Menurut Rafles (1817, 1:75), orang Cina dan Melayu merupakan “the life and soul commerce of the country”, nyawa dan jiwa dari perdagangan negara. Selama abad kesembilan belas sebagian besar orang berasimiliasi dengan penduduk asli. Banyak penduduk setempat tahu bahwa mereka mempunyai nenek moyang dari luar Madura.

Produk yang paling penting diekspor pada pertengahan kedua abad kesembilan belas adalah antara lain adalah gula siwalan, minyak nabati, arang dan tembakau. Produk impor yang paling penting adalah padi, jagung, dan gula tebu (Kolonial Verslag, Bilage C, No. 22).

Pedagang yang paling menonjol saat itu adalah Gema, yang pada 1865 mendirikan masjid di desa ini. Dalam laporan Kresidenan Madura, pada tahun 1920, desa Parindu disebut sebagai satu di antara desa yang paling penting di sepanjang pantai selatan.

Namun, pada tahun dua puluhan, tembakau menjadi produk ekspor yang paling penting karena meningkat dari pasar nasional dan internasional. Perdagangan tembakau jenis krosok dan rajangan dalam waktu singkat didominasi oleh dua pedagang keturunan dari Gema: Baidawi dan Umar Said.

Pada awalnya mereka membeli tembakau dari bantuan keluarganya di pasar-pasar di daerah pedalaman, yang kemudian dijual ke pasar atau pabrik di Jawa. Setelah mereka di percaya oleh pabrik rokok kretek dan perusahaan tembakau Eropa, mereka mulai membeli tembakau langsung dari petani dengan bantuan agen-agen tertentu, yang dinamakan Bandol.

Sebelum Perang Dunia Kedua mereka sudah berhasil memonopoli perdagangan tembakau antar Sumenep dan Jawa. Sesudah kemerdekaan keturunan mereka, Abdul Azis, Burhamzah, Hamid dan pendatang baru Fachruddin, mengambil kedudukan pendahulu mereka. Masing-masing mereka, yang disebut juragan oleh masyarakat, kini memiliki jaringan agen yang luas.

Tembakau dipesan oleh tauke mereka, dibeli dengan bantuan bandol setempat, yang mempunyai agen-agen mereka sendiri di daerah pedalaman. Dalam musim tembakau, juragan tersebut memberikan pekerjaan kepada ratusan penduduknya di desanya.

Cara hidup pedagang besar ini berbeda jauh dari kehidupan sehari-hari penduduk desa yang lain. Mereka termasuk penduduk pulau yang terkaya, berdiam dalam rumah yang mewah yang diperlengkapi dengan perabot modern, memiliki rumah di Jawa, dan berkendaraan mobil Mercedes yang terbaru.

Beberapa di antara mereka telah menanamkan sejumlah besar uang dalam real estate dan proyek-proyek yang menguntungkan lainnya. Keluarga juragan tersebut semuanya merupakan kerabat dan dengan perkawinan antara mereka sendiri berusaha untuk mempertahankan posisi monopoli mereka. Semua juragan adalah haji dan mereka menyumbangkan banyak uang untuk tujuan-tujuan keagamaan.

Sumber: Kuntowijoyo, Social Change in an Agrarian Society: Madura, 1850-1940.

Comments to: Wanginya Sejarah Tembakau Madura di Masa Lampau (Part 2)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login

Selamat Datang Sahabat

Dapatkan kemudahan akses konten, dan fitur tambahan. Langsung saja daftar !
Gabung Narantau