Mencari nafkah, bukan sekadar urusan lelaki atau suami sebagai kepala keluarga. Perempuan pun ikut andil dan turut bekerjasama dalam menopang kebutuhan keluarga. Begitu pula yang terjadi di Masyarakat Madura. Peran perempuan tak lagi terbatas pada urusan anak dan dapur tetapi ikut menyokong perekonomian keluarga.

Menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) di luar negeri menjadi salah satu pilihan perempuan Madura mencari nafkah. Pilihan inilah yang juga dipilih seorang TKW Madura asal Kampung Bujur, Kecamatan Kwanyar, Bangkalan, Muizzah Nur Hasanah. Untuk membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga, Muizzah pun merantau bersama sang suami di negeri Jiran, Malaysia.

Kepada Narantau Madura, Muizzah berbagi cerita dan pengalaman bekerja di Malaysia.

Suasana pabrik kabel, tempat Muizzah bekerja

Seperti kebanyakan TKW Indonesia di Malaysia, Muizzah memulai bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART). Namun minimnya upah yang diberi, Muizzah mulai berganti pekerjaan lain hingga akhirnya menetap bekerja sebagai karyawan di sebuah pabrik kabel.

Di tempat kerja yang baru, Muizzah harus serba menyesuaikan. Apalagi ia dituntut serba bisa dan cepat. “Pertama kali kerja di pabrik ya agak susah karena dijaga sama bosnya.
kerja mau cepat & cekap. Gak boleh ngobrol sama teman-teman,” tuturnya.

Tak hanya itu saja, dengan jam kerja 10 jam, Senin- Sabtu, mulai pukul 08:00-18:00, ia diberi jatah istirahat hanya 25 menit. Saat itu ia sempat mau pindah karena merasa tidak kuat dengan sistem kerja yang seperti itu.

“Suami saya selalau menyemangati saya untuk tetap bertahan. Katanya, nanti lama-lama akan terbiasa. Saya pun berpikir, kalau pindah-pindah kerja terus kapan bisa suksesnya. Sekarang, Alhamdhulillah sudah oke (terbiasa).”

“Hal lain yang membuat saya bertahan dan semangat lagi adalah karena saya banyak tanggung jawab di kampung: anak saya, keluarga saya. Apalagi suami saya anak tunggal. Jadi kalau bukan saya dan suami siapa lagi.”

Penghasilan Tambahan

Muizzah dan suami

Rehat dari pekerjaan kala Minggu, Muizzah sempatkan untuk mencari penghasilan tambahan. Biasanya ia membantu beres-beres di rumah orang. Sesekali pula ia habiskan waktu libur dengan pergi jalan-jalan bersama suami. Selebihnya ia lebih suka menghabiskan waktu di rumah.

“Meskipun saya jarang keluar rumah bukan berarti tidak ada orang yang ‘usil’. Saya sering dengar orang mencibir dan bilang “sudah lama di Malaysia tapi belum punya apa-apa”. Saya diam saja, tutup telinga. Prinsip saya, biarlah orang mau mengatakan apa, rezeki gak kemana. Toh saya makan cari sendiri gak minta sama mereka (orang usil).”

Sebuah Harapan untuk Keluarga

“Banyak yang mengatakan, bekerja di Malaysia enak karena mendapatkan Ringgit. Tapi menurut saya enakan ada di kampung karena kalau di negara orang, kalau gak kerja ya gak makan. Apalagi kalau susah, jangankan orang, saudara aja kadang gak noleh (membantu).” ungkapnya.

Oleh karena itu, hasil kerja keras Muizzah dan suami ditabung agar kelak bisa buka usaha di kampung. Ia tidak ingin terus-terus merantau dan jauh dari anak dan keluarga.

“Jauh dari keluarga itu sangat tidak enak. Saya ingin jaga anak di kampung. Harapan saya, saya ingin mengubah nasib untuk lebih baik lagi dan semua ini demi masa depan anak.” pungkasnya.

“Man jadda wajada! Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil!”

Salam Perantau Madura!

Comments to: Setumpuk Semangat dan Harapan TKW Madura Di Negeri Jiran, Malaysia

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau