Pandemi mengubah banyak hal. Mereka yang biasa beraktivitas di luar, entah itu sekolah ataupun mencari penghidupan dibatasi. Himbauan di mana-mana, lengkap dengan sangsi tegas. Mudah bagi sebagian orang, tetapi berat bagi sebagian yang lain. Sebab bukan hanya perkara memindahkan pekerjaan dari kantor ke rumah belaka. Karena tidak semua aktivitas itu memiliki tempat layaknya kantor dan pekerjaan yang bisa dikerjakan layaknya kantor. Maka sebagian itu memilih “nakal”, mau tidak mau tetap beraktivitas di luar. Siapa yang bisa menjamin mereka bisa makan setiap harinya, jika bukan mereka sendiri?

Di tempat rantau, gue dan suami merasakan betul bagaimana hidup dengan bertumpu pada gaji bulanan. Ketidakpastian. Di tengah pandemi seperti ini, kebutuhan sehari-hari memang lebih terkuras. Harga bahan pangan tak stabil. Kerasa betul kalau sudah naik, meski hanya seribu dua ribu. Sebelumnya, kebutuhan pokok seperti beras masih disuplai oleh orang tua di kampung. Saat ini tentu tidak bisa karena untuk pulang saja dilarang. Akhirnya beli beras dengan harga cukup tinggi.

Lalu beberapa hari yang lalu, Ibuk telepon dan kami curhat panjang-lebar. Salah satu yang diceritakan ibu adalah panen padi dan murahnya harga jual beras. Perkilo dihargai lima ribu rupiah. Ibu gue seorang petani, profesi yang diturun-temurunkan dari leluhur. Ia mengelola sendiri sawahnya, mulai dari pembibitan, mengolah tanah, menanam bibit, pemupukan hingga proses panennya. Dari pembibitan hingga panen setidaknya membutuhkan waktu sekitar 3-4 bulan. Gajiannya tiga bulan sekali, dalam setahun tanam dan panen dua kali.

Harga jual yang terlampau murah itu membuat Ibuk hanya menjual beberapa karung. Jangan ditanya seberapa besar keuntungan dari tanam padi. Sebab untuk memulai, ada rupiah yang cukup besar untuk modalnya. Modal itu dibelanjakan untuk beli bibit, pupuk, buruh dan bajak sawah. Sebandingkah modal dengan hasilnya? Disyukuri saja hasilnya, yang penting nutupi modal, itu jawaban Ibuk.

Ternyata kisah serupa tidak hanya dialami Ibuk, petani di Bantul, Aceh, Majalengka dan beberapa daerah lainnya juga mengalami hal yang sama. Harga gabah anjlok sementara harga beras di pasaran masih tinggi. Situasi ini berulang tiap kali panen raya. Dan petani seperti ibu sudah terbiasa. Tetapi sampai kapan?

Meringis di Negeri Agraris

Indonesia dikenal dengan sebutan negara agraris. Gue rasa sebutan itu sangat tidak relevan dengan kondisi saat ini. Kementan sendiri mengatakan setiap tahun luas baku sawah berkurang 650 ribu Ha. Jelang tiga bulan pandemi, Organisasi Pangan dan Pertanian atau Food and Agriculture Organization (FAO) memperingatkan akan terjadi kelangkaan dan darurat pangan di tengah pandemi virus Korona. Pemerintah merespon hal ini dengan mengungkapkan fakta bahwa sejumlah daerah di Indonesia telah mengalami defisit pasokan bahan pangan, salah satunya beras. Presiden Jokowi pun meminta BUMN membuka lahan baru untuk persawahan sebagai bentuk antisipasi.

Sikap pemerintah ini menuai banyak kontorversi. Masalah harga gabah anjlok di setiap panen raya tidak teratasi dan cuma jadi isu anget-anget tahi ayam, muncul lalu tenggelam lagi. Padahal di situasi panen seperti saat ini, stok beras dari petani bisa menjadi cadangan pangan nasional. Menurut peneliti Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Hariadi Propantoko dalam keterangannya pada VOA mengatakan, penyebab anjloknya harga gabah petani karena tingkat penyerapan yang rendah karena sebagian besar pedagang di pasar induk tutup di tengah wabah corona..

Hariadi menambahkan panen raya pada bulan Mei ini sebenarnya menguntungkan Indonesia karena hasilnya dapat menjadi persediaan pangan nasional. Ia mengusulkan pemerintah memperbaiki pola distribusi beras dari daerah-daerah yang sedang panen raya seperti Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk pemenuhan daerah yang mengalami defisit pangan.

Sementara itu Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih mengatakan program tersebut belum dibutuhkan oleh para petani sebab masih banyak alternatif lain yang lebih efektif bila dioptimalkan. Menurutnya yang paling tepat sebenarnya bisa dengan upaya memaksimalkan tanaman pangan di tanah pertanian yang sudah ada, termasuk juga diversifikasi pangan.

Menjadi Petani Sepanjang Hayat

Dwi Andreas Santosa, Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), dalam wawancaranya dengan Mongabay.id memberikan gambaran nyata mengenai kondisi “kronis” pertanian Indonesia. Terlebih nasib petani yang didaulat sebagai “Pahlawan Pangan” namun kehidupannya jauh dari sejahtera.

Menurutnya ada tiga kenyataan pahit yang harus dirasakan terkait pertanian Indonesia saat ini. Pertama, ketergantungan terhadap impor produk pertanian makin tinggi. Ke dua, saat ini kita tidak lagi mengenal ganyong, gembili, berbagai umbi, yang dulunya dipergunakan sebagai produk cadangan pangan nasional. Nama pangan lokal ini hampir tidak terdengar lagi akibat politik beras yang begitu masif. Ke tiga, integrasi sistem pangan Indonesia ke dunia, menyebabkan kita berkenalan dengan pangan yang saat ini justru merupakan konsumsi masyarakat negara maju.

Pernyataan di atas terasa pantas dengan yang dihadapi petani saat ini. WatchDoc pun membuat dokumenter tentang realitas tersebut. Silakan ditonton dan dimaknai sendiri.

~

Di akhir obrolan, ibuk hanya memasrahkan apa yang sudah dia terima. Mau gimana lagi? Menjadi petani adalah jalan hidup dan profesi yang akan dia lakoni sampai akhir hayat, sama seperti bapak dan ibunya. Tak ada tawaran lain yang lebih baik. Tak ada pensiun. Tetapi Ia patut berbangga, bahwa dari jerih payah dan ketekunannya, petak sawah leluhurnya masih menghijau tak tergantikan oleh petak beton.

https://ifaikahkalidin.com/
Contributor
Do you like Ifaikah Kalidin's articles? Follow on social!
Comments to: Menjadi Petani Sepanjang Hayat, Kamu Tidak Akan Kuat

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau