Bedhen è tanah rantau, ateh neng tanah lahir

Ungkapan yang bermakna “Tubuh di tanah rantau, hati di tanah lahir” ini rasanya sangat tepat jika disematkan kepada para perantau Madura. Bagaimana tidak, meski berpuluh tahun merantau bahkan memilih tinggal di tempat rantau, kecintaan mereka terhadap suku, budaya dan adat istiadat Madura tak pernah luntur.

Salah satunya para perantau Madura yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Madura(IKBM) di Kalimantan Barat. Organisasi sosial yang mewadahi keluarga besar Madura ini pun mengagas sebuah ajang pemilihan Lanceng Praben (lanceng dalam bahasa Madura berarti jejaka, prabhen berarti gadis) untuk membumikan budaya dan adat istiadat Madura di tempat rantaunya, Kalimantan Barat.

Kepada Narantau Madura, Nagian Imawan, Ketua Harian IKMB Kalbar sekaligus penggagas berbagi semangat melestarikan budaya dan adat istiadat Madura melalui pemilihan Lanceng Praben.

“Lanceng Praben saya gagas dan diselenggarakan pertama kali pada tahun 2010 dengan penyelenggara Ikatan Keluarga Besar Madura/IKBM Kalbar. Gagasan itu muncul karena IKBM ingin membumikan adat istiadat dan kebudayaan kepada generasi muda Madura agar kebudayaan Madura dengan segala khasanahnya dapat terpelihara, terjaga dan berkembang di tengah hadirnya budaya modern,” ungkap pria lulusan Fisip Universitas Tanjungpura ini.

Nagian Imawan (kanan) bersama Ketua Umum IKBM, H. Sukiryanto dan anggota IKBM

“Di samping itu saudara kita muda mudi dari suku lain sudah melaksanakan event serupa seperti Bujang Dare untuk Melayu dan Dayak, Koko Memey untuk etnis Tionghoa, maka muda mudi Madura harus diberi ruang untuk mengembangkan bakat dan eksistensi yang positif. Maka gagasan Pemilihan Duta Lanceng Praben ini hadir.”

Pada pagelaran perdana di tahun 2010 kepesertaan dibuka untuk umum, tidak hanya putra putri Madura. Tujuannya agar suku lain di Kalimantan Barat dapat terlibat langsung sehingga ada interaksi dan komunikasi antar budaya. Untuk pagelaran selanjutnya dikhususkan putra putri Madura berusia 17-25 tahun.

Mengemban Tugas Duta Budaya Madura

adat istiadat madura
Duta Lanceng Praben bersama Budayawan dan Sastrawan Madura, Zawawi Imron

Setelah melewati proses seleksi, pelatihan hingga terpilih sebagai Lanceng Praben, peserta dijadikan simbol, duta kebudayaan Madura. Nagian menuturkan ada dua target yang ingin dicapai melalui ajang pemilihan ini. Pertama dari segi internal Madura, agar dapat memotivasi putra putri Madura bangga sekaligus melestarikan dan mengembangkan kebudayaan mulai dari pakaian khas Madura, kuliner, seni dsb.

“Sedangkan eksternal saya ingin kebudayaan Madura diketahui dan dikenal oleh suku lain di Kalbar sehingga terjadi interaksi dan komunikasi budaya bisa saling menghargai. Bahkan jauh dari itu kebudayaan dapat menciptakan peluang ekonomi. Contohnya batik tulis khas madura sangat tinggi nilai seni dan kualitasnya. Jika dipromosikan secara baik lewat event kebudayaan Madura bukan tidak mungkin akan menjadi peluang ekonomi baik produktif maupun kreatif.” tambahnya.

Melalui ajang pemilihan ini, Nagian berharap generasi muda Madura tetap bangga dan terus melestarikan dan mengembangkan budaya Madura dalam perspektif yang seluas-luasnya.

“Di manapun kita berada karena kebudayaan madura memilki filosofi dan sistem nilai yang sangat positif dalam peradaban di tengah hingar bingar mulai tergerusnya semangat kebangsaan, intoleran dsb. Orang Madura yang sangat toleran punya semangat kebangsaan dan religius harus hadir dengan menerapkan sistem nilai budaya dan adat istiadatnya.”

Comments to: Lanceng Praben: Membumikan Budaya dan Adat Istiadat Madura di Kalimantan Barat

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau