Bisakah seseorang menulis esai sekali duduk? Jawabannya hanya satu; tergantung masing-masing penulis. Dan meskipun jawaban itu kurang membantu, dengan keyakinan bulat saya berani berkata, “Dalam sebulan pasti bisa menyelesaikan satu esai sekali duduk asal ia menulis setiap hari!”

Saya teringat Hanung Bramantyo saat berkomentar tentang karir selebriti A. Ia berkata bahwa kualitas seseorang kadang seiring, juga kadang tidak seiring dengan usianya. Ada yang berkarir lima atau sepuluh tahun, tetapi kualitasnya masih seperti anak magang. Ada yang hanya lima bulan, meski tidak profesional, tetapi tidak kelihatan bahwa ia anak kemarin sore. Artinya, “tergantung masing-masing orang” masih menjadi jawaban yang aman.
Jika dikaitkan ke dalam konteks ‘menulis’ saya pikir selaras. Bahwa setiap penulis bisa mengira-ngira kualitas, kecepatan, dan termasuk keminiman-salah ketik berdasarkan progresnya. Apakah sebulan menulis sekali, seminggu sekali, sehari sekali atau tak sama sekali. Hasilnya akan berbeda. Dan kita tau itu.

Meskipun kegiatan ‘menulis’ sama sekali tidak gampang. Tidak sekadar menulis. Misalnya menulis membutuhkan ide juga keberanian. Atau menulis membutuhkan tempat hening juga partner diskusi. Atau, menulis harus sendirian, juga bahan bacaan yang mendukung. Dan lainnya yang memengaruhi tulisan kita. Banyak hal yang sepertinya harus dilakukan sebelum menulis. Dan itu butuh waktu yang tidak sebentar.

Saya teringat sebuah ujaran wajar tentang, “tulislah apa yang diketahui” adagium itu bergulir dari penulis satu ke penulis lainnya dalam wajah tafsiran. Misalnya, saat saya wawancara Muna Masyari ke rumahnya, ternyata ia menganutnya diam-diam. Ia mengaku bahwa alasan mengapa ia mengangkat tema-tema kemaduraan disebabkan oleh adagium itu.

Berbeda dengan Eka Kurniawan semisal. Ia justru berkata, “aku akan menulis apa yang tidak kuketahui.” Dan melanjutkannya dengan, “karena aku akan mencari tahu sesuatu itu terlebih dahulu.” Tidak sedikit juga perbedaannya, karena pada akhirnya si Eka toh tau juga. Tapi yang jelas, jika boleh ikutan saya tafsiri, makna dari ujaran itu adalah, “ketahuilah apa yang kamu tulis!” Tidak ngawur dan di luar akal normal.

Jadi, seorang penulis sederhanya mengolah ulang pengetahuannya. Apapun. Melalui cara apapun. Lalu ia jahit ke dalam bentuk paragraf. Semakin sering menjahit semakin cepat rajutan itu selesai. Semakin sering mengulang, semakin bisa mengenal kesalahannya dalam menulis. Itulah sebabnya bahwa As Laksana sangat menganjurkan menulis cepat bagi penulis pemula.

Lalu sisi lain di otak kita meronta, seperti tidak terima, “bagaimana dengan kualitas karya, jika kita hanya cepat-cepatan. Jika kita berburu kuantitas?” Saya suka menggaruk bagian kepala yang tidak gatal saat mendengar itu.

Dalam rumus ilmu pengetahuan, kualitas hanyalah kesepakatan orang lain yang bersamaan. Konsensus sementara! Tidak ada batas-batas kualitas itu sendiri. Kualitas pada akhirnya berhenti di sudut pandang dan kemudian tertindih oleh karya lain yang lebih baru, yang dianggap lebih ‘berkualitas’. Tak ada yang benar-benar tau kualitas itu sendiri, termasuk penulisnya.

Ketika catatan, esai, prosa, atau puisi kita lempar kepada pembaca, biarkan mereka menggunakan tulisan kita sebagai ‘senjata’ atau mereka menganggapnya  ‘sampah’. Masalahnya dimana?

Ada yang baru tahu tentang apa yang kita sampaikan, itu poin plus. Meskipun juga ada yang sudah kelewat tahu, sudah tidak menjadi informasi baru bagi dirinya, dan itu tidak membuat kita mendapati poin minus. Setiap kita menulis tetap poin plus. Itu wajar. Penulis tidak punya wewenang untuk mengubah siapapun.

Lalu saya pikir, terlalu naif rasanya, jika seseorang menunda menulis hanya karena kualitas sebagai alibi. Oiya kualitas itu nomor satu! Tetapi kita tidak tahu apakah tulisan kita bagus atau tidak, sebelum memulainya, sebelum memburu kuantitas terlebih dulu. Lagi pula menulis buruk itu tidak dosa. Tidak juga didenda. Kupikir, itu kenapa As Laksana juga menyarankan selain menulis cepat, menulislah buruk!

Akhirnya tulisan ini selesai dengan sekali duduk, untuk sebuah jawaban yang pertanyaanya saya bikin sendiri. Saya tidak perduli apakah tulisan benar-benar bagus, benar-benar berkualitas. Tetapi yang saya yakini bahwa seburuk-buruknya tulisan, pasti mengandung ide, yang didapatkan dari proses yang tidak sebentar.

Menulis itu soal bagaimana kita menjahit pengetahuan saja!

Faiqmohammad, 21 Januari 2021

Comments to: Menulis Sekali Duduk, Siapa Takut?

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau