“Merantau itu sama seperti Hijrah di jaman Rasul dulu kala, maknanya pindah lokasi baru yang telah dipilih kita dan di ‘iya’-kan tuhan, bagi saya begitu.”

Pulau Madura ditinggalkan anak mudanya karena merantau adalah sebuah keniscayaan. Selain untuk bekerja, melanjutkan pendidikan juga menjadi alasan pemuda Madura meninggalkan sejenak tanah lahirnya.

Hal inilah yang juga menjadi alasan Jamilatus Sa’diyah meninggalkan desa Bangkes, Pamekasan untuk melanjutkan pendidikan di tempat rantau, kota Malang, Jawa Timur. Kepada Narantau Madura, Jamila, mengungkapkan tiga tujuan besar dalam hidupnya yang ingin dicapai melalui jalan merantau dan impiannya tentang Madura di masa depan.

“Saya ingin belajar dari budaya yang lain, dari tempat yang lain, dan kesempatan baik yang saya dapatkan memang nyatanya di tempat jauh dari rumah, jadilah saya perantau.” tutur perempuan yang kini sedang menempuh studi magister Biologi di Universitas Brawijaya Malang ini.

Kota Malang menjadi kota pertama Jamila merantau selepas lulus SMA. Di kota ini, ia melanjutkan studi S1 di Universitas Negeri Malang. Di tahun pertama merantau ia sempat merasa kesulitan berkomunikasi bahasa malangan (bahasa Jawa yang dibalik), apalagi ia tidak mengenal siapapun di kota ini sebelumnya. Ia pun selalu berbicara dengan bahasa Indonesia dan seringkali nyasar di berbagai tempat.

“Tapi saya tidak pernah takut di sana, karena katanya di sana kota aman, dan kata mamak selalu ada Allah dan orang baik di Indonesia.”

Hal itu terbukti ketika ia mendapat teman sekamar orang Malang asli. Teman sekamarnya dengan baik hati selalu menyandingkan bahasa Indonesia dengan bahasa jawa malangan. Selain itu ia mulai menemui saudara yang ada di Malang dan mulai menemukan “rumah” yang nyaman untuk ditinggali karena orang-orang di sana mau menjelaskan, mau ditanya banyak hal, dan mayoritas ramah sekali.

Tiga Tujuan Besar Dalam Hidup

madura

Sejak sekolah menengah hingga saat ini Jamila gemar berorganisasi dan mengikuti berbagai kompetisi ilmiah dan lainnya. Ia juga memiliki ketertarikan lebih pada bidang pengabdian masyarakat karena pengaruh lingkungan dan berbagai pengalaman yang terjadi sejak kecil hingga saat ini.

“Alhamdulillah banyak pengalaman yang saya peroleh di kota Malang ini, dinikmati secara pribadi, keluarga, dan secara umum. Secara pribadi saya mendapat banyak pengalaman organisasi dan pengetahuan sehingga saya mampu berbagi secara intelektual dan keuangan. Saya pernah terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat dari negara untuk desa saya, dan hal-hal lain yang akan selalu saya syukuri.” ujar Jamila.

“Saya memiliki tiga tujuan besar dalam hidup saya, yang pertama saya ingin mengajar dan mendedikasikan hidup saya pada mahasiswa dan lingkungan sekitar dengan cara menjadi dosen dan kedepannya guru besar karenanya saya akan mempelajari apapun semampu saya. Kedua, saya ingin hidup sederhana, berkah, dan bermanfaat bersama keluarga saya. Ketiga, saya ingin mati dalam keadaan khusnul khatimah. Sekiranya dalam hati dan pikiran saya tidak ada yang lebih indah dari ketiganya, selain kejutan-kejutan lain yang telah dituliskan Allah, tentu saya terima.” tambahnya.

Melihat Madura 10 Tahun Ke Depan

Meski kini merantau, Jamila, sebagaimana generasi muda Madura lainnya, memiliki impian tentang tanah lahirnya. Jamila berharap Madura hidup dengan tanahnya dan orang-orang di dalamnya bahagia. Ia mencontohkan, seorang tukang becak yang penghasilannya hanya Rp 5000/hari, ia tetap pulang dengan hati riang karena ia tau tanahnya mampu menyenangkannya lebih dari apa yang ia usahakan.

Tak hanya itu, dalam 10 tahun ke depan, ia melihat Madura akan menjadi wilayah yang ramai, ramai secara sumber daya manusia, sumber daya alam, dan manusia produktif yang harus dikuatkan untuk mau membangun tanahnya. Akan banyak tempat-tempat usaha baru menjamur, akan banyak pengusaha baru yang lahir, dan Madura akan kuat secara ekonomi, dan secara politik mungkin akan semakin rumit dan ramai.

Menurutnya ada banyak hal sederhana yang bisa dilakukan orang Madura untuk membangun Madura. Salah satunya mencangkullah tanah sendiri kalau bisanya mencangkul, tanam padi kalau bisanya tanam padi, belajar sampai tuntas kalau bisanya belajar, mengajarlah kalau bisanya mengajar, berbagilah banyak hal yang bisa dibagikan.

“Intinya, lakukan apapun yang kita bisa semampu kita, sebisanya, kemudian berkerjasama dan jangan banyak ribut.” pungkasnya.

Bedhen è tanah rantau, ateh neng tanah lahir

Salam Perantau Madura!

Comments to: Perempuan Madura di Tanah Rantau: Saya Ingin Wujudkan 3 Tujuan Besar Dalam Hidup

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau