, kulit putih, akan terlihat lebih baik, pasangan akan lebih cinta, dll. Untuk alasan yang terakhir, Alhamdulillah pasangan saya menikahi saya yang sawo kelewat matang ini.

Saya tidak terlalu ambil pusing dengan warna kulit saya yang tidak masuk dalam salah satu ciri cantik itu. Saya cukup percaya diri dan gak memaksa diri buat beli produk pemutih atau skin care yang mahal itu. Untuk apa? Agar diterima lebih baik oleh orang lain? Enggak deh. Selain mahal dan buang duit, saya tidak tertarik diterima lebih baik karena fisik saya.

Barangkali banyak yang lupa, bahwa warna kulit sawo matang orang Madura itu emang bawaan dari sononya alias udah bawaan gen. Kalaupun ada, itu udah kecampur alias kawin silang dengan suku lain dan mungkin pake skin care mahal, perawatan dan rajin pake pemutih. Nah, dari pada pusing mikirin kulit yang ga putih-putih, mau beli skincare kemalahan, mungkin inilah waktunya untuk kita nerima saja dengan apa yang sudah diwarisi oleh leluhur kita. Karena eh karena….

Pertama, sadar diri, jangan maksa diri. Warna kulit sawo matang itu memang ciri fisik orang Madura pada umumnya. Dalam beberapa literatur disebutkan, nenek moyang orang Madura memiliki kemiripan dengan ras Weddoid atau ras mirip ke India-indiaan dari ras Tamil. Dengan ciri celah matanya lebar mendatar, tulang pipi lebih menonjol, raut mukanya tidak begitu halus, lancip dan bersegi tajam. Warna kulitnya tentu saja cokelat gelap agak kehitaman. Khas banget kan? Lumayankan, satu nenek moyang sama Shahruk Khan, Amir Khan, dan khan-khan yang lain.

Kedua, pada zaman kolonial, citra orang Madura yang berkulit gelap ini menjadi bahan ledekan Belanda. Katanya nih, perempuan Madura lebih kasar ketimbang perempuan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Struktur tubuhnya selalu digambarkan dengan postur yang gemuk, aneh, dan jelek pokoknya. Yang tambah bikin nyesek, mereka juga menyebut perempuan Madura muda memiliki ciri kelaki-lakian, keriput dan cepat tua.

Loh apa yang bisa dibanggakan dari ledekan orang Belanda? Tenang, gak usah marah. Perempuan Madura dalam kehidupan sehari-harinya dikenal tangguh dan pekerja keras. Dari pagi hingga siang hari beraktivitas di ladang/sawah/tanah garapan. Jika masih ada waktu luang, mencari kerang di laut, jualan di pasar dan kadang pula nguli di tambak garam. Belum lagi ngurusin pekerjaan rumah yang seabrek. Aktivitas ini sangat berpengaruh pada karakter fisik perempuan Madura. Jadi, gak perlu minder, warna kulit kita adalah simbol kekuatan perempuan Madura.

Ketiga, kondisi geografis pulau Madura yang terdiri dari pegunungan kapur, tanah yang tandus, dan  beriklim panas. Ini yang sering dilupakan oleh kita, kawan-kawan seperkulit sawo matangan. Iklim panas dan penyinaran matahari di pulau Madura yang lebih galak dibandingkan daerah lain di nusantara ini menyumbang kontribusi pada warna kulit kita.

Kondisi ini gak bisa kita samain dengan kondisi iklim yang kerap digunakan dalam iklan-iklan kosmetik, yang katanya sesuai dengan iklim tropis Indonesia. Iklan-iklan kosmetik itu kan disamaratakan dengan kondisi Indonesia secara umum. Madura sudah tentu beda. Panasnya bisa dua kali lipat, keringnya juga.

Udah gitu, model yang dipake untuk iklan pada kerja kantoran, yang kena panasnya pas keluar rumah untuk ngantor atau liburan. Lah, perempuan Madura, kena panasnya bisa seharian karena pergi manjhek di sawah, panen jagung  di ladang, nyari kerang di laut atau dagang di pasar tanpa atap, lengkap pula dengan polusi asap knalpotnya. Kamu boleh percaya jika ada kosmetik yang khusus diramu untuk perempuan Madura.

Keempat, cintai warna kulit dengan kearifan lokal kita. Gak perlu takut dilihat berbeda apalagi sampai ditinggal seseorang yang kita kasihi. Karena kalau dia emang cinta banget sama kamu, dia akan menerimamu apa adanya. Mau kulitmu sawo matang, putih, kuning langsat atau hitam sekalipun.

https://ifaikahkalidin.com/
Contributor
Do you like Ifaikah Kalidin's articles? Follow on social!
Comments to: Karena Skincare Terlalu Mahal, Sudahlah Terima Saja Warna Kulit Dengan Kearifan Lokal

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau