Banyak hal dalam hidup yang tak dapat kita mengerti. Kadang semuanya terjadi begitu saja. Tak bisa ditebak. Seseorang tiba-tiba melontarkan beberapa pertanyaan yang dirasa mengganggu. Dan ternyata pertanyaan-pertanyaan itu juga saya rasakan.

Pernah gak sih tiba-tiba hati kamu merasa kosong, hampa, tapi bukan gegara hati? Seperti ada yang berubah secara tiba-tiba dalam diri kamu. padahal gak ada yang hilang sebenarnya.

Terus, kamu pernah juga gak sih tiba-tiba merasa salah arah? Padahal sebelumya kamu telah mikirin hal itu secara matang. Sedangkan kamu saat ini sudah di tengah jalan.

Dalam suatu waktu seseorang Peneliti alumnus Unair menceritakan, bahwa hal itu juga pernah ia rasakan. Ia pun sempat bingung, terhadap apa harus dilakukannya. Lulusan terbaik Fakultas Sosiologi tak cukup membuatnya tahu arah.

“Teman saya jurusan psikologi. Pernah jadi Presiden Mahasiswa, juga menceritakan hal yang sama. Saya kira kalau aktivis tidak bakal ngalamin itu.”

Pertanyaan-pertanyaan itu, mungkin saja terjadi terhadap semua orang. Pertanyaan yang sederhana. Namun tak bisa dengan mudah menjawabnya. Tidak seperti pertanyaan-pertanyaan seorang siswa terhadap gurunya, tentang lima tambah lima dikurangi sembilan. Atau tidak seperti apa warna favorit si dia, yang tersenyum saat mendapatkan jawabannya.

Jawaban-jawaban yang diberikan orang lain pun sering kali tidak cukup memberikan kepuasan. Tidak selalu bisa diterapkan. Apalagi hanya dari orang yang belum pernah mengalaminya. Peneliti ilmu sosial itu pun tidak pernah merekomendasikan untuk melakukan ritual-ritual khusus untuk menepisnya. Ia lebih memilih alamiah yang menyerang manusia secara umum.

“Saya rasa semua orang berada di fase itu. Mereka pernah merasakan kebingungan itu, normal.”
Bahwa siapa pun bisa saja mengalaminya. Ia yang melangkah, penjaga kasir, bahkan orang besar yang saat ini sedang tidak terlihat apa-apa. Banyak yang menyembunyikannya. Hanya menikmati setiap aluran waktu. Pasrah aluran takdir.

Meyakini bahwa hal itu lumrah, tidak mudah. Tetap bergerak maju, optimis pada tujuan asal, menjadi alternatif. Sekalipun harus melabrak batin. Dan terjadi pergolakan dahsyat dalam diri sendiri. Kadang hanya seperti patung, hanya mengamati kesibukan, tawa, dan bahagia orang-orang. Berusaha ikut terlibat dalam ekspresi mereka, meski tak benar-benar berhasil.

Musisi Nasional mengabadikannya dalam sebuah lagu, Sandaran Hati, setelah ia melewatinya. Neo, vokalis Band Letto itu pun sempat menyatakan bahwa ia ingin segera meninggalkan nafasnya. Ia merindukan kematiannya. Setelah yakin menemukan jawaban di jalan spiritualnya.

“Teringat ku teringat, pada janjimu ku terikat, hanya sekejap ku berdiri kulakukan sepenuh hati. Peduli ku peduli, siang dalam yang berarti, beribu ingin tak ada arti, jika kau lah sandaran hati.”

Saat sebelum menemukan jawaban itu, Sabrang Damar Panuluh, nama aslinya mengatakan bahwa kita telah memiliki banyak identitas, yang menuntut untuk berperan. Setidaknya dalam masa pergulatan itu, kita perlu berusaha menjalani setiap identitas dengan begitu baik. Meski tidak paham pijakan.

Bahwa benarlah hidup selalu tidak bisa ditebak. Beberapa orang hanya menjalani berbagai kemungkinan, menciptakan kemungkinan. Sebab hanya meyakini semua perlu dilalui. Perlu satu fase yang menarasikan diri sendiri, yang masih berupa pertanyaan. Dan jawaban yang tak bisa direncakan. Sebab hingga tulisan ini usai, pertanyaan itu masih belum menemukan jawaban.

Rumah, 25, Feb, 2021

Kang Bayt

Comments to: Kontradiktif

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau