“Bikin essai sekali duduk, bisa?”
Dengan spontan, tanpa basa-basi, seorang sahabat yang baru datang dari seminar kepenulisan itu, tiba-tiba menyodorkan pertanyaan, dengan wajah sok polos, kayak anak kecil sedang minta dibeliin mainan ke ibunya. Bedanya, dia kumisan.

Karena telah lama berteman, saya sedikit tahu karakter sobat satu ini. Kali ini ia membawa pertanyaan yang sangat sederhana, namun untuk menjawabnya butuh berpikir. Sebab di dalamnya tersimpan tantangan. Dan sepertinya ia benar-benar menyiapkan.

Karenanya, tidak langsung ku jawab pertanyaannya. Perlu berpikir, atau sekedar mengukur tentang kemampuan diri sendiri. Sebab dalam produktivitas menulis terdapat beberapa pertimbangan, yang semua menjadi hambatan. Pun, juga dalam keadaan, tidak sedang mood menulis.

Flashback sejenak. Pertama kali menginjakkan kaki di kampus, saya menyadari bahwa tidak punya basic dalam kepenulisan. Karenanya memilih bergabung di salah satu organisasi kepenulisan, yaitu Pers Mahasiswa (Persma), menjadi pilihan sangat penting, waktu itu.

Pada saat mengikuti diklat dasar Persma, setelah diberi materi-materi kepenulisan, calon anggota diberi tugas praktik menulis. Memilih kategori tulisan, di antara essai, opini dan artikel, dengan durasi waktu kurang lebih 30 menit. Bersama beberapa teman yang lain, saya bisa menyelesaikannya, meski tidak pernah tahu kategori tulisan itu. Setidaknya, saya cukup bahagia karena telah menulis dengan “sekali duduk”.

Di organisasi itu, kami betul-betul diberi pelajaran banyak tentang menulis dan karya tulis. Melalui berbagai hal, mulai dari seminar, kajian, diskusi dan lainnya. Meski demikian, saya menyadari bahwa kemampuan menulis saya tidak seperti teman yang lain yang sudah mahir, bahkan sebelum gabung di organisasi ini. Untuk mengejar ketertinggalan itu, saya memilih diskusi secara privat kepada senior, dan teman seangkatan yang lebih mahir.

Puncaknya, ketika salah seorang senior menyuruh untuk menulis berdasarkan tema. Katanya, kalau berhasil tulisan saya akan dipublish di majalah, bersama tulisan-tulisan senior yang lain. Saya langsung menyanggupinya. Pikiran saya, momen ini bisa menjadi ukuran, layak tidaknya tulisan saya.

Karena diberi waktu 3 hari. Saya memilih santai di hari pertama. Pernah menulis sekali duduk, pada saat diklat, ditambah lagi dengan seringnya diskusi dengan teman-teman dan senior membuat yakin, bisa menyelesaikannya dengan tidak terlalu sulit. Saya memulainya di hari kedua, dengan mengumpulkan refrensi awal yang dibutuhkan.

Setelah mencoba menulis, ternyata tidak semudah yang dibayangkan, justru sangat sulit untuk menyelesaikannya. Terlebih, tambahan pengetahuan tentang beberapa “teori-teori” kepenulisan bukan mempermudah, malah semakin menambah ribet, sebab ide-ide terus bermunculan, yang malah membuat semakin kebingungan. “Kok bisa banyak ide, malah makin bingung? Harusnya mempermudah dong?” mungkin di antara kalian ada yang berpikir demikian.

Jadi gini, waktu itu, saat dipertengahan nulis, tiba-tiba muncul ide untuk menuliskan dengan cara yang lain. Ide itu seakan lebih bagus, ketimbang ide pertama. Lalu, saya mencukupkan tulisan itu, meski belum selesai. Dan mulai merangkai ide kedua. Begitu pula saat ide kedua tadi ditulis, malah muncul ide yang lain lagi. Karena itu ide-ide malah makin membingungkan, satu pun tulisan saya tidak ada yang selesai.

Kemudian saya sharing dengan senior mengenai permasalahan itu. Dan, dia hanya ketawa. “Kamu butuh lebih banyak praktik. Mengetahui teori-teori itu, tak cukup, tak banyak membantu, jika tanpa praktik.” Kira-kira begitulah kalimat yang ia ucapkan waktu itu. Kata dia, tak ada pilihan lain, selain menyelesaikan tulisan itu. Solusi yang sangat membatu, bukan?

Singkat cerita, majalah pun terbit. Memang butuh waktu berbulan-bulan untuk menerbitkan satu majalah, prosesnya yang panjang dan agak ribet. Dengan perasaan deg-degan saya menghampiri kumpulan senior yang sedang mendistribusikan majalah. Pikiran saya tak fokus, masih kepikiran dengan tulisan saya. Kemudian, dengan agak gemetaran saya mencoba memberanikan diri mengambil salah satu majalah. Lalu mencoba membuka lembar per lembar. Dan tiba-tiba air mata saya menetes, ketika saya membaca, UKT mau naik. Eh.

Eh, sorry ga selebay itu. Waktu itu saya melewati senior yang sedang mendistribusikan majalah, karena suatu rutinitas, “telat kuliah”. Singkatnya, tiba-tiba salah seorang dosen yang cukup saya kenal tiba-tiba nyapa dan berkata, “semangat terus, tingkatkan nulisnya,” katanya dengan majalah edisi terbaru ditangannya. Setelah saya cek, ternyata tulisan saya keterima, walau banyak editannya sih. Hehee.

Dari pengalaman itu, saya mulai aktif menulis, menulis apa saja. Karena, saya berpikir sangat penting kita memulai. Beberapa tulisan saya sempat dipublish di beberapa media. Namun, demikian produktif dalam menulis tidak selalu mulus. Terlebih saat saya dihadapkan pada tugas kuliah dan berbagai kegiatan sebagai pengurus di beberapa organisasi. Saya tidak hanya ikut satu organisasi. Untuk di area kampus, setidaknya ada tiga organisasi yang saya ikuti. Itu menyita banyak waktu.

Kondisi itu membuat saya harus fokus di organisasi. Puncaknya, pada saat dipercaya memanage salah satu organisasi. Menuntut saya untuk benar-benar fokus, mengabaikan rutinitas nulis dan tugas kuliah, eh. Meski beberapa teman menyebut itu hanya sebagai alibi dari rasa “malas”. Sebab, saya juga mulai aktif di game online, rajin nge-push rank dengan teman-teman, dengan alasan refreshing.

Lebih dari 2 tahun, saya vakum dalam dunia kepenulisan. Saya menyadari itu adalah kesalahan. Fatal. Dari awal saya meyakini, bahwa seberapa mahirnya seseorang dalam suatu skill, jika tidak diasah secara kontinyu, maka perlahan skill itu akan menghilang. Apalagi hanya sekedar tahu. Karenanya, skill, kemampuan apapun itu, perlu Istiqomah. Dan benar saja, itu terjadi pada saya. Skill menulis yang tak mahir itu memudar, bahkan menghilang.

Beberapa waktu lalu, telah mencoba menulis beberapa tulisan. Namun berujung pada “ctrl+A, delete”. Tulisan saya parah. Lebih amburadul dari anggota magang Persma yang sedang belajar memulai nulis. Karena itu saya tidak pernah berani untuk mempublikasikannya, atau sekedar menunjukkan kepada anggota magang bahwa itu tulisan saya. Sebab beberapa teman dan dosen, masih nganggap, saya bisa menulis. Itu beban.

Karena itu, mendengar pertanyaan, “bisakah menulis hanya dengan sekali duduk?” tidak buru-buru saya jawab. Sebab, jika dijawab iya, dia pasti berkata, buktikan! Karena dia tahu saya lama tidak menulis. Dan, jika jawab tidak, itu malah menjengkelkan. Sebab dia akan sukses dengan diamnya, pura-pura enggak terjadi apa-apa, nahan ketawa yang secara “sengaja” ia perlihatkan.

Saat di puncak kebingungan, saya teringat dengan lagu Pers mahasiswa yang biasa kami nyanyikan tempo dulu, saat aktif di Persma, “Ingat kata Ananta Tour, menulis sebuah keberanian”. Barangkali, ‘keberanian’ disini bukan hanya sebagai pertanggungjawaban karya. Tapi, juga berani untuk menunjukkan karya, mengakui bahwa itu karyanya, seburuk apapun itu.

Tentang karya buruk, terlintas pula ucapan AS Laksana, “menulis lah dengan buruk”. Tulisan buruk jauh lebih berarti dari tulisan baik yang tidak ada, hanya karena bingung caranya. Maka memulai dengan tulisan buruk, dan melakukan keburukan-keburukan yang berbeda pada tulisan yang lain, suatu hal yang keren.

“Gimana, cuy? tulisan yang sederhana saja, bisa gak, sekali duduk?”
“Bisa, lah.”
“Mana?”
“ini!”

Comments to: Sekali Duduk

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau