Di depan tempat tinggalku, dulu masih asri sekali. Pepohonan masih rimbun, beberapa jenis kehidupan tumbuhan sepertinya betah berkembang biak disitu. “Kebonan” ini memang menyejukkan seperti suasana hutan meski di pinggiran kota.

Salah satu alasan mengapa aku selalu rindu tempat tinggalku ini, saat beberapa hari tiada kembali. Sebab saat terik matahari menyengat ketika berada ditempat lain. Ditempatku masih terasa sejuk saja, seterik apapun matahari menyengat. Dan yang lebih istimewa saat pagi menjelang, burung-burung masih bersedia berkicau dengan merdunya, serta beberapa kupu-kupu terkadang beberapa kali singgah di jendela rumahku. Hal yang indah bukan ?.

Tapi tidak lagi saat ini !, aku telah kehilangan sesuatu yang aku sukai. Karena alasan pembangunan, untuk di bangun perumahan yang layak katanya. Tanah itu kini digali, hening damaiku seringkali di ganggu oleh suara-suara gaduh alat-alat berat dan raungan  mesin gergaji kayu.

Pohon-pohon itu ditumbangkan, hanya disisakan beberapa (mungkin nanti hanya sebagai penghias). Dan ketika pagi menjelang, aku kehilangan merdu suara burung-burung itu. Hanya suara gaduh mesin-mesin bermotor yang lalu lalang, seperti menggantikan kupu-kupu pagiku. Ah, semuanya akhirnya sama saja, memuakkan.

Aku kecewa, tapi entah mau kuluapkan kesiapa ?, aku marah, entah hendak ku maki siapa ?. Toh itu hak-hak mereka. Tanah sudah terbeli, berarti pemiliknya bebas hendak mau buat apa. Sia-sia saja kan akhirnya kecewaku ?, percuma semua kemarahan itu.

Dari sinilah pada akhirnya aku memandang kemerdekaan itu terkadang tidak selalu baik, manusia bebas berbuat apa, dan manusia bebas bertindak apa. Toh inilah hak bebas. Yang berkuasa selalu leluasa, yang beruang selalu punya peluang dan ruang. Karena tenyata melampaui batas tak selalu baik.

Sebenarnya tidak ada yang salah. Hanya saja, ada batas-batas yang terkadang melebihi batasnya. Ada beberapa tatanan yang tertata namun merusak tatanan lainnya. Ini memang sebuah keniscayaan. Tapi bukankah sudah semestinya kita sadar. Keseimbangan bukan hanya ketika kita mampu memenuhi hasrat keserakahan, tapi ada alam yang juga harus diperhatikan.

Karena aku percaya, “Alam memiliki caranya sendiri untuk menyapa kita”, sehingga aku khawatir. Alam terlalu kecewa dengan kita, kemudian pada akhirnya kita disapa dengan sapaan yang tak mengasyikkan oleh alam.

Contributor
Do you like _arighi's articles? Follow on social!
Comments to: Kita Selalu Kurang, Sedang Semesta Memiliki Cara untuk Menyeimbangkan Diri

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau