Sepuluh tahun terakhir, yang diawali dengan almarhum Ust. Jefri Al-Buchori menutup sinetron religi dengan tausyiah singkatnya, yang tayang di salah satu stasiun televisi swasta nasional, dari semenjak itu pula, bisa kita lihat di layar kaca, ustadz-ustadz baru bermunculan.

Beda angkatan dengan almarhum KH. Zainuddin MZ yang mengisi ceramah di berbagai tempat di Indonesia, bahkan di luar negeri. Dai sejuta ummat kelahiran Jakarta, 2 Maret 1952 silam itu pernah menempuh pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang dulu masih bernama IAIN. Ia juga mendapatkan gelar Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia. Dulu, ceramahnya sering kita dengar di radio-radio, sebelum televisi di Indonesia berkembang di tahun 2000-an.

Setelah teknologi komunikasi di Indonesia semakin maju, termasuk pertelevisian nasional, jejak karir KH. Zainuddin MZ semakin dikenal masyarakat luas. Tentu Kamu tahu acara televisi Damai Indonesiaku. Program tersebut setiap minggunya mobile dari satu masjid ke masjid yang lain dengan menghadirkan beberapa penceramah. Dan salah satunya yang sering menyampaikan tausyiah adalah KH. Zainuddin MZ.

Lalu, ustadz-ustadz baru pun ikut naik ke permukaan. Sebut saja Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz Arifin Ilham, Ustadz Al Habsyi, Ustadz Subkhi Al Bughury, Ustadz Guntur Bumi. Saya bahkan tidak dapat mengurutkan siapa yang beken duluan di televisi. Bahkan ustadz-ustadz hasil dari ajang pencarian bakat juga ikut tampil memberi petuah di layar kaca.

Ustadz Solmed, yang kemudian hadir dalam acara perjodohan di televisi. Ia berlaku sebagai penasihat cinta. Bukan cuma ustadz, namun ustadzah juga tidak mau kalah tampil. Yang saya tahu hanya Mama Dedeh. Terkecuali ustadzah-ustadzah karbitan yang sebelumnya biasa ngartis lalu hijrah menjadi lebih muslimah dan menyampaikan dakwah di depan kamera.

Selain itu juga, ada Ustadz Maulana. Ustadz enerjik yang satu ini, namanya mulai melejit setelah tagline “jamaah oh jamaah” dikenal khalayak dalam program dakwahnya di televisi.

Lalu juga, aktor, musisi, dan entertainer yang biasa seliweran di layar kaca mendadak memanjangkan jenggotnya dan suka baju warna putih. Ada Gito Rollies, Sakti ex Sheila On 7, Harry Moekti, Ummi Pipik, Akrie Patrio, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Setiap tampil di televisi, nama yang tertera akan ditambahi titel ustadz atau ustadzah di depan. Tak peduli kapasitas, kualitas, dan seberapa alim dalam hal agama, ketika sudah ngobrol religius, sudah pasti titel itu disematkan.

Undzur maa qoola, walaa tandzur man qoola; lihat apa yang disampaikan, jangan lihat siapa yang menyampaikan. Begitulah artinya. Dengan kata lain, kita sepatutnya dapat mengambil hikmah dari perkataan siapapun. Bukan tentang siapa yang menyampaikan, namun hal baik apa yang dapat dicerna.

Tidak ada masalah, siapapun yang menyampaikan nasehat baik, walau dari seorang pembunuh sekalipun, harus kita ambil. Sebaliknya, jika ada yang berkata buruk, meskipun keluar dari ucapan pemuka agama, sungguh tidak layak untuk ditiru.

Keberagaman Indonesia melingkupi berbagai aspek. Budaya, adat istiadat, tradisi, tata bicara, dan tata busana. Bahkan di dalam satu agama pun, terdapat beberapa perbedaan dalam ajarannya.

Konteksnya adalah ketika televisi menjadi hal yang paling berpengaruh di kehidupan semua orang yang menontonnya. Selebritis yang tampil mengenakan baju dengan merk tertentu, keesokan harinya, baju yang ia kenakan semalam akan laris manis diburu fashionisty. Pendekar dengan jurus-jurus yang ditampakkan, adegannya akan ditiru anak-anak yang menontonnya. Pun demikian gaya-gaya unik, aneh, dan nyeleneh yang tayang di layar kaca, besar kemungkinan akan viral dan ditiru oleh penonton.

Ketika ada ustadz dan ustadzah yang menyampaikan dakwahnya di televisi, dan jutaan pasang mata menyaksikannya, akan ada hukum dan ajaran yang diterima oleh penonton. Lalu menjadi dasar dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah letak dimana harus ada kehati-hatian dalam menerima paham yang dikatakan oleh sang ustadz atau ustadzah. Pihak televisi juga harus bisa selektif dalam menayangkan tausyiah-tausyiah dari para narasumber. Harus ada standarisasi ajaran. Mengingat keberagaman masyarakat Indonesia. Tidak semua memiliki paham yang sama. Apalagi paham-paham baru sudah banyak bermunculan dan sangat meresahkan. Bukan tanpa alasan, paham baru yang hadir keluar dari ajaran islam bawaan Nabi Muhmad SAW.

Sekarang zaman semakin canggih, menengok informasi sudah semakin mudah. Semua hanya dalam satu genggaman. Banyaknya sosial media menjadikan lahan becek bagi para penyebar aliran-aliran sesat. Ini juga tidak bisa main-main menanggapinya.

Agama adalah mediator kita dalam berkomunikasi dengan Tuhan. Apabila agama sudah terkontaminasi dengan racun-racun kesesatan, niscaya menjadi putus sudah jalan kita dengan Sang Pencipta.

Youtube, bisa kita lihat ratusan ribu video ceramah agama baik secara formal, atau sekedarnya. Tanpa kita tahu riwayat pendidikan dan latar belakang si penceramah, kita sudah bisa mengambil hukum syariat dari apa yang diucapkan. Bahkan tanpa kita tahu terlebih dahulu kebenarannya. Karena memang semua bebas menjadi ustadz dan meng-upload videonya ke Youtube lalu ditonton banyak mata.

Tradisional dulu, jika kita ada persoalan syariah, kita harus menemui pemuka agama yang sudah tidak diragukan lagi kefasihannya di bidang agama, untuk mendapat jawaban. Cara lain, dengan mempelajari buku dan kitab karangan ulama besar. Dijamin keabsahannya seratus persen.

Sekarang, modal Google, apa aja yang kita cari akan muncul disertai gambarnya. Lebih mudah memang. Tapi tidak ada jaminan shohihnya. Karena sekali lagi, di internet, orang bebas menulis apa saja, berkata apa saja, menyebarkan apa saja, menghukumi apa saja, walaupun tanpa dasar dan referensi yang mumpuni. Ini sebenarnya bahaya yang mengancam. Hanya saja kita seolah tidak peduli.

Kembali ke persoalan awal tentang ustadz dan ustadzah. Maraknya channel Youtube yang ada, sekarang sudah banyak ustadz yang terkenal lewat Youtube, lalu di-reupload oleh berbagai kalangan. Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Abdul Shomad, bahkan ratusan nama sudah tidak dapat dihafal lagi. Sekali lagi, semua bebas menyampaikan ilmu dan ajarannya. Ustadz sebelah bilang ini haram, sedangkan ustadz sebelahnya lagi bilang ini hanya makruh, bahkan cenderung mubah.

Lalu hukum Syariah mana yang akan kita anut?

Wallahu a’lam.

Penulis: Ramdans Muhammad

Comments to: Syariah Dan Media Kontemporer Yang Semakin Membingungkan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau