Susan susan susan
Besok gede mau jadi apa?
Aku kepingin pinter
Biar jadi dokter

Tahu penggalan lagu di atas? Itu loh lagu anak-anak yang dibawakan oleh Kak Ria Enes dan Boneka Susan. Lagu berjudul Susan Punya Cita-cita ini populer banget di era 90an dan jadi role model anak-anak di era itu. Tetapi apa hubungannya lagu Susan dengan judul tulisan ini?

Jelas ada hubungannya. Kepopuleran boneka Susan dan lagu-lagunya gak cuma merambah kota-kota besar, Pulau Madura pun kena imbasnya. Kemiripan Boneka Susan dengan gambaran anak-anak yang ceria, bawel dan menggemaskan membuat boneka ini diidolai oleh anak-anak hingga orang tua. Termasuk gue, generasi 90an.

Di mana hubungannya dengan judul di atas?

Lagu yang baik untuk perkembangan psikologi anak tentunya lagu anak-anak. Pada masa perkembangan daya nalar, lagu mengembangkan representasi mental dan motorik anak. Oleh karena itu anak akan cenderung lebih cepat mencerna isi dari lagu, memahami dan membentuk imajinasi mengenai kondisi lingkungannya.

Lagu Susan Punya Cita-cita secara tidak langsung memberikan gambaran tentang profesi ideal dan layak dicita-citakan di masa depan kepada anak-anak. Profesi itu adalah Dokter, Insyinyur, Presiden, pokoknya kata Kak Ria, Susan harus memiliki cita-cita setinggi langit. Berkat lagu ini, banyak anak-anak maupun orang tua mengharapkan cita-cita yang sama tingginya dengan cita-cita Susan. Tak ada yang berpikir dan bercita-cita menjadi petani.

Coba, Tretan ingat saat kecil dulu, apa cita-citanya? Tentu jawabannya akan banyak di profesi Guru, Dokter, Polisi, berguna bagi nusa dan bangsa (entah ini bisa disebut sebagai cita-cita atau bukan karena tidak spesfisik), dll. Gak ada yang jawab mau jadi Petani. Kalau pun ada yang milih jadi petani, lah masak iya jadi petani dicita-citakan? Itukan tuntutan hidup.

Jadi semua salah Susan?

Gak juga! Pikiran kitalah yang jadi masalah. Kita terlalu mengecilkan nilai seorang petani. Padahal sungguh nilai mereka sangat besar. Gak cuma untuk urusan perut keluarga kenyang tetapi perut seluruh bangsa ini terpenuhi.

Sayangnya perhatian kita terhadap Petani porsinya gak pernah lebih gede dari mikirin masa depan Indonesia. Lah, Petani dan lahan pertanian kan juga bagian dari masa depan Indonesia. Apalagi katanya Indonesia negara agraris, tapi urusan petani nomor buncit.

Ironinya adalah Hari Tani Nasional yang diperingati setiap 24 September. Kata Wikipedia, Hari Tani Nasional dirayakan oleh petani di seluruh Indonesia. Perayaan ini tentu harus dirayakan oleh seluruh petani di negeri ini. Kan, negeri agraris, ya peringatan semacam ini sudah tentu tak boleh dilewatkan.

Tetapi sudahkah para petani kita tahu apa itu Hari Tani Nasional? Gue aja, anak petani yang baru melek teknologi baru tahu loh ada hari khusus bagi para petani. Itu juga gak sengaja tahu dari postingan Instagram akun Sabda Perubahan dan dilanjutkan cari tahu di Wikipedia. Dan, bener loh, ternyata emang ada.

Tetapi inilah ironinya. Gue mungkin termasuk orang-orang yang beruntung liat dan tahu postingan Sabda Perubahan. Nah, gimana dengan petani-petani lainnya yang masih gagap teknologi? Sudahkah mereka tahu hari penting ini? Sudahkah mereka tahu apa itu Dasar Pokok-pokok Agraria yang ditetapkan oleh Soekarno yang membuat peringatan ini ada?

Jika pertanyaan ini diajukan ke petani di kampung gue, Bujur, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan, jawabannya adalah pertanyaan itu lagi. Apa itu Hari Tani Nasional? Apa itu Dasar Pokok-pokok Agraria? Apa hubungannya sama Pak Karno?

Selama menjadi anak petani, di kampung gue memang gak pernah ada perayaan khusus macam daerah lain, apalagi peringatan Hari Tani Nasional, nasional loh. Jika skalanya udah nasional kayak gini, memang seharusnya seluruh petani di negeri agrari ini tahu. Tetapi kenyataannya sebaliknya.

Bukannya petani kami terlalu malas untuk mencari tahu tetapi karena tak pernah ada akses untuk tahu perihal itu. Gak ada penyuluhan ke desa-desa kecil. Jaman sekarang sih enak, ada hape dan tinggal nanya sama gugel. Lah, sepuluh tahun silam, mana ada. Ada sih stasiun TVRI yang punya pemerintah, yang bakal ngumumin program-program pro-rakyat, pro-petani. Tapi ada gak yang nonton? Ada dangdutannya gak? Ada sinetronnya gak? Ada bal-balan gak?

Pulau Madura darurat petani

Di luar itu semua, petani di kampung kami sangat sibuk. Sibuk mikirin bagaimana tiap musim panen gak terus merugi. Entah karena benih, pupuk, hama, harga, tengkulak hingga musim yang tak menentu. Saking ruwetnya dengan tetek bengek itu, ada petani yang keduluan jera jadi petani dan memilih pensiun dari profesi turunan itu. Lalu menjadi TKI, TE KA I. TKI loh, bukan PKI.
Inilah ironi berikutnya.

Akibatnya situasi dan kondisi itu, pulau Madura terancam darurat petani. Lah, gimana gak darurat, semua petani memilih pensiun dini dan menjadi TKI.  Di era yang makin kekinian, anak muda yang diharapkan membawa perubahan (termasuk gue) malah merantau dan memilih pendidikan lanjutan yang sama sekali gak ada “tani” nya. Ada sih sarjana pertanian tetapi peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai keilmuannya belum tersedia.

Kenapa kira kira? Lagu Susan (lagi!)?

Barangkali sebab doa para orang tua yang selalu berharap kehidupan anaknya lebih baik dari dirinya (dengan tidak menjadi petani?). Harapan ini bukan mengkerdilkan profesi mereka tetapi mengingat betapa beratnya profesi itu sehingga doa itu dicekoki.

Mungkin juga karena nyangkul dan ngebajak sawah yang gak ada keren kerennya. Coba ingat, diantara pilihan cita-cita yang ditanyakan guru atau orang tua itu sendiri, pernahkah profesi petani masuk nominasi? Enggak. Profesi dokter, polisi, guru masih menjadi favorit dan jadi doktrin ke anak kecil. Sialnya, doktrin itu justru membuat profesi petani nampak remeh temeh.

Atau profesi lain lebih pasti dan menjanjikan jenjang karir (menjadi petani ga ada jenjang karir kayak orang kantoran. Buruh, ya buruh. Pemilik lahan dan modal, adalah jabatan turunan). Masa depannya seolah tak menentu, kek musim hujan dan kemarau gitu.
Atau juga karena belum munculnya generasi yang mau jadi petani dari hati. Nah, ini yang susah banget didapetin. Gak banyak loh anak muda yang secara tulus mau jadi petani. Profesi petani adalah profesi mulia yang gak sembarangan dijalani. Tengok saja beberapa petani yang masih stay cool dengan profesi mereka sampai saat ini. Meski hasil panen yang gak nentu dan nombok mulu, mereka masih setia dan cinta dengan profesinya.

Sebagai penutup tulisan ini, gue sebagai anak dari keluarga petani yang sampai tulisan ini ini diterbitkan belum bisa berkontribusi pada tanah lahir, sangat bersyukur lahir dari keluarga petani. Dari kerja keras merekalah, gue banyak belajar (meski telat banget) bagaimana caranya bertahan, bekerja keras dan mencintai profesi.

Lalu lagu anak-anak yang nongol di TVRI era 90an mengalun, mengingatkan betapa mulianya tugas petani.

Petani

Nasi putih terhidang di meja
Kita makan tiap hari
Ber-aneka macam hasil bumi
Dari manakah datangnya
Dari sawah dan ladang di sana
Petani-lah penanamnya
Panas terik tak dirasa
Hujan rintik tak mengapa
Masyarakat butuh bahan pangan
Terima kasih Bapak tani
Terima kasih Ibu Tani
Tugas anda sungguh mulia

Salam Perantau Madura!

Comments to: Petani: Profesi yang Layak dicita-citakan Susan dan Pemuda Madura

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau