“Madura merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi yang sangat besar. Jika dikelola dengan apik, dalam 10 tahun ke depan Madura akan menjadi daerah yang akan lebih maju dan makmur daripada daerah lain. Dan tentunya menggapai cita-citanya yaitu menjadi provinsi sendiri.”

Optimisme, itulah yang ditunjukkan seorang perantau Madura dari Bangkalan ketika ditanya bagaimana ia melihat pulau Madura dalam 10 tahun ke depan. Pemuda Madura yang berasal dari Desa Blega, Bangkalan ini bahkan ingin kembali ke Madura  untuk mengabdikan diri demi mencapai cita-cita itu.

Pemuda itu bernama Farid Taqwim. Lahir dan besar di pulau Madura tak hanya membuat Farid menjadi bagian dari kemajemukan suku Madura. Lebih dari itu, Farid ingin tanah kelahirannya menjadi lebih baik. untuk mencapai itu, selepas SMA Farid memutuskan untuk mencari ilmu dan pengalaman sebanyak-banyak di tempat rantau sebagai mahasiswa di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Tangerang Selatan.

“Menurut saya, hidup di tanah rantau merupakan amal baik tersendiri. Saya yakin, Allah akan menganggap perantauan adalah suatu perjuangan yang akhirnya kita akan memetik keuntungannya kelak.”

Di tanah rantau, berbekal pengalaman di beberapa organisasi, Farid dan Tan-tretan yang berasal dari Bangkalan mencetuskan dan mendirikan organisasi khusus yang mewadahi mahasiswa Bangkalan di Jabodetabek, yang diberi nama DMB (Dermaga Mahasiswa Bangkalan) Jabodetabek. Ia pun terpilih menjadi ketua umum pertama DMB Jabodetabek.

Generasi Muda dan Perantau Tonggak Kemajuan Pulau Madura

merantau

“Saya sebagai pemuda Madura sangat optimis Madura bisa menjadi provinsi dan harus diperjuangkan menjadi provinsi. Sejak awal berdirinya Indonesia, Hindia Belanda sudah mengistimewakan Madura. Ketika menjadi Republik Indonesia Serikat, Madura sudah menjadi keresidenan. Tetapi kenapa saat menjadi NKRI malah menjadi sebuah pulau dengan tidak ada otonomi daerah dengan nama Kabupaten atau provinsi,” ujar pemuda yang bercita-cita berkarir di eksekutif atau legislatif ini.

Apalagi Pulau Madura memiliki sumber daya alam yang sangat kaya. Hal itu terbukti sejak tahun 80an ketika investor asing masuk ke daerah Sumenep untuk mengeksplorasi kekayaan alamnya. Begitu juga di Pamekasan, kurang lebih ada 1000 titik sumber minyak yang sudah dilakukan survei oleh beberapa perusahaan migas.

“Banyak orang madura tulen ketika ditanya kenapa merantau ke luar daerah, jawabnya karena kurang potensinya. Padahal bukan itu, karena potensinya kurang digali. Maka ketika potensi itu digali melalui provinsi, saya yakin akan lebih menyurutkan keinginan merantau. Mereka akan lebih betah untuk mengembangkan potensinya. Baik itu bisnis, kreativitasnya, inovasi dan lain sebagainya.” tambah mahasiswa jurusan hubungan internasional ini.

merantau
Farid bersama anggota Dermaga Mahasiswa Bangkalan Jabodetabek.

Untuk mencapai semua itu, lanjutnya, pemuda Madura harus menyiapkan diri untuk mensukseskan dan membangun provinsi Madura ke depannya. Sebagai anak rantau harus meyakinkan dan menanamkan niat dalam hati untuk kembali lagi ke daerah asal kelahiran.

“Artinya setelah kita menimba ilmu sebanyak-banyaknya di tanah rantau, dalam segi pendidikan maupun bisnis kita tujukan untuk membangun tanah kelahiran kita. Jadi tidak ada kata tetap nyaman di tanah rantau, enak-enakan dan pada akhirnya melupakan tanah rantau. Menimba ilmu, curi dan cari ilmu, pelajari itu dan jadikan penerapannya nanti di daerah Madura.” pungkasnya.

Comments to: Merantau Untuk Mengabdikan Diri dan Menjadi Pemimpin Madura di Masa Depan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau