Jika dulu peran perempuan dikatakan hanya di kasur, sumur dan dapur, kini stigma itu sepenuhnya bergeser. Perempuan memiliki peran dan tanggung jawab yang lebih besar dari tiga hal itu. Sebutlah salah satunya perempuan Madura. Bernyali dan berani untuk mewujudkan mimpi, tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi untuk keluarga.

Kepada Narantau Madura, Muidah Tohir Marsuki, Perantau Madura di Saudi Arabia berbagi pengalaman selama merantau di negerinya Raja Salman.

“Aku ke Saudi itu lari dari perjodohan, didesak untuk nikah. Sebenarnya orang tua hanya ingin yang terbaik, tapi aku belum bisa menerima dengan cara itu. Aku belum siap menikah. “ ujar Muidah, memulai kisahnya.

Ya, perjalanan merantau dan bekerja Muidah di Saudi Arabia terbilang cukup dramatis. Sebagaimana perempuan Madura lainnya, pilihan menikah setelah lulus mondok (sekolah di pondok pesantren) kerap menghampiri. Perempuan yang lulus mondok dinilai cukup siap dinikahkan dengan lelaki terbaik pilihan orang tua (dijodohkan).

“Aku menolak lamaran seseorang. Aku jujur mengatakan belum siap menikah karena ingin kerja dan ingin membantu adik-adik ku yang masih belajar. Beruntungnya, orang tua laki-laki itu sendiri yang membantu aku terbang (berangkat) ke Saudi, karena iparnya sudah bekerja bertahun-tahun di sana.” tutur perempuan yang berasal dari desa Somber, Kwanyar, Bangkalan ini.

Tak semanis yang dibayangkan..

Hidup selalu penuh kejutan. Bayangan akan mendapatkan pekerjaan seperti yang diharapkan seketika buyar ketika Muidah sampai di sana. Ia menjadi asisten rumah tangga dengan beban pekerjaan yang cukup berat untuk orang baru seperti dirinya. Lima bulan ia bertahan hingga ia terbiasa. Bahkan majikannya cocok sehingga ia dipercaya menjaga toko milik majikannya di pasar.

“Aku dipilih karena bisa nulis bahasa Arab dan Inggris. Lalu ditest membaca Alquran, kitab kuning dan mengajari anaknya. Ya, berbekal ilmu yang didapatkan di pesantren, aku bisa melewati test.”  tuturnya.

merantau

Meski awalnya enggan bekerja di pasar karena bingung dan terkendala  bahasa lisan, Muidah mulai beradaptasi. Ia bergaul dengan kehidupan pasar: budaya, masyarakat, bahasa hingga situasinya.

“Yang aku pelajari di pasar, tidak semua orang itu sama. Dulu aku berpikir orang itu sama. Aku pikir semua orang baik, pas di pasar aku tahu bahwa tidak semua orang berpikiran baik. Pikiran saya lebih luas dan tidak mudah terpengaruh.”

Pentingnya pendidikan

Sembilan tahun Muidah memeras keringat di Saudi Arabia. Demi mimpinya dan mimpi adik-adiknya.  Bukan hal yang mudah, namun bukan mustahil untuk dilakukan. Muidah percaya bekal pendidikan yang baik dan seimbang akan membawa seseorang sampai pada impiannya.

“Merantau membuatku paham betapa pendidikan itu sangat penting . Baik pendidikan agama dan pendidikan lainnya.” tutupnya.

Salam Perantau Madura!

Comments to: Merantau Ke Tanah Suci Untuk Mewujudkan Mimpi-mimpi

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau