“Merantaulah, kau akan mendapat pengganti kerabat dan teman. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.” – Imam Syafi’i

Bicara soal merantau, masyarakat Madura tentulah salah satu masyarakat yang paling banyak merantau di beberapa daerah. Mulai dari merantau untuk mencari nafkah, ilmu, relasi baru, jodoh sampai mencari nafkah, ilmu dan jodoh sekalian. Hehehe..

Apapun itu, merantau menjadi cara masyarakat Madura untuk mengusahakan masa depan yang lebih baik. Apalagi belum banyaknya lapangan kerja, merantau menjadi pilihan untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan.

Seperti Narantau Madura yang satu ini. Lahir dan besar di Desa Jangkar, Kecamatan Tanah Merah, Bangkalan , Luluk Rofiatul Adawiyah. Memiliki gelar sarjana Akroekoteknologi namun belum tersedianya kesempatan untuk mempraktikkan ilmunya di tanah kelahirannya, ia pun memilih merantau.

“Saya mencari peluang kerja dengan merantau. Saya dapat informasi dari teman, katanya ada lowongan mengajar di sekolah alam. Saya berfikir cocok karena saya lulusan pertanian. Saya pun mendaftar di beberapa sekolah alam dan akhirnya dapat panggilan test dari Sekolah Alam Depok, Jawa Barat.” Tuturnya kepada Narantaumadura.com.

Dari sinilah perjalanannya sebagai perantau Madura dimulai. Lulu, begitu biasa disapa, pun pindah untuk mengikuti test sampai akhirnya diterima sebagai salah satu pengajar di Sekolah Alam Depok.

“Ini tempat saya juga belajar. Saya memang tidak memiliki background sebagai pengajar, namun melihat konsep belajar disini, saya tertarik. Sekarang saya guru kebun. Saya merencanakan kegiatan berkebun untuk semua kelas, mulai dari TK sampai kelas 6 SD.” Ujarnya. Tak hanya merencanakan kegiatan berkebun, Lulu juga mengenalkan dan mengajak murid untuk terlibat langsung dalam proses penanaman hingga panen sayur mayur.

“Selama kerja disini saya merasa takjub dengan dunia pendidikan, khususnya sekolah alam. Ternyata ada sekolah dengan konsep yang belum pernah ada sebelumnya. Dimana kepintaran tidak dijadikan tujuan utama. Disitu saya ingin lebih banyak belajar tentang dunia pendidikan.” Ungkap lulusan Universitas Trunojoyo, Bangkalan ini.

Mengadaptasi dan menginovasi konsep sekolah alam di Madura

Sekolah Alam Depok, tempat Lulu mengajar sebagai guru kebun.

Mengajar selama 1,5 tahun, memberikan lulu banyak pemahaman tentang konsep pendidikan berbasis alam. Contohnya adalah anak didikan sekolah alam ternyata jauh lebih kritis dan berani untuk mengungkapkan pendapatnya.

Lalu apakah konsep sekolah alam cocok jika diterapkan di sekolah-sekolah di pulau Madura?

“Bisa saja diterapkan di Madura tetapi tidak 100% sama. Karena kita memiliki masyarakat berbeda dengan disini. Yang pertama secara ekonomi, mungkin tidak sama. Biaya sekolah disini tinggi karena konsepnyamemang membutuhkan dana yang tinggi. Kalau konsep ini dibawa ke Madura dengan kondisi ekonomi yang berbeda, gak bisa 100%.” Paparnya.

Kedua, lanjutnya, dari segi masyarakatnya. Masyarakat Madura punya pola pikir yang berbeda. Masyarakat di sini pola pikirnya sudah maju, sudah paham kalau sekolah tidak harus pintar matematika dan dapat nilai 9. Sementara di Madura,belum tahu pola pikir masyarakatnya  tentang pendidikan sejauh mana. Sudahkah mereka paham bahwa pendidikan itu tidak hanya mengejar nilai.

“Konsep ini sebenarnya sangat bagus untuk diterapkan. Tetapi kalau ingin membawa konsep ini ke Madura, kita harus menginovasinya dengan menyesuaikan keadaan masyarakat.” Pungkasnya.

Ke depannya, Lulu berharap semua anak-anak di Madura mendapatkan pendidikan yang layak. Tanpa terkecuali. Semangat sekolah menggelora, tidak hanya  sampai jenjang SMA tetapi perguruan tinggi. Tujuannya agar semua anak Madura maju dan mampu berpikir kritis untuk membangun Madura, bagi yang memilih tinggal di Madura dan bekal bagi yang ingin merantau.

Salam Narantau Madura!

Comments to: Lulu Adawiyah, Perantau Madura Yang Mengajar Dan Belajar Di Sekolah Alam Depok

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau